Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

226 Anak Jadi Korban Kekerasan, DP3AKB Sebut Akibat Konflik dengan Orang Tua

Antara • 2026-03-11 15:43:03
Ilustrasi anak-anak. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
Ilustrasi anak-anak. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Banten mencatat sebanyak 226 anak menjadi korban kekerasan psikis sepanjang tahun 2025, yang sebagian besar dipicu oleh konflik internal dalam rumah tangga.

Kepala DP3AKB Banten, Iwan Aridiansyah Sentono, di Serang, Selasa, menjelaskan bahwa gangguan psikis pada anak sering kali berakar dari lingkungan keluarga yang tidak harmonis, terutama saat anak menyaksikan langsung pertengkaran orang tua.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA), Kota Tangerang Selatan menempati urutan tertinggi dengan 112 kasus, diikuti oleh Kota Cilegon dengan 54 kasus.

Baca Juga: 3 Shio yang Diprediksi Bakal Panen Cuan Melimpah dan Raih Terobosan Karier Terbaik di Tahun Kuda Api 2026

"Terkadang anak itu melihat pertengkaran orang tua yang terus-menerus, bahkan melihat langsung ibunya dipukul oleh ayahnya. Kondisi tersebut secara otomatis mengganggu kondisi psikis anak," ujar Iwan.

Selain faktor konflik fisik, kekerasan verbal berupa makian yang merendahkan martabat juga menjadi penyebab utama. Hal ini mengakibatkan anak mengalami loss of confidence atau kehilangan rasa percaya diri yang mendalam.

Iwan menambahkan, dampak dari trauma psikis ini biasanya tidak langsung terlihat. Orang tua umumnya baru menyadari adanya masalah setelah anak menunjukkan perubahan perilaku yang drastis, seperti menjadi sangat pendiam atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Menanggapi hal tersebut, DP3AKB Banten terus memberikan layanan pendampingan intensif bagi para korban. Fasilitas yang disediakan mencakup layanan konseling bersama psikolog profesional hingga penyediaan rumah aman bagi korban yang mengalami trauma berat.

"Pendampingan kami berikan sesuai kebutuhan pelapor. Fokus utamanya adalah memulihkan kesehatan mental anak agar mereka bisa kembali memiliki rasa percaya diri dan tumbuh dengan normal," katanya.

Baca Juga: Resep Semur Tahu Kentang yang Praktis, Cocok Jadi Menu Sahur Andalan

Editor : Hendra
#anak #online #kekerasan