JawaPos.com - Persahabatan adalah salah satu hubungan yang paling berharga dalam kehidupan. Teman dapat menjadi tempat berbagi cerita, memberikan dukungan emosional, hingga membantu kita melewati masa-masa sulit.
Namun, tidak semua hubungan pertemanan berjalan secara seimbang. Ada kalanya seseorang merasa menjadi satu-satunya pihak yang berusaha mempertahankan hubungan, sementara teman yang lain tampak tidak peduli. Kondisi ini dikenal sebagai persahabatan satu sisi (one-sided friendship).
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (14/7), menurut psikologi, hubungan yang sehat dibangun atas dasar timbal balik atau reciprocity. Artinya, kedua belah pihak sama-sama memberikan perhatian, waktu, dukungan, dan rasa peduli. Jika hanya satu orang yang terus berkorban, hubungan tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan emosional, rasa kecewa, hingga menurunkan harga diri.
Lalu, bagaimana mengetahui apakah persahabatanmu sudah menjadi hubungan satu sisi? Berikut lima tandanya beserta cara memperbaikinya menurut psikologi.
Baca Juga: 9 Ucapan yang Sering Keluar dari Orang Tidak Kompeten Menurut Psikologi
1. Kamu Selalu Menjadi Orang yang Menghubungi Terlebih Dahulu
Pernahkah kamu menyadari bahwa hampir setiap percakapan selalu dimulai olehmu? Mulai dari mengirim pesan, mengajak bertemu, hingga sekadar menanyakan kabar, semuanya berasal darimu. Sementara temanmu hampir tidak pernah mengambil inisiatif.
Dalam psikologi hubungan interpersonal, komunikasi yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Ketika hanya satu orang yang terus memulai interaksi, hubungan menjadi tidak seimbang. Lama-kelamaan, kamu bisa merasa tidak dihargai karena seolah keberadaanmu hanya penting ketika kamu yang mencari mereka.
Namun, penting juga untuk memahami bahwa setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Ada orang yang memang kurang aktif menghubungi orang lain, tetapi tetap peduli ketika diajak berbicara.
Cara memperbaikinya:
Cobalah berhenti menghubungi temanmu selama beberapa waktu dan lihat apakah ia berinisiatif menghubungimu. Jika tidak, bicarakan perasaanmu dengan jujur tanpa menyalahkan. Gunakan kalimat seperti, "Aku merasa akhir-akhir ini aku yang selalu memulai komunikasi. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu tentang persahabatan kita."
Komunikasi yang terbuka sering kali membantu menghilangkan kesalahpahaman sebelum hubungan semakin renggang.
2. Temanmu Hanya Datang saat Membutuhkan Bantuan
Salah satu tanda paling jelas dari persahabatan satu sisi adalah ketika teman hanya muncul saat membutuhkan sesuatu. Misalnya meminjam uang, meminta bantuan mengerjakan tugas, membutuhkan tumpangan, atau sekadar mencari tempat curhat ketika sedang bermasalah.
Namun setelah kebutuhannya terpenuhi, ia kembali menghilang dan sulit dihubungi.
Psikologi menyebut pola seperti ini sebagai hubungan yang bersifat transaksional. Hubungan lebih banyak didasarkan pada manfaat daripada ikatan emosional yang sehat.
Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat satu pihak merasa dimanfaatkan dan kehilangan energi emosional.
Cara memperbaikinya:
Belajarlah menetapkan batasan (boundaries). Tidak semua permintaan harus kamu penuhi. Menolak sesekali bukan berarti menjadi teman yang buruk.
Jika teman benar-benar menghargai hubungan kalian, ia akan memahami batasan tersebut. Sebaliknya, jika ia marah ketika kamu tidak bisa membantu, mungkin hubungan itu memang lebih banyak menguntungkannya daripada dirimu.
3. Kamu Selalu Menyesuaikan Diri dengan Keinginan Teman
Apakah kamu sering mengalah soal tempat bertemu, waktu, atau aktivitas hanya agar temanmu merasa nyaman?
Sesekali mengalah adalah hal yang wajar. Namun jika hampir semua keputusan selalu mengikuti keinginan temanmu, sementara kebutuhanmu diabaikan, hubungan tersebut mulai kehilangan keseimbangan.
Menurut psikologi sosial, hubungan yang sehat memberi ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan kebutuhan masing-masing. Ketika seseorang terus mengorbankan dirinya demi menjaga hubungan, ia berisiko mengalami kelelahan emosional (emotional exhaustion).
Cara memperbaikinya:
Mulailah mengungkapkan pendapatmu. Misalnya, jika biasanya selalu mengikuti pilihan teman, cobalah mengusulkan tempat atau aktivitas yang kamu sukai.
Perhatikan responsnya. Teman yang baik akan berusaha berkompromi, bukan memaksakan kehendaknya.
Hubungan yang sehat dibangun melalui saling menghargai, bukan hanya satu pihak yang terus beradaptasi.
