7 Kebohongan Kecil yang Bikin Hubungan Lebih Sehat dan Harmonis Menurut Psikologi

JawaPos.com - Hubungan yang sehat sering kali dikaitkan dengan satu prinsip utama: kejujuran. Sejak kecil kita diajarkan bahwa pasangan yang baik adalah pasangan yang selalu berkata jujur. Namun, benarkah setiap kejujuran harus diucapkan tanpa filter?
Psikologi modern menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Dalam hubungan romantis, tidak semua kebohongan bersifat merusak. Ada jenis kebohongan tertentu yang justru berfungsi sebagai "pelumas sosial" (social lubricant), yaitu membantu menjaga keharmonisan, mengurangi konflik yang tidak perlu, dan melindungi perasaan pasangan.
Tentu saja, ini bukan berarti kebohongan besar seperti perselingkuhan, manipulasi keuangan, atau menyembunyikan fakta penting bisa dibenarkan. Yang dimaksud adalah kebohongan kecil yang bertujuan menjaga hubungan, bukan mengambil keuntungan pribadi.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (21/7), terdapat tujuh kebohongan tak terduga yang menurut psikologi justru dapat membantu hubungan tetap sehat jika dilakukan dengan niat yang tepat.
1. "Aku Baik-Baik Saja"
Sekilas, kalimat ini terdengar seperti bentuk ketidakjujuran. Padahal dalam banyak situasi, seseorang memang membutuhkan waktu untuk memproses emosinya sebelum mampu berbicara dengan tenang.
Misalnya, setelah terjadi pertengkaran kecil, seseorang mungkin berkata, "Aku baik-baik saja," bukan karena tidak sedih, tetapi karena ia belum siap membahas masalah tersebut.
Dalam psikologi, kemampuan mengatur emosi sebelum berdiskusi disebut emotional regulation. Menunda pembicaraan hingga emosi lebih stabil sering kali menghasilkan komunikasi yang jauh lebih sehat dibandingkan melampiaskan kemarahan saat itu juga.
Namun, kebohongan ini hanya sehat jika bersifat sementara. Setelah emosi mereda, pasangan tetap perlu membicarakan apa yang sebenarnya dirasakan.






