JawaPos.com - Tak sedikit orang beranggapan bahwa tubuh kurus adalah simbol kesehatan. Asal tidak gemuk, berarti sehat—begitu kira-kira mitos yang masih banyak dipercaya. Tapi menurut dr. Tirta, asumsi ini bisa berbahaya dan justru menyesatkan.
Dalam kanal YouTube miliknya @TirtaPengPengPeng, dr. Tirta mengingatkan bahwa tubuh kurus bukan jaminan bebas kolesterol atau risiko penyakit jantung. Ia menegaskan, kolesterol tinggi tak pandang bentuk tubuh. Bahkan orang yang tampak ramping bisa menyimpan potensi risiko kesehatan yang serius.
Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai skinny fat atau normal weight obesity. Secara kasatmata terlihat kurus, tapi tubuh menyimpan lebih banyak lemak dibanding otot. Biasanya, lemak ini menumpuk di bagian perut dan organ dalam, dalam bentuk lemak viseral yang tidak bisa diraba seperti lemak biasa.
Dikutip dari alodokter.com, skinny fat bisa sama bahayanya dengan obesitas yang terlihat nyata. Lemak viseral dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, bahkan penyakit jantung, meski berat badan terlihat ideal di timbangan.
Penyebab skinny fat sangat berkaitan dengan gaya hidup modern. Pertama, pola makan yang salah—terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan tinggi gula dan lemak, tapi miskin protein dan serat. Makanan seperti ini bisa mengurangi massa otot dan meningkatkan timbunan lemak.
Kedua, kurang aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari, duduk terlalu lama, dan jarang olahraga membuat kalori yang dikonsumsi menumpuk dan berubah menjadi lemak. Tanpa olahraga beban atau latihan kekuatan, otot tubuh tak akan terbentuk dengan baik.
Faktor ketiga adalah ketidakseimbangan hormon, seperti hormon insulin dan leptin yang mengatur metabolisme dan rasa lapar. Ketika hormon ini terganggu, tubuh lebih mudah menyimpan lemak dan sulit membangun massa otot, bahkan jika seseorang makan dalam porsi yang “tidak terlalu banyak”.
Cara mengatasi skinny fat bukan dengan diet ekstrem atau mengurangi makan secara drastis. Justru, solusinya adalah menambah massa otot melalui olahraga kekuatan seperti squat, push-up, dan angkat beban, serta memperbaiki pola makan dengan lebih banyak protein dan karbohidrat kompleks.
Kembali lagi ke peringatan dr. Tirta, jangan cepat puas hanya karena angka timbangan menunjukkan “normal”. Lakukan pemeriksaan kolesterol dan komposisi tubuh secara berkala. Beberapa gym bahkan menyediakan alat khusus untuk mengukur proporsi lemak dan otot tubuh.
Jika Anda merasa sudah kurus tapi sering lelah, punya lingkar pinggang membesar, atau jarang olahraga, ada baiknya mulai evaluasi gaya hidup. Konsultasi ke dokter atau ahli gizi juga penting agar tidak terjebak dalam ilusi sehat karena tampilan luar.
Kesehatan bukan sekadar angka di timbangan atau ukuran celana. Di balik tubuh kurus, bisa jadi sedang tersembunyi masalah yang jauh lebih kompleks—dan perlu ditangani dengan kesadaran serta perubahan pola hidup, bukan sekadar pujian karena “langsing”
(*)