Baca Juga: 10 Ucapan yang Tanpa Sadar Jadi Tanda Hubungan Mulai Retak Menurut Psikologi
4. Dukungan Emosional Tidak Pernah Berbalas
Saat temanmu mengalami masalah, kamu selalu siap mendengarkan, memberikan semangat, bahkan meluangkan waktu untuk menemaninya.
Namun ketika kamu sedang mengalami kesulitan, ia tampak tidak peduli atau bahkan mengalihkan pembicaraan kepada dirinya sendiri.
Dalam psikologi, dukungan emosional merupakan salah satu fondasi hubungan yang berkualitas. Tidak harus selalu mampu memberikan solusi, tetapi kehadiran, empati, dan kesediaan mendengarkan sangat penting.
Jika hubungan hanya berpusat pada kebutuhan emosional satu orang, kamu akan merasa kesepian meski memiliki teman.
Cara memperbaikinya:
Cobalah lebih terbuka mengenai kebutuhan emosionalmu. Tidak semua orang sadar bahwa sikapnya membuat orang lain merasa diabaikan.
Namun jika setelah beberapa kali mencoba berkomunikasi tidak ada perubahan, mungkin kamu perlu mempertimbangkan apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan.
5. Kamu Sering Merasa Lelah Setelah Bertemu Dengannya
Persahabatan yang sehat umumnya membuat seseorang merasa lebih tenang, didukung, dan diterima.
Sebaliknya, jika setiap selesai bertemu kamu justru merasa lelah, kecewa, atau tidak dihargai, itu bisa menjadi sinyal adanya ketidakseimbangan dalam hubungan.
Psikologi menjelaskan bahwa hubungan yang terus-menerus menguras energi emosional dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan memengaruhi kesehatan mental jika berlangsung dalam waktu lama.
Perasaan lelah bukan berarti kamu tidak menyukai temanmu, tetapi tubuh dan pikiranmu sedang memberi sinyal bahwa hubungan tersebut membutuhkan evaluasi.
Cara memperbaikinya:
Luangkan waktu untuk merefleksikan hubungan tersebut. Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah aku merasa dihargai?
Apakah hubungan ini membuatku berkembang?
Apakah aku bisa menjadi diriku sendiri di dekatnya?
Apakah kami sama-sama berusaha mempertahankan persahabatan ini?
Jika sebagian besar jawabannya "tidak", menjaga jarak sementara bisa menjadi langkah yang sehat.
Mengapa Persahabatan Bisa Menjadi Satu Sisi?
Ada berbagai faktor yang menyebabkan hubungan menjadi tidak seimbang, antara lain:
Perbedaan gaya komunikasi.
Kesibukan yang membuat salah satu pihak kurang hadir.
Kepribadian yang lebih pasif.
Kurangnya kesadaran akan kebutuhan emosional orang lain.
Hubungan yang sejak awal terbentuk karena saling membutuhkan, bukan saling menghargai.
Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa temanmu tidak peduli. Komunikasi tetap menjadi langkah pertama sebelum mengambil keputusan.
Kapan Sebaiknya Mengakhiri Persahabatan?
Menurut psikologi, mengakhiri hubungan bukanlah kegagalan. Ada kalanya menjaga kesehatan mental lebih penting daripada mempertahankan hubungan yang terus menyakiti.
Pertimbangkan untuk menjauh apabila:
Kamu selalu merasa dimanfaatkan.
Temanmu terus meremehkan atau merendahkanmu.
Ia tidak menghormati batasan yang sudah kamu buat.
Komunikasi yang jujur tidak pernah menghasilkan perubahan.
Hubungan tersebut lebih banyak menimbulkan stres daripada kebahagiaan.
Mengakhiri hubungan yang tidak sehat dapat membuka ruang bagi hadirnya pertemanan yang lebih positif dan saling menghargai.
Kesimpulan
Persahabatan yang sehat tidak menuntut kedua orang untuk selalu sempurna, tetapi membutuhkan usaha yang seimbang. Jika kamu merasa selalu menjadi pihak yang memberi, sementara temanmu hanya menerima, jangan abaikan perasaan tersebut.
Lima tanda persahabatan satu sisi menurut psikologi meliputi selalu menjadi pihak yang menghubungi lebih dulu, teman hanya datang saat membutuhkan bantuan, selalu mengalah, dukungan emosional yang tidak berbalas, serta merasa lelah setelah berinteraksi. Kabar baiknya, banyak hubungan dapat diperbaiki melalui komunikasi yang jujur, penetapan batasan yang sehat, dan kesediaan kedua belah pihak untuk berubah.
Pada akhirnya, persahabatan yang berkualitas adalah hubungan yang membuat kedua orang merasa dihargai, didengar, dan bertumbuh bersama, bukan sekadar bertahan karena salah satu terus berjuang sendirian.
Baca Juga: 7 Kebohongan Kecil yang Bikin Hubungan Lebih Sehat dan Harmonis Menurut Psikologi
Editor : Candra Mega Sari