Korban berasal dari SMPN 3 Turi sebanyak 24 orang, SMK Muhammadiyah 1 Turi 19 siswa, serta dua siswa SD Muhammadiyah Balerante.
Sekretaris Kecamatan Turi Yunan Nurtrianto mengatakan, gejala yang dialami korban muncul setelah mengonsumsi menu berupa bola-bola daging, edamame, semangka, nasi putih, serta sayur kol dan wortel. Pihaknya meminta sekolah dan wali murid tetap memantau kondisi siswa.
“Kami berikan pemahaman, karena dari Dinas Kesehatan (Dinkes) menyampaikan bahwa keracunan itu reaksinya tidak harus hari ini, bisa sampai tiga hari ke depan,” ucapnya.
Menurut Yunan, makanan tersebut dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sleman Turi Wonokerto. Dapur MBG itu juga menyuplai makanan untuk TK Indriyasana. Namun, makanan yang belum dikonsumsi langsung ditarik setelah muncul laporan dugaan keracunan.
Kepala Puskesmas Turi Dyah Arum Retnaningtyas mengatakan, korban mulai berdatangan ke IGD puskesmas sekitar pukul 09.30. Mereka langsung mendapat penanganan medis. Sebagian pasien membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, mereka diminta segera kembali ke fasilitas kesehatan jika gejala kembali muncul.
“Walaupun saat ini kondisi anak-anak baik, tapi kalau ada gejala nanti segera dibawa ke faskes,” ujarnya.
Keluhan Orang Tua
Salah seorang wali murid SMK Muhammadiyah 1 Turi, Rini Lestari, mengaku dua anak kembarnya dirawat di puskesmas setelah diduga mengalami keracunan MBG. Keduanya mengeluhkan mual dan pusing setelah menyantap bola-bola daging yang menurutnya terasa pengar dan agak amis.
“Mbok sudah dihentikan saja. Semiskin-miskinnya orang tua itu masih kuat ngasih makan anak. Daripada makan korban banyak, orang yang kerja di sana juga digaji loh,” katanya.
Hal serupa disampaikan Diyati. Anaknya mengeluh pusing dan sempat muntah sekali setelah menyantap makanan tersebut. Dia kemudian membawakan air kelapa ke sekolah sebagai langkah antisipasi.
“Awalnya saya tidak tahu, tapi di jalan kok banyak ambulans. Terus katanya ada keracunan MBG, jadi panik,” ujarnya.
Peristiwa tersebut membuat orang tua waswas. Diyati berharap kondisi anak-anak segera membaik dan kejadian serupa tidak terulang.
“Saya tidak mau menyalahkan, tapi besok bawa bekal saja lebih aman, lebih yakin,” terangnya. (del/aph)
Editor : HendraSumber : Radar Jogja, Jawa Pos Koran