Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Efek Ponsel-Medsos Belum Sesuai Harapan, Separo Warga AS Mengaku Kecanduan Gadget dan Berdampak Kesehatan Mental

Hendra Eka • Senin, 2 Desember 2024 | 20:00 WIB

 

Ilustrasi seorang perempuan sedang memegang ponselnya. (Dok. iStock/AsianVision/GettyImages)
Ilustrasi seorang perempuan sedang memegang ponselnya. (Dok. iStock/AsianVision/GettyImages)

JawaPos.com – Lebih dari tiga dekade lalu, pendiri Apple Computer, Steve Jobs, menyebut komputer pribadi sebagai ’’sepeda untuk pikiran’’. Namun, perkembangan teknologi seperti ponsel pintar dan media sosial justru membawa dampak yang lebih kompleks dan sering kali negatif.

Kala itu, pernyataan Steve Jobs mencerminkan keyakinannya bahwa teknologi dapat mempercepat pemikiran dan mendorong kreativitas manusia. Namun, seiring perkembangan zaman, situasinya berbeda.

Riset menunjukkan bahwa rata-rata orang AS menghabiskan lebih dari empat jam sehari menatap ponsel pintar mereka. Lebih dari separonya mengaku kecanduan. Bahkan, pada Mei 2023, Surgeon General AS melaporkan dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja sebagai ’’krisis kesehatan masyarakat’’.

’’Kita melihat ketidaksesuaian antara perhatian manusia dan tujuan awal penggunaan perangkat digital,’’ ujar Royce Branning, CEO Clearspace, seperti dilansir dari Fortune. Meskipun ini tantangan besar, Branning percaya solusi bisa ditemukan dalam teknologi itu sendiri. ’’Masalah ini muncul dari dunia digital, maka solusinya juga harus datang dari teknologi digital,’’ lanjutnya.

Fenomena itu, yang disebut ketidaksesuaian perilaku, sudah terjadi sebelumnya. Misalnya, kasus obesitas akibat makanan olahan atau kebiasaan belanja berlebih akibat kemudahan akses kredit.

Namun, di sisi lain, ada dampak positif. Keberhasilan kampanye penurunan angka perokok di Amerika Serikat –dari 40 persen menjadi 12 persen– memberikan harapan bahwa perubahan besar bisa terwujud melalui pendekatan yang tepat.

’’Kampanye antirokok mengajarkan pentingnya kombinasi pendidikan publik, regulasi yang tegas, perubahan budaya, dan inovasi teknologi,’’ jelas Branning. ’’Prinsip yang sama bisa diterapkan untuk menghadapi tantangan kecanduan digital,’’ lanjutnya.

Baca Juga: Remaja Australia di Bawah 16 Tahun Dilarang Gunakan Media Sosial, Platform yang Melanggar Didenda Rp 516 Miliar

Dia menambahkan, teknologi harus digunakan sebagai solusi untuk mengurangi dampak negatif perangkat digital.

Namun, Branning mengingatkan bahwa teknologi baru seperti Large Language Models (LLM) atau model bahasa besar, realitas virtual, dan Brain-Computer Interfaces (BCI) akan semakin mempercepat interaksi manusia dengan perangkat. Tanpa pengelolaan yang baik, teknologi itu berpotensi memperburuk eksploitasi perhatian manusia.

Branning pun menawarkan empat pendekatan. Yakni, memanfaatkan teknologi canggih untuk melindungi perhatian, menerapkan moderasi daripada melarang teknologi sepenuhnya, mendorong konsumsi konten yang bermanfaat, serta menggantikan kebiasaan buruk dengan aktivitas yang lebih produktif dan bermakna. (din/c7/bay)

Baca Juga: CEO Meta Mark Zuckerberg: Ponsel Akan Tergusur Kacamata Pintar pada 2030, Diprediksi Bisa Kerjakan Tugas yang Kompleks

Editor : Hendra
#masyarakat #kesehatan mental #media sosial #ponsel