JawaPos.com – Parasit pada kucing dapat menimbulkan masalah serius jika tidak dicegah sejak awal karena dapat mengganggu kesehatan kucing dan beresiko menular ke manusia. Kondisi ini penting dipahami agar tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan tepat dan teratur.
Parasit pada kucing adalah organisme pengganggu berupa cacing, kutu, caplak, atau protozoa yang hidup di dalam tubuh atau di permukaan kulit kucing.
Menurut Nick Roman, DVM, MPH, dari Klinik Kucing College Station, pengendalian parasit rutin adalah kunci mencegah penyebaran penyakit yang bisa mengancam kucing maupun manusia.
Pemahaman mengenai parasit sangat penting karena beberapa jenis dapat menimbulkan infeksi berbahaya baik bagi hewan maupun manusia di sekitarnya.
Berikut 7 fakta penting tentang parasit pada kucing yang wajib dipahami untuk menjaga kesehatan dilansir dari laman Msd Vet Manual, Minggu (31/8):
1. Cacing Usus Paling Umum Menyerang
Cacing gelang, cacing tambang, dan cacing pita merupakan parasit internal yang sering menyerang sistem pencernaan. Penularannya bisa melalui kotoran atau dari induk ke anak kucing.
Infeksi cacing dapat menyebabkan muntah, diare, penurunan berat badan, dan perut buncit. Kasus berat bahkan dapat mengancam nyawa bila tidak segera ditangani.
Lakukan pemeriksaan tinja setidaknya 1 kali setahun. Anak kucing dan kucing liar perlu diuji lebih sering karena risiko paparan lebih tinggi.
2. Protozoa Menyebabkan Infeksi Berulang
Protozoa adalah parasit bersel tunggal yang dapat menyerang usus maupun darah kucing. Infeksi ini menimbulkan gejala seperti diare berkepanjangan atau lemas berkepanjangan.
Beberapa jenis protozoa sulit dideteksi tanpa pemeriksaan laboratorium. Kondisi ini dapat menular antar kucing, terutama dalam lingkungan dengan banyak hewan.
Jaga kebersihan lingkungan dan segera bawa kucing ke dokter hewan jika diare berlangsung lama. Pemberian obat antiparasit sesuai resep biasanya diperlukan.
3. Kutu Menginfeksi Kulit dan Bulu
Kutu adalah parasit eksternal yang paling sering ditemukan pada kucing. Parasit ini menyebabkan rasa gatal, kerontokan bulu, serta infeksi kulit sekunder.
Dalam kasus parah, kutu dapat memicu anemia pada kucing kecil atau lemah. Siklus hidup kutu juga sulit dihentikan tanpa pengobatan berulang.
Gunakan obat antiparasit spot-on atau tablet sesuai anjuran dokter hewan. Bersihkan karpet, tempat tidur, dan area bermain kucing secara rutin untuk menghentikan siklus kutu.
4. Caplak Membawa Penyakit Berbahaya
Caplak menempel pada kulit kucing untuk mengisap darah dan bisa menjadi vektor penyakit serius. Parasit ini sering ditemukan pada kucing yang keluar rumah atau tinggal di area dengan rumput tinggi.
Infeksi caplak dapat menimbulkan luka, iritasi, dan infeksi sekunder. Penanganan dini sangat penting karena caplak dapat membawa bakteri berbahaya.
Periksa tubuh kucing secara berkala, terutama setelah keluar rumah. Segera lepaskan caplak dengan alat khusus agar tidak tertinggal di kulit.
5. Cacing Jantung Dapat Menyerang Sistem Peredaran Darah
Cacing jantung adalah parasit yang lebih jarang ditemukan pada kucing, tetapi dampaknya sangat serius. Parasit ini menyerang jantung dan pembuluh darah, menyebabkan batuk kronis, kesulitan bernapas, hingga gagal jantung.
Penularan biasanya melalui gigitan nyamuk. Diagnosis sering membutuhkan pemeriksaan darah atau pencitraan.
Gunakan obat pencegah cacing jantung sesuai rekomendasi dokter hewan di daerah endemik. Pencegahan lebih aman dibanding pengobatan yang sering berisiko tinggi.
6. Risiko Zoonosis Harus Diwaspadai
Beberapa parasit kucing juga dapat menginfeksi manusia. Salah satu yang terkenal adalah Toxoplasma gondii, penyebab toksoplasmosis. Infeksi ini dapat ditularkan melalui kotoran kucing yang terinfeksi.
Risiko lebih tinggi pada ibu hamil, anak-anak, serta individu dengan sistem imun lemah. Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan dan konsultasi medis bila ada risiko paparan.
Gunakan sarung tangan saat membersihkan litter box. Cuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan kotoran kucing.
7. Pencegahan Lebih Baik daripada Pengobatan
Mencegah parasit lebih mudah dilakukan dibanding mengobati infeksi yang sudah terjadi. Pemeriksaan rutin ke dokter hewan dapat mendeteksi parasit sejak awal.
Obat antiparasit dapat diberikan sesuai jadwal untuk melindungi kucing sepanjang tahun. Lingkungan bersih juga mendukung kesehatan kucing dan menekan penyebaran parasit.
Bersihkan litter box setiap hari untuk mengurangi risiko penularan. Lakukan desinfeksi area bermain kucing secara berkala.
Pengendalian parasit pada kucing tidak hanya menjaga kesehatan hewan, tetapi juga melindungi manusia dari risiko infeksi. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah