JawaPos.com – Menjelang sore, tepatnya pukul 14.00 WITA, ruang UGD Puskesmas Pringgarata, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah (Loteng), mendadak sibuk. Gelombang pasien berdatangan tiba-tiba. Mayoritas adalah siswa sekolah.
Terungkap, situasi itu terjadi akibat masalah yang kini makin marak terjadi di berbagai daerah di negeri ini, yakni gangguan kesehatan massal pasca mengonsumsi Makan Bergizi Gratis alias MBG.
Diketahui, mereka adalah para siswa dari SDN Beber, Kecamatan Batukliang, yang mengalami gangguan kesehatan pasca mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu hari itu berupa kebab, daging ayam, dan salad buah.
”Untuk korban yang dibawa ke sini ada 179 orang. Selebihnya dievakuasi ke empat lokasi, ada ke Puskesmas Bagu," sebut dr. Dessy Jumianita selaku dokter penanggung jawab.
Saking banyaknya siswa, UGD Puskesmas Pringgarata tak mampu menampung. Alhasil, sebagian di antaranya terpaksa menjalani perawatan darurat di area Kantor Kecamatan.
”Setelah tiga jam observasi mereka bisa dipulangkan," singkat Kepala Camat Pringgarata Lalu Winata Kusuma.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun, insiden dugaan keracunan MBG di Pringgarata juga terjadi di dua SDN lain. Yakni Repok Puyung dan Serambi Daya di Batukliang.
DI BOYOLALI
Hingga kemarin (11/9), insiden MBG diduga makan korban masih bermunculan. Seperti di Boyolali. Sebanyak 34 murid SMP di Kecamatan Selo dilarikan ke puskesmas pasca menyantap menu pada Kamis (10/9).
Perkembangan terakhir, tiga murid harus menjalani perawatan inap di Puskesmas Selo. Sedangkan, siswa lainnya sudah boleh pulang karena dinyatakan membaik.
”Dari tiga anak yang dirawat, dua akan segera dipulangkan. Sedangkan, yang satu masih diuji observasi," terang Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali Dwi Hari Kuncoro.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu MBG di sekolah itu disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gebyok, Kecamatan Selo. Menu sajian di hari kejadian berupa nasi putih, udang crispy saus mentega, tempe kemangi, ca pakcoy jagung, serta potongan buah melon.
Sebenarnya, kata Dwi, Disdikbud telah menginstruksikan sekolah untuk melakukan pemeriksaan fisik sebelum makanan dibagikan.
”Dari dinas dan sekolah hanya bisa mengecek secara kasat mata. Untuk kandungan di dalamnya layak atau tidak, kami tidak bisa menentukan," jelas Dwi.
Pasca insiden, respons maupun tindakan oleh Satgas MBG setempat hampir sama dengan di daerah-daerah lain. SPPG penyedia menu dihentikan sementara (suspend) untuk kepentingan evaluasi dan penyelidikan.
PERKEMBANGAN KLB DI PATI
Sementara itu, jumlah warga yang mengalami gejala kesehatan pasca mengonsumsi MBG di Kabupaten Pati terus bertambah. Hingga Jumat (11/9), Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat ada 424 orang.
Jumlah itu melonjak signifikan dari laporan pada Kamis (10/9). Saat itu, korban yang tercatat sebanyak 269 orang.
Dari seluruh korban, sebanyak 58 orang menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit. Selebihnya rawat jalan.
”Kami dan semua pihak terkait terus memantau penanganan medis bagi para korban,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo saat dikonfirmasi Jumat (11/9).
Kondisi antar pasien juga variatif. Ada yang membaik dan boleh pulang. Ada pula korban yang mengalami penambahan gejala, tapi bisa tertangani.
Di bagian lain, pasca insiden dugaan keracunan, Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Pemkab Pati memutuskan mengevaluasi 172 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Wakil Kepala BGN Trenggono mengatakan evaluasi tersebut merupakan bagian dari penguatan pengawasan sekaligus pembenahan tata kelola SPPG.
”Meski perbaikan telah dilakukan, masih dimungkinkan terdapat SPPG yang tidak menjalankan seluruh tahapan penyiapan makanan sesuai ketentuan. Ini yang harus kita evaluasi terus,” ujar Trenggono.
LANJUTAN PROGRAM
Di tengah rentetan kasus dugaan keracunan, BGN tetap menyiapkan perluasan layanan MBG ke wilayah yang dianggap memiliki kebutuhan lebih tinggi.
”Prioritas perluasan diarahkan antara lain ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta daerah dengan angka stunting tinggi,” kata Kepala BGN Sudaryono.
Sebelumnya, BGN telah mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat MBG. Mayoritas merupakan sekolah swasta bertaraf internasional, satuan pendidikan yang bekerja sama dengan institusi internasional maupun nasional, serta sekolah yang telah mandiri secara finansial. (fid/ewi/adr/lyn/ris)
Editor : HendraSumber : Jawa Pos Koran