JawaPos.com - Pemerintah Kota Bekasi mulai memperkuat sistem keselamatan di perlintasan sebidang dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) khusus penjaga palang pintu kereta api.
Sebanyak 22 orang petugas diusulkan untuk mengikuti pelatihan guna meningkatkan profesionalitas dan standar pengamanan di lapangan.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, langkah ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh pascakecelakaan yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu.
Menurutnya, penjagaan perlintasan tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan harus didukung kemampuan teknis yang memadai.
“Penjagaan pintu kereta itu tidak bisa sembarangan, harus ada ilmunya. Kami mengusulkan 22 orang untuk mengikuti pelatihan, dengan kuota awal 16 orang, agar penjagaan lebih profesional dan sesuai standar keselamatan,” ujarnya.
Selain menyiapkan petugas terlatih, Pemkot Bekasi juga memperketat pengawasan di sejumlah titik rawan, seperti kawasan Bulak Kapal dan Ampera. Di lokasi tersebut, penjagaan sementara masih dilakukan secara manual oleh petugas Dinas Perhubungan bersama Satpol PP.
Skema manual ini akan berjalan hingga sistem pengamanan berbasis elektrikal dapat diterapkan secara menyeluruh. Pemerintah kota menilai, modernisasi sistem menjadi kebutuhan mendesak untuk meminimalisasi potensi human error di lapangan.
Tak hanya itu, perlintasan sebidang ilegal yang masih beroperasi di sejumlah wilayah, termasuk Kranji, juga menjadi perhatian. Pemkot berencana menutup akses tersebut sebagai langkah tegas untuk menekan angka kecelakaan.
“Lebih baik masyarakat memutar sedikit daripada harus menghadapi risiko kecelakaan yang bisa merenggut nyawa,”pungkasnya (rez)
Editor : Hendra