JawaPos.com - Di era digital saat ini, media sosial telah berevolusi dari sekadar platform berbagi informasi menjadi arena pencarian validasi bagi sebagian orang. Tanpa disadari, banyak individu menggantungkan harga diri mereka pada jumlah like, komentar, atau pengakuan dari orang lain di dunia maya.
Psikologi telah mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian tertentu yang menunjukkan kecenderungan seseorang dalam mengejar validasi di media sosial, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.
Dilansir dari Laman Geediting.com, berikut adalah tujuh ciri kepribadian utama orang yang selalu mengejar validasi di media sosial, menurut sudut pandang psikologi:
1. Pencari Persetujuan
Orang yang mengejar validasi di media sosial sering kali memiliki kebutuhan kuat akan persetujuan dari orang lain. Mereka cenderung mengukur harga diri berdasarkan jumlah suka, komentar, atau share yang mereka terima dari setiap unggahan. Kesuksesan sebuah postingan sangat berkaitan langsung dengan rasa percaya diri mereka. Perilaku mencari persetujuan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mengunggah selfie sempurna, peristiwa hidup yang diatur sedemikian rupa, hingga kebutuhan terus-menerus untuk membagikan setiap momen dalam hidup mereka.
2. Pemain Permainan Perbandingan
Seorang pencari validasi sosial akan selalu membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus di media sosial. Foto liburan mereka harus lebih eksotis, gambar makanan harus lebih menggugah selera, dan peristiwa hidup harus lebih berkesan dibanding orang lain. Bahayanya terletak pada bagaimana mereka membiarkan perbandingan ini mendikte kebahagiaan dan rasa pencapaian mereka. Jebakan perbandingan ini bisa membuat seseorang terobsesi dan mengaburkan batas antara penggunaan media sosial yang sehat dengan pencarian validasi yang berlebihan.
3. Pembagi Berlebihan (Over-sharer)
Pencari validasi sosial sering kali mendokumentasikan setiap momen dalam hidup mereka di story atau feed, tanpa memahami batasan berbagi yang sehat. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang yang sering mem-posting tentang rutinitas harian mereka di media sosial justru lebih mungkin merasa terisolasi secara sosial. Kebutuhan konstan akan validasi dapat menciptakan semacam 'kesepian digital' yang paradoks. Perilaku berbagi berlebihan ini sering kali menunjukkan kebutuhan mendasar akan validasi dan perhatian yang keliru diartikan sebagai konektivitas dan rasa memiliki di dunia media sosial.
4. Pencari Kesempurnaan
Para pencari kesempurnaan menempatkan tekanan luar biasa pada diri mereka untuk menampilkan versi ideal dari kehidupan mereka ke dunia online. Mereka secara teliti mengedit dan memfilter realitas mereka agar sesuai dengan cetakan "sempurna" yang mereka yakini akan mendapatkan like atau komentar terbanyak. Setiap gambar harus dikurasi dengan sempurna, setiap postingan harus disusun dengan cermat, dan setiap momen harus tampak ideal. Dorongan ini bisa muncul dari kebutuhan akan persetujuan atau ketakutan akan penilaian orang lain.
5. Reaktor Emosional
Pencari validasi sosial sering mengikat kondisi emosional mereka dengan kesuksesan postingan media sosial mereka. Jika sebuah postingan mendapat respons baik, mereka merasa berada di puncak dunia, namun jika tidak, mereka bisa merasa terpuruk dan mempertanyakan nilai diri mereka. Mereka cenderung cepat menghapus postingan yang tidak mendapat respons sesuai harapan. Ketidakstabilan emosional ini mencerminkan bagaimana mereka terlalu bergantung pada like dan komentar sebagai pengukur nilai diri.
6. Pengalih Perhatian
Para pengalih perhatian sering menggunakan postingan misterius atau caption dramatis untuk menarik perhatian pengikut mereka. Mereka berkembang dari keterlibatan yang dihasilkan dari postingan semacam ini, terutama komentar yang menanyakan keadaan mereka atau apa yang sebenarnya terjadi. Postingan ambigu ini sengaja dibuat untuk memancing rasa ingin tahu atau kekhawatiran dari pengikut mereka. Kebutuhan konstan akan perhatian ini bisa menciptakan ketergantungan yang tidak sehat pada media sosial untuk mendapatkan dukungan emosional.
7. Bergantung pada Validasi
Pencari validasi digital sangat mengandalkan persetujuan digital untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri. Harga diri mereka sangat ditentukan oleh jumlah like, komentar, share, atau pengikut yang mereka miliki di media sosial. Ketika seseorang terlalu mengikat nilai dirinya dengan validasi eksternal, ini dapat menyebabkan rasa tidak aman dan ketidakstabilan emosional yang berkepanjangan. Bahayanya terletak pada ketergantungan ini, karena ketika harga diri seseorang terikat pada validasi eksternal, hal ini dapat menyebabkan rapuhnya rasa percaya diri.
Editor : Candra Mega Sari