Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Presiden Singgung Keretakan Elit PBNU: Pemimpin Tak Rukun, Bangsa dan Organisasi Tak Akan Kuat

Hendra Eka • Selasa, 10 Februari 2026 | 15:23 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato bernada tegas dalam Mujahadah Kubro Nahdlatul Ulama di Malang.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato bernada tegas dalam Mujahadah Kubro Nahdlatul Ulama di Malang.

JawaPos.com — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato bernada tegas dalam Mujahadah Kubro Nahdlatul Ulama di Malang, Minggu (8/2/2026). Di hadapan ribuan jamaah dan ulama, Presiden menekankan bahwa persatuan elite merupakan syarat mutlak bagi kemajuan bangsa dan organisasi keumatan.

Pernyataan tersebut dibaca banyak pihak sebagai sindiran langsung terhadap dinamika kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang belakangan kerap diwarnai friksi.

Dalam pidatonya, Presiden menegaskan peran historis NU sebagai teladan persatuan nasional. Namun, penekanan itu dibarengi peringatan keras bahwa perpecahan pemimpin selalu berujung pada pelemahan institusi.

“NU selalu memberi contoh, NU selalu berusaha untuk selalu menjaga persatuan, dan memang itulah pelajaran sejarah, tidak ada bangsa yang kuat, tidak ada bangsa yang maju, kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun, karena itu saya selalu mengajak semua unsur, mari kita bersatu,” ucap Prabowo. 

Presiden kemudian menguatkan pesannya dengan rujukan sejarah yang lebih lugas. Ia menyatakan bahwa stabilitas dan kemakmuran mustahil terwujud bila para pemimpin gagal menjaga kekompakan.

“Sejarah mengajarkan kepada kita, tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian, tidak mungkin ada perdamaian kalau pemimpin-pemimpinnya tidak bersatu, tidak rukun, tidak kompak," sambungnya.

Dua pernyataan tersebut memantik respons luas di kalangan warga NU. Sejumlah jamaah menilai pidato Presiden tidak sekadar nasihat kebangsaan, melainkan peringatan terbuka agar elite organisasi keagamaan menghentikan konflik internal dan kembali fokus pada agenda khidmah.

Mujahadah Kubro yang semestinya menjadi ruang spiritual pun berubah menjadi panggung evaluasi moral bagi para pemimpin.

Pengamat menilai, pesan Presiden menempatkan tanggung jawab persatuan secara tegas di pundak elite. Dengan menekankan rukun, kompak, dan bersatu, Presiden seolah menggarisbawahi bahwa kegaduhan internal—apa pun dalihnya—akan menggerus wibawa organisasi dan melemahkan peran strategis NU di tengah umat dan bangsa.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan persatuan para pemimpin. Namun, pesan yang tertinggal dari pidato Presiden di Malang jelas: tanpa kerukunan elite, tidak ada kekuatan institusi; tanpa persatuan pemimpin, tidak ada kemajuan yang berkelanjutan.

Editor : Hendra
#nu #Nahdlaltul Ulama #Prabowo Subianto