JawaPos.com– Kesempatan bekerja di luar negeri (LN) bagi calon pekerja di Indonesia terbuka lebar. Sayangnya, peluang-peluang tersebut belum dimanfaatkan maksimal.
Di tahun ini saja, sudah ada sekitar 380 ribu job order dari LN. Dari jumlah tersebut, hingga triwulan kedua ini, baru 19 persen yang diisi.
Diakui Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwi Setiawan Susanto, banyak permintaan tenaga kerja ke Indonesia. Di tahun lalu, KP2MI berhasil melakukan penempatan hingga 290 ribu pekerja migran Indonesia (PMI). Remitennya pun sangat besar, mencapai Rp 280 Triliun.
“KP2MI sebetulnya telah mengakses 100 negara. Job order bahkan mencapai 1,5 juta, tapi setelahnya prosesnya memang cukup panjang, harus punya SIP2MI (Surat Izin Perekrutan Pekerja migran Indonesia, red),” tuturnya dalam Diskusi Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil untuk Bekerja di LN melalui Penguatan CDC Perguruan Tinggi, dikutip Jumat (10/4).
Menurutnya, terjadi shifting cukup besar dalam penempatan PMI ke LN saat ini. Perubahan ini terlihat pada penempatan di tahun 2024 ke 2025. PMI tak lagi fokus pada sektor informal tapi skill worker. Misalnya, pada sektor caregiver careworker.
Dari banyaknya peluang ini, cukup disayangkan bahwa angka lulusan sarjana yang mengisi pasar global masih minim. Dari total 1.164.916 PMI (2021-2025), baru 3,1 persen yang merupakan lulusan pendidikan tinggi.
Menurut Dwi ada beberapa tantangan terkait hal ini. Selain bahasa, perlu dijelaskan kembali bahwa peluang kerja tidak selalu signifikan dengan gelar akademik.
Meski demikian, dipastikan gaji yang akan diterima akan jauh lebih besar dibanding di dalam negeri. Misalnya, untuk tukang las. Di Indonesia, pekerjaan ini seolah terlihat biasa saja dan gajinya tak jauh dari UMR. Namun, di luar negeri bisa mencapai belasan hingga puluhan juta.
“Tapi harus bersertifikat sesuai dengan standar luar negeri ya. Ini pentingnya,” paparnya.
Dia menilai, kampus memiliki peluang besar untuk bisa berkontribusi atas penyiapan ini. Career development bisa lebih dimodifikasi dengan adanya spesifikasi untuk kesempatan berkarir di LN.
“Kampus sudah punya career development tapi masih genral, masih dalam negeri. Kita butuh yang ke luar negeri, ada tambahan bahasa dan budaya, khususnya untuk soft skill,” jelasnya.
“Ada sangat banyak peluang yang bisa kita manfaatkan dengan baik. Selama ini talenta global tenaga terampil didominasi dari India. Ini saatnya kita ambil porsi yang lebih besar,” kata
Merespon hal ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan menegaskan, bahwa peluang-peluang tersebut harus ditangkap oleh perguruan tinggi. Selain dalam rangka penyaluran lulusan, tenaga terampil yang menjadi talenta global ini akan menghasilnya brain circulation yang berkontribusi menyiapkan landasan pacu bagi Indonesia Emas 2045.
Karenanya, pihaknya pun bekerja sama dengan KP2MI memperkuat Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi. “Kita mencoba menghadirkan formula yang efektif untuk memassifkan apa namanya kerja luar negeri, khususnya lulusan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Menurutnya, meski penempatan PMI cukup banyak saat ini namun sejatinya masih minim jika dibandingkan dengan beberapa negara. Seperti India dan Filipina. Oleh sebab itu, kampus didorong untuk bisa menumbuhkan semangat berkarir di LN dengan penyiapan sejak semester awal.
Editor : Hendra