JawaPos.com – Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di sejumlah wilayah Malang Raya dalam dua pekan terakhir. Hingga kini, belum ada kepastian kapan listrik byarpet tersebut akan berakhir.
Durasi pemadaman bervariasi, mulai 30 menit hingga tiga jam. Terbaru, pemadaman terjadi di Kecamatan Blimbing pada Rabu siang (17/6), kemudian berlanjut di sejumlah kawasan Kecamatan Sukun pada malam harinya. Masing-masing wilayah mengalami pemadaman sekitar dua jam.
Manager PT PLN (Persero) UP3 Malang Agung Wibowo mengatakan, sistem kelistrikan masih mengalami kendala operasional pada pembangkit. Karena itu, PLN menerapkan manajemen beban secara terbatas di sejumlah lokasi di Malang Raya untuk menjaga stabilitas pasokan listrik. ”Langkah tersebut perlu kami ambil untuk menjaga keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan,” ujarnya.
Agung mengaku belum dapat memastikan kapan pemadaman bergilir akan berakhir. Menurut dia, potensi pemadaman masih ada selama proses perbaikan berlangsung.
Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat, pelaku usaha, hingga sektor industri. Salah satunya dialami Mal Olympic Garden (MOG). Pusat perbelanjaan di Jalan Kawi itu sempat mengalami pemadaman listrik sekitar dua jam pada Jumat (12/6). ”Sebelumnya tidak ada pemberitahuan, langsung mati saja,” ujar Leasing Executive PT Mustika Taman Olympic.
Tutup Defisit
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui PLN masih menghadapi kekurangan pasokan batu bara sekitar 20 juta metrik ton. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah berencana merelaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara.
Wakil Menteri (Wamen) ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan, kebutuhan batu bara PLN mencapai 154 juta metrik ton. Namun, pasokan yang telah dipenuhi melalui kontrak baru sekitar 132 juta metrik ton. ”Masih ada kekurangan sekitar 20 juta metrik ton yang sedang diusahakan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah menugaskan perusahaan tambang memasok batu bara melebihi kebutuhan PLN. Dari kebutuhan 154 juta metrik ton, pemerintah telah menetapkan kewajiban pasokan sekitar 190 juta metrik ton.
Namun, realisasi penyaluran masih berada di kisaran 150–160 juta metrik ton. Sementara volume yang telah dikontrak PLN baru sekitar 134 juta metrik ton.
Menurut Bahlil, salah satu kendala utama adalah keterbatasan pasokan batu bara berkalori menengah yang dibutuhkan pembangkit listrik PLN. Di sisi lain, harga komoditas tersebut masih dibatasi melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).