Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Menembus Kabut Bromo, Perjalanan Energi yang Menghidupkan Pariwisata

Hendra • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:00 WIB
Imam Slamet mengecek Toyota Land Cruiser FJ40 miliknya di lautan pasir Bromo (29/5/2026). (Foto: Hendra/JawaPos.com)
Imam Slamet mengecek Toyota Land Cruiser FJ40 miliknya di lautan pasir Bromo (29/5/2026). (Foto: Hendra/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kabut masih menggantung tebal di kawasan Gunung Bromo ketika Imam Slamet mulai memanaskan mesin jip miliknya. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Di saat sebagian besar orang masih terlelap, pria 42 tahun itu sudah bersiap menyambut wisatawan yang ingin mengejar matahari terbit di salah satu destinasi paling ikonik di Indonesia.

Bagi Imam, rutinitas tersebut sudah dijalani selama bertahun-tahun. Warga desa Wonokerto, Kabupaten Probolinggo itu menjalani dua profesi sekaligus. Saat musim wisata ramai, dia menjadi sopir jip sekaligus pemandu wisata. Ketika wisatawan berkurang, lahan pertanian menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kalau pagi seperti ini biasanya kami sudah mulai jalan. Wisatawan ingin melihat sunrise, jadi kami harus berangkat sebelum subuh,” ujar Imam sambil mengaspal di tanjakan curam Bromo (29/5/2026).

Setiap hari, bapak dua anak ini mengantar wisatawan melintasi jalur berpasir di lautan pasir Bromo, menembus kabut dan suhu dingin yang kerap berada di bawah 10 derajat Celsius. Perjalanan itu membawa wisatawan menuju sejumlah titik favorit seperti Penanjakan, Bukit Kingkong, Seruni, hingga Kawah Bromo.

Di balik pengalaman wisata yang dinikmati ribuan pengunjung setiap tahun, terdapat satu hal yang sering luput dari perhatian: energi.

Bahan bakar yang menggerakkan jip milik Imam menjadi bagian penting dalam roda pariwisata Bromo. Tanpa pasokan energi yang terjaga, aktivitas wisata yang menghidupi ribuan warga di kawasan tersebut tidak akan berjalan optimal.

“Kalau tidak ada BBM, ya kami tidak bisa jalan. Wisatawan juga tidak bisa menikmati Bromo seperti sekarang,” jelasnya yakin.

Imam Slamet melakukan ritual saat perayaan Melasti di lautan pasir Bromo (31/5/2026). (Foto: Hendra/JawaPos.com)
Imam Slamet melakukan ritual saat perayaan Melasti di lautan pasir Bromo (31/5/2026). (Foto: Hendra/JawaPos.com)

Pariwisata Bromo tidak hanya menghidupi para sopir jip. Kehadiran wisatawan juga menggerakkan pelaku usaha homestay, warung makan, pedagang suvenir, penyedia jasa foto, hingga petani lokal yang memasok kebutuhan pangan bagi pelaku usaha wisata.

Dalam ekosistem tersebut, energi menjadi penghubung yang memungkinkan seluruh aktivitas ekonomi terus bergerak.

Imam merasakan langsung dampaknya. Pendapatan dari sektor wisata membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menopang aktivitas pertanian yang digelutinya.

“Kalau wisata ramai, tentu sangat membantu. Banyak warga di sini yang hidup dari sektor wisata,” ujarnya.

Kisah Imam menjadi gambaran bagaimana energi tidak hanya menggerakkan kendaraan, tetapi juga menghubungkan kehidupan masyarakat dengan sumber penghidupan mereka.

Imam Slamet berpose di depan Toyota Land Cruiser FJ40 miliknya di lautan pasir Bromo (29/5/2026). (Foto: Hendra/JawaPos.com)
Imam Slamet berpose di depan Toyota Land Cruiser FJ40 miliknya di lautan pasir Bromo (29/5/2026). (Foto: Hendra/JawaPos.com)

Peran Elnusa Petrofin

Dalam perspektif yang lebih luas, konektivitas energi juga berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Distribusi energi yang andal memastikan sektor pariwisata tetap berjalan, usaha masyarakat terus berkembang, dan roda ekonomi lokal berputar tanpa henti.

Selama 30 tahun, Elnusa Petrofin berperan dalam menyalurkan energi ke berbagai wilayah Indonesia melalui layanan distribusi dan logistik energi yang terintegrasi. Sebagai salah satu ujung tombak Pertamina, perusahaan turut mendukung distribusi BBM, termasuk program BBM Satu Harga, hingga ke pelosok negeri dengan mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, kesehatan kerja, dan lingkungan.

Bagi Elnusa Petrofin, energi yang disalurkan bukan sekadar komoditas, melainkan penghubung kehidupan sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Memasuki usia Perusahaan ke-30 tahun, kami melihat energi bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai konektivitas yang menggerakkan kehidupan dan masa depan bangsa,” ujar Manager Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo dalam keterangan persnya.

Petugas mengisi truk tangki Elnusa Petrofin. (Dok. Istimewa)
Petugas mengisi truk tangki Elnusa Petrofin. (Dok. Istimewa)
Di kawasan Bromo, konektivitas itu terlihat nyata setiap hari. Dari aliran energi yang menggerakkan kendaraan wisata, membuka akses ekonomi bagi masyarakat, hingga menghadirkan pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan.

Saat matahari mulai muncul dari balik pegunungan dan menerangi hamparan lautan pasir Bromo, Imam kembali tersenyum menyambut rombongan wisatawan. Bagi dirinya, perjalanan setiap pagi bukan sekadar mengantar wisatawan menikmati keindahan alam.

Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bagian dari rantai panjang energi yang menghubungkan kehidupan, menggerakkan ekonomi, dan menjaga denyut pariwisata di kaki Gunung Bromo tetap menyala.

Jip milik Imam menembus kabut pekat lautan pasit gunung Bromo, (1/6/26). (Foto: Hendra/JawaPos.com)
Jip milik Imam menembus kabut pekat lautan pasit gunung Bromo, (1/6/26). (Foto: Hendra/JawaPos.com)
Editor : Hendra
#elnusa petrofin #bromo #bbm