JawaPos.com - Setiap 11 April, dunia memperingati Hari Parkinson untuk meningkatkan kesadaran terhadap salah satu penyakit neurodegeneratif yang paling umum setelah Alzheimer. Belum bisa disembuhkan, bagaimana penanganan yang tepat untuk memperlambat progresivitasnya?
Tak semua tremor atau gerakan gemetar merupakan hal biasa yang bisa diabaikan. Bisa jadi, itu gejala awal dari Parkinson. Yakni, gangguan saraf yang memengaruhi gerakan tubuh secara perlahan dan progresif. Penyebabnya adalah kerusakan sel saraf di otak, khususnya pada bagian yang memproduksi dopamin.
“Dopamin ini penting dalam mengatur gerakan tubuh yang halus dan terkoordinasi. Ketika sel-sel penghasil dopamin rusak, maka muncullah gangguan motorik seperti tremor dan kaku otot,” jelas dr Deby Wahyuning Hadi SpN Subsp NRE(K).
Gejala awal Parkinson sering kali muncul secara halus dan bertahap. Salah satu penanda utama yang dikenal luas adalah tremor, terutama saat tubuh dalam kondisi istirahat. Ada pula gejala lain yang merujuk pada singkatan TRAP: Tremor, Rigiditas (kekakuan otot), Akinesia (gerakan melambat), dan Postural instability (kesulitan menjaga keseimbangan tubuh).
"Tremor Parkinson berbeda dengan tremor biasa. Pada Parkinson, tremor justru terjadi saat tangan sedang istirahat, bukan saat beraktivitas,” ungkap dokter spesialis neurologi saraf dan otak konsultan neurorestorasi Mayapada Hospital Surabaya.
Meski identik dengan lansia, Parkinson ternyata bisa menyerang siapa saja yang berada dalam kelompok risiko. Mereka yang berusia lanjut, berjenis kelamin laki-laki, memiliki riwayat keluarga dengan Parkinson, atau pernah terpapar pestisida dalam jangka waktu lama, memiliki kemungkinan lebih tinggi terserang penyakit ini.
Hingga kini, penyebab utama Parkinson masih belum diketahui secara pasti. Ada kasus yang terkait dengan faktor genetik, tetapi sebagian besar terjadi tanpa sebab yang jelas. “Beberapa literatur menyebutkan mutasi genetik dan paparan toksin lingkungan sebagai faktor yang turut berperan,” tambahnya.
Deteksi dini terhadap Parkinson sebenarnya memungkinkan, meski cukup menantang. Dokter Deby menjelaskan bahwa sebelum gejala motorik muncul, pasien bisa menunjukkan gejala non-motorik seperti gangguan penciuman, konstipasi, gangguan tidur, hingga gangguan mood dan kecemasan.
Sayangnya, Parkinson belum bisa disembuhkan. Penyakit ini bersifat progresif, artinya gejalanya akan bertambah parah seiring waktu. Namun progresivitasnya bisa berbeda-beda tiap individu. “Ada yang berkembang lambat, ada pula yang lebih cepat. Dan ini masih sulit untuk diprediksi,” ujarnya.
Meski belum ada obat yang menyembuhkan, berbagai terapi bisa dilakukan untuk mengelola gejala Parkinson. Terapi tersebut meliputi pemberian obat-obatan, tindakan operatif, serta terapi suportif seperti fisioterapi, terapi okupasi, terapi musik, hingga terapi wicara.
Dalam hal gaya hidup, pasien Parkinson disarankan menjalani pola makan seimbang yang kaya serat, antioksidan, lemak tak jenuh, serta mencukupi kebutuhan air dan garam. “Karena konstipasi sering terjadi pada pasien Parkinson, maka asupan makanan tinggi serat sangat dianjurkan. Hindari juga makanan olahan, lemak jenuh, dan gula berlebih,” terang dr Deby.
Baca Juga: Paus Fransiskus Idap Pneumonia Bilateral, Begini Kondisinya di Rumah Sakit
Olahraga juga berperan besar dalam memperlambat penurunan fungsi motorik pasien. Aktivitas fisik ringan namun rutin, seperti jalan kaki atau senam peregangan, mampu membantu pasien menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuh. Yang tak kalah penting adalah dukungan dari lingkungan terdekat.
“Pasien yang didukung keluarga umumnya memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Keluarga bisa membantu pasien tetap aktif, menjaga rutinitas, dan memastikan terapi dijalankan dengan konsisten,” tutupnya.
Dengan pemahaman dan penanganan yang tepat, pasien Parkinson tetap bisa menjalani hidup secara produktif dan bermakna. Kuncinya ada pada deteksi dini, terapi berkelanjutan serta dukungan dari orang-orang tercinta di sekitarnya.