Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Mengapa Jepang Mengalami Krisis Populasi dan Bagaimana Dampaknya? Ini Penjelasannya

Dewi Aspara • Sabtu, 22 Februari 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi depopulasi Jepang
Ilustrasi depopulasi Jepang

JawaPos.com - Jepang menghadapi tantangan besar akibat depopulasi, yaitu penurunan jumlah penduduk secara signifikan sejak 2008 silam. Tentunya hal ini sangat berdampak luas, terutama pada perekonomian dan struktur sosial Jepang. 

Pada tahun 2022, populasi Jepang tercatat sekitar 125 juta, dan diproyeksikan akan terus menurun hingga hanya 63 juta pada 2100. Depopulasi dapat menyebabkan kekurangan tenaga kerja produktif, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, banyak daerah pedesaan mulai ditinggalkan karena urbanisasi, menyebabkan desa-desa kosong. Lalu, alasan apa yang menjadikan Jepang mengalami penurunan jumlah penduduk yang signifikan? Berikut ulasannya, dikutip dari laman EastAsiaForum, Jumat (20/2). 

Baca Juga: Kepala Pengawas Nuklir PBB Kunjungi Jepang, Tinjau Fasilitas Penyimpanan Tanah Terkontaminasi Fukushima

Penyebab Utama Depopulasi

Tingkat kelahiran di Jepang menurun drastis, dari 9,5 kelahiran per 1.000 wanita pada tahun 2000 menjadi hanya 6,8 per 1.000 pada 2020. Kombinasi antara penurunan kelahiran dan harapan hidup yang tinggi mengakibatkan populasi yang semakin menua. 

Proporsi penduduk yang berusia di atas 65 tahun akan meningkat. Sebaliknya, jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) turun ke angka 59,4% pada 2022, dan diperkirakan akan turun menjadi 51,1% pada 2100.

Salah satu alasan utama penurunan populasi Jepang adalah biaya ekonomi yang tinggi untuk memiliki dan membesarkan anak. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, hal ini menjadi masalah yang lebih akut, karena banyak pekerja dengan status non-reguler yang memperoleh pendapatan lebih rendah. 

Rata-rata pendapatan rumah tangga yang dipimpin oleh pekerja non-reguler hanya sekitar 60% dari rumah tangga yang dipimpin oleh pekerja reguler. Ini mencerminkan ketimpangan pendapatan yang semakin lebar di Jepang.

Selain itu, perubahan gaya hidup juga turut berkontribusi. Di masa lalu, banyak pasangan menikah sebelum usia 30 dan langsung memiliki anak. Namun, kini banyak orang yang lebih fokus pada karier atau aspirasi pribadi mereka.

Dampak Depopulasi terhadap Ekonomi

Penurunan jumlah penduduk dan menurunnya jumlah pekerja usia produktif tentu berdampak besar pada ekonomi Jepang. Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang diperkirakan akan menurun seiring dengan menurunnya jumlah penduduk yang bekerja, kecuali ada peningkatan produktivitas yang besar. 

Kekurangan tenaga kerja sudah mulai terasa di berbagai sektor, dengan semakin banyak usaha kecil dan menengah yang tutup karena kekurangan penerus. Sektor-sektor yang memberikan layanan sosial seperti guru, dokter, dan perawat juga menghadapi kekurangan tenaga kerja yang signifikan.

Dampak ekonomi ini terasa lebih besar di daerah pedesaan, di mana banyak desa yang kehilangan penduduknya yang lebih muda. Tanpa ada perubahan signifikan, standar hidup masyarakat Jepang dapat menurun.

Upaya Pemerintah Jepang Menghadapi Depopulasi

Pemerintah Jepang sudah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini. Pada Juni 2023, Perdana Menteri Fumio Kishida meluncurkan strategi "Arah Strategi untuk Masa Depan Anak-anak" untuk menghentikan penurunan jumlah kelahiran. 

Program ini mencakup pemberian bantuan finansial bagi pasangan muda untuk membesarkan anak, serta peningkatan tunjangan anak dan dukungan ekonomi untuk pendidikan tinggi. Meskipun demikian, pendanaan untuk rencana ini akan menjadi tantangan besar mengingat utang negara Jepang yang sangat besar.

Bahkan, dalam sebuah panel yang terdiri dari 28 anggota yang berasal dari sektor bisnis dan akademisi, telah mengajukan proposal berjudul "Visi Populasi 2100" untuk mengatasi populasi tersebut. 

Salah satu saran dalam proposal itu adalah menerima lebih banyak pekerja asing, terutama yang memiliki keterampilan tinggi, untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas.

Baca Juga: HYBE Perluas Jangkauan Global dengan 'Rebranding' di Jepang dan Masuk Pasar Amerika Latin

Editor : Candra Mega Sari
#Depopulasi #Penurunan Populasi #jepang