JawaPos.com – Rentetan kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) masih berlanjut. Buktinya, insiden serupa muncul di daerah lain.
Tak hanya itu, peristiwa tersebut juga menyisakan trauma mendalam. Tak hanya siswa maupun orang tua, pihak sekolah juga tengah mempertimbangkan keikutsertaannya dalam program tersebut.
Terbaru, puluhan siswa di Klaten harus menjalani perawatan seusai mengonsumsi menu MBG pada Kamis (3/9). Mereka adalah siswa MIM Srebegan dan MIM Cetan.
Para siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan pencernaan mulai dari pusing, mual, hingga muntah sekitar 10 hingga 15 menit setelah mengonsumsi menu MBG hari itu. Yakni katsu filet ikan, balado tahu, oseng-oseng wortel buncis, serta buah semangka.
”Update total siswa yang mengalami gangguan kesehatan ada 64 orang. Namun sampai hari ini (kemarin, Red) tidak ada yang rawat inap. Alhamdulillah, sebagian besar anak-anak sudah kembali ke sekolah,” terang Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten Yoga Angga Pratama.
Dia menyebut operasional SPPG penyedia MBG untuk dua sekolah tersebut telah dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera selaku pengelola SPPG, Bambang Sridaya, mengaku sudah mendatangi dapur produksi. Dia menyebut seluruh proses produksi sudah sesuai standar. Namun, Bambang menyoroti adanya perubahan bahan baku pada menu ikan yang disajikan.
”Atas temuan ini, pihak yayasan akan melakukan evaluasi menyeluruh serta pembinaan,” katanya.
Terpisah, saat meninjau SPPG Kurung Ceper pada Jumat (4/9), Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengaku menemukan beberapa catatan terkait standar higienitas dan tata kelola fasilitas penyimpanan bahan makanan.
”Seperti penggunaan satu AC untuk dua ruangan berbeda, higienitas, serta alur bahan baku. Perlu dievaluasi,” katanya.
Di sisi lain, Kepala MIM Cetan Ceper Hariyanto mengonfirmasi 50 persen dari siswa yang sempat dirawat telah masuk sekolah. Namun, pascainsiden, pihak sekolah juga berencana menggelar musyawarah bersama pengurus dan wali murid terkait lanjut atau tidaknya MBG di sekolah itu.
”Kejadian ini membuat kami sedih dan menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua,” katanya.
Update Sidoarjo
Sementara itu, pemicu insiden dugaan keracunan MBG yang dialami 748 santri-siswa di Sidoarjo masih ditelusuri BGN. Lembaga itu juga telah menghentikan operasional SPPG serta mencopot kepala dapur.
”Jika ada unsur pelanggaran, hukumnya ya nanti disesuaikan. Masih kami investigasi, tersangka belum ada. Saat ini kita fokuskan dulu ke korban yang terdampak,” kata Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono seusai mengunjungi Ponpes Manbaul Hikam Desa Putat, Tanggulangin, kemarin (4/9).
Trenggono menyebut, ada sekitar 748 orang yang terdampak. Sebagian besar sudah kembali, sedangkan 22 orang masih dirawat di RSUD RT Notopuro dan delapan faskes lainnya. Kondisi mereka sudah berangsur membaik.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam Abdul Wahid Harun menegaskan, pihaknya tidak ingin kembali menerima makanan MBG dari pengelola luar. Jika pun harus lanjut, maka pengelolaan MBG diserahkan ke pesantren.
”Supaya (kejadian keracunan, red) tidak terulang, bagaimanapun unsur manusia itu kan ada,” terangnya.
Sementara itu, Plh Sekda Sidoarjo Ainur Rohman menegaskan, seluruh biaya perawatan pasien keracunan MBG ditanggung langsung BGN. Meski jumlah pasien mencapai 748 orang, pihaknya tidak menetapkan kejadian tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Update Nganjuk
Sementara itu, di Nganjuk, jumlah siswa yang harus dirawat seusai mengonsumsi MBG mencapai 127 orang. Mereka berasal dari tiga sekolah, yakni SMAN 3 Nganjuk, SLB Santi Kosala Mastrip, dan SDN Balongpacul 1.
Hingga Jumat (4/9), setidaknya masih ada 33 siswa yang harus menginap di rumah sakit/fasilitas kesehatan.
”Kami menjamin biaya pengobatan seluruh siswa. Kami akan berkoordinasi dengan BGN. Pemkab juga siap untuk meng-cover semuanya,” ujar Bupati Marhaen Djunaidi saat mengunjungi korban di RSUD Nganjuk pada Kamis (3/9) malam.
Trauma Ibu di Jombang
Sementara itu, hingga Jumat (4/9) siang, tiga dari 259 siswa korban dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh, Jombang, masih tergolek di ruang rawat inap Puskesmas Kabuh. Selang infus masih terpasang di tangan mereka.
Di sisi ranjang, para orang tua dengan setia menunggui. Di tengah suasana itu, mereka menyuarakan kekhawatirannya terhadap program MBG. Salah satunya Reni, 35, warga Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh.
Dia menceritakan keluhan anaknya, Aina Talita Zahran, seusai pulang sekolah pada Rabu (2/9).
”Sekitar pukul 17.00, Aina mulai mengalami sakit perut dan langsung buang air besar,” katanya.
Meski kondisi anaknya telah membaik, pengalaman tersebut membuat Reni khawatir jika MBG tetap diberikan tanpa evaluasi menyeluruh. Bahkan, dia berharap program MBG dihentikan.
”Kalau menurut saya sebaiknya distop saja. Tidak ada risiko seperti ini. (Kami) sudah trauma,” ucapnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Dewi Irawati, 43. Meski sudah lega karena kondisi anaknya berangsur membaik, dia khawatir dengan program MBG.
”Daripada membahayakan, ini kan korbannya kan urusannya nyawa,” tegasnya.
Dewi berharap jika program MBG dihentikan, pemerintah dapat menggantinya dengan program lain yang dinilai lebih bermanfaat. (ren/ful/riz/ang/wib/tyo/ris)
Editor : HendraSumber : Radar Jombang, Jawa Pos Koran, Radar Solo