JawaPos.com - Pemerintah menjamin materi pelajaran matematika di TK tidak akan bikin mumet karena berorientasi pada kegiatan bermain. Tapi, ada yang mengingatkan kebijakan itu bisa membuat anak-anak malah membenci matematika.
Keterampilan atau logika dasar matematika sebenarnya sudah masuk ke ruang-ruang kelas taman kanak-kanak jauh sebelum Presiden Prabowo Subianto memintanya untuk diajarkan. Lewat nyanyian, permainan tradisional, atau alat peraga.
TK Sekolah Cikal Surabaya memilih melakukannya lewat lagu, juga melalui media visual. ”Fokus belajarnya pada keterampilan dasar logika matematika. Misalnya, memahami perbandingan, pola urutan bentuk atau warna, atau pengelompokan berdasarkan ciri-ciri yang sama,” kata Kepala TK-SD Sekolah Cikal Mohammad Rizky Satria kepada Jawa Pos (1/11).
Di TK Negeri Pembina Kota Semarang, pengenalan numerasi juga memakai metode bernyanyi dan permainan tradisional. ”Dengan bermain Sunda Manda, lalu dakon atau congklak, itu kan matematika. Mereka dalam menjalankan dakon itu kan sambil berhitung,’’ jelas Kepala TKN Pembina Sri Mulyani kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Begitu pula di TK Al-Jihad Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Ada nyanyinya, ada lombanya, ada alat peraganya.
”Contohnya, kalau mau mengajarkan dasarnya aja 1 tambah 1, harus dikenalkan dengan bantuan benda. Pakai pensil 1, dibilangin juga ke anaknya angka 1 seperti pensil. Jadi, anaknya kebayang dulu kalau 0 seperti telur, angka 1 seperti pensil, terus kita ajukan-ajukan pertanyaan biar eksplorasi sendiri sampai 10,’’ kata Lilis Kholilah, kepala TK Al-Jihad Padalarang, kepada Radar Bandung.
Intinya, memang harus ada unsur permainan. Sebab, TK masih mengutamakan masa bermain.
”Jadi, matematika itu diberikan dengan bermain eksplorasi dan metode Montessori, yaitu metode pendidikan yang menekankan pada kebebasan anak untuk belajar secara mandiri. Metode mengajar ini sesuai dengan perkembangan anak,” ujar Kepala TK Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya Winda Astutik.
Orientasi Bermain
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meminta masyarakat tak gusar soal rencana pemerintah memasukkan pelajaran matematika ke jenjang TK. Dia memastikan materinya tidak rumit.
Mu’ti mengatakan, pembelajaran akan lebih berorientasi pada kegiatan bermain, bukan yang membebani. Menurutnya, pembelajaran matematika di TK tidak dirancang untuk membuat anak-anak ”mumet’’.
”TK itu kan main-main, jadi matematikanya matematika yang main-main. Karena prinsip di TK itu ya main sambil belajar,” tuturnya.
Rencananya, anak-anak ini akan dikenalkan pada konsep dasar matematika seperti pengenalan bilangan hingga perkalian. Tapi, disajikan dengan cara bermain.
”Misal, ada lima wartawan. Itu kan matematika. Lalu, satu wartawan media cetak, satu TV, itu kan matematika, tapi itu sambil main,’’ ungkapnya, menggambarkan bagaimana konsep-konsep sederhana dapat diperkenalkan melalui permainan.
Selain itu, dalam pembelajaran matematika nanti turut disisipkan penanaman nilai-nilai sosial. Misalnya, ketika seorang anak memiliki satu roti, tapi ada tiga temannya yang tidak punya. Lalu, anak diajari bagaimana cara membaginya.
Mu’ti menekankan perbedaan pendekatan antara TK dan sekolah dasar (SD). Di TK, konsep dasarnya adalah bermain sambil belajar. Beda dengan SD yang lebih pada belajar sambil bermain.
Baca Juga: Kuasai Ujian dengan 20 Contoh Soal dan Jawaban PAS/UAS Matematika Kelas 7 SMP/MTs Kurikulum 2013
Tidak Sederhana
Pandangan berbeda disampaikan Wakil Ketua NU Circle sekaligus founder Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) Ahmad Rizali. Dia tidak sepakat jika calistung (baca tulis hitung) diajarkan secara ugal-ugalan di jenjang TK.
Bahkan, dalam bentuk yang paling sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan. Apalagi sampai ke perkalian dan pembagian. Dia menilai itu tidak sederhana bagi anak-anak usia TK. ”Itu ngawur. Kenal angka saja belum. Dan angka itu abstrak,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos.
Nanang, sapaan akrabnya, menekankan bahwa matematika harus diajarkan di TK sesuai pertumbuhan atau usia perkembangan kognisi anak. Tidak hanya memaksakan sesuai keinginan orang dewasa. Efeknya bisa fatal kalau hal ini tetap dipaksakan.
Anak, lanjut dia, bisa stres dan membenci matematika sejak awal, bahkan bisa jadi malah semakin ”bodoh’’. Meski matematika ini dikenalkan dengan cara yang disebut-sebut menyenangkan.
”Menyenangkan tetapi tidak match dengan perkembangan kognitif otaknya, apa untungnya? SD/MI juga dipaksa dan stres semua, termasuk gurunya. Jelas merusak pertumbuhan nalar mereka,” keluhnya.
Terpisah, pakar pendidikan Darmaningtyas mengungkapkan, kebijakan memasukkan mata pelajaran matematika ke jenjang TK sebetulnya bisa diperdebatkan. Menurutnya, jika melihat pertumbuhan anak saat ini yang penuh gizi, pertumbuhan kognisinya juga lebih cepat. Sehingga tidak bisa disamakan dengan anak-anak masa lalu.
”Jadi kalau matematikanya tidak rumit, ya tidak masalah,” ungkapnya.
Sehingga, tambahnya, pembelajaran lebih pada kerangka berpikir matematis. Yakni, logis dan sistematis serta berorientasi pada penalaran dan pemecahan masalah.
Diakuinya, pada kebijakan sebelumnya, memang TK hanya untuk bermain. Tapi realitasnya, lulusan TK banyak yang sudah bisa baca tulis. Sebab, guru-guru SD cenderung akan memilih calon murid baru kelas I SD yang sudah bisa baca tulis. Akhirnya, semua TK yang lulusannya bisa menghasilkan anak-anak yang bisa baca tulis pasti akan diserbu peminat. ’’Jadi, apa yang ditentukan dalam kebijakan dengan yang terjadi di lapangan berbalik 180 derajat,” ungkapnya.
Bagi Wulan Nurrahmi, yang terpenting pemerintah mengkaji benar sebelum mengambil keputusan resmi soal pengajaran matematika di TK. ’’Bagi saya sebagai orang tua, kebijakan di bidang pendidikan tetap memperhatikan sisi positif bagi tumbuh kembang anak,’’ kata orang tua murid di TK Al-Jihad Padalarang itu. (mia/ata/ifa/ayu/ata/kro/dur/c6/ttg)