Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Hati-Hati, 5 Film dari Studio Ghibli Ini Ternyata Tidak Cocok untuk Ditonton Anak-Anak!

Jacklyn Uly Manuela • Rabu, 26 Februari 2025 | 15:00 WIB

Princess Mononoke, salah satu film Studio Ghibli untuk dewasa
Princess Mononoke, salah satu film Studio Ghibli untuk dewasa
JawaPos.com - Studio Ghibli memang terkenal dengan film-film animasi mereka yang bertema fantasi disertai dengan cerita yang ringan. Hal itu membuat film-film animasi dari studio ini menjadi disukai oleh semua kalangan, terutama oleh mereka yang masih anak-anak.

Meskipun begitu, tidak semua film animasi dari Studio Ghibli cocok ditonton oleh anak-anak. Dilansir dari CBR, Selasa (25/2), ada beberapa film dari Studio Ghibli yang memang lebih cocok ditonton oleh orang dewasa.

Apa saja film-filmnya? Berikut adalah 5 film Studio Ghibli yang kurang cocok ditonton oleh anak-anak.

1. The Wind Rises

Film yang rilis tahun 2013 ini menceritakan tentang seorang pemuda penderita rabun jauh bernama Jiro yang harus mengalihkan impiannya dari pilot ke pesawat militer. Film satu ini berlatarkan Perang Dunia ke 2 dan menjadi salah satu film Ghibli yang berhasil meraih kesuksesan secara komersial.

Meskipun begitu, film ini dianggap kurang cocok untuk anak-anak karena temanya yang sangat kompleks. Sebab, film ini berfokus pada konflik batin Jiro yang hancur serta penerimaannya terhadap kematian istrinya. Tema kompleks seperti ini cenderung kurang dapat dipahami oleh anak-anak.

2. Only Yesterday

Film Studio Ghibli yang rilis tahun 1991 ini menceritakan tentang seorang wanita berusia 27 tahun bernama Taeko yang tengah merenungkan masa kecilnya saat ia sudah beranjak dewasa. Secara komersil, film ini memang kurang sukses. Tapi, film ini mampu menyentuh hati orang-orang dewasa yang menonton, sebab fokus pada film ini adalah tentang bagaimana realitas kehidupan dewasa yang membuat orang-orang ingin kembali menjadi anak-anak.

Tema yang berfokus kepada realitas orang dewasa, membuat film ini lebih cocok ditonton oleh orang-orang yang memang sudah memasuki usia dewasa. Apalagi, film ini juga menunjukkan sedikit adegan kekerasan, yaitu: adegan saat ayah Taeko memukulnya. Sehingga, adegan tersebut mungkin akan menganggu penonton yang masih muda.

3. Grave of the Fireflies

Film yang rilis tahun 1998 ini menceritakan tentang dampak mengerikan dari Perang Dunia II melalui kisah Seita dan Setsuko, sepasang kakak beradik yatim piatu yang menjadi korban kejahatan perang. Tujuan dari tema film ini adalah untuk memahami bagaimana dampak kehidupan perang bagi anak-anak bersalah.

Meskipun temanya menarik, tapi film ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak. Sebab, keseluruhan isi dari film ini adalah tentang penderitaan, penyakit, dan kematian yang memberikan dampak mendalam.

4. Porco Rosso

Film ini dirilis pada tahun 1992 dan kurang sukses secara komersial. Meskipun begitu, film ini masih memiliki penggemar setia. Alasan film satu ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak adalah karena film satu ini menampilkan adegan kekerasan dalam bentuk adegan tembak-menembak. Selain itu, film itu juga memiliki tema yang kompleks, yaitu tentang konsekuensi kekerasan dan penebusan diri.

Film ini sama seperti 'Grave of the Fireflies' yang juga mengangkat tema perang dunia. Namun, Porco Rosso memiliki pengaplikasian tema yang lebih ringan serta berfokus pada konflik internal karakter utama.

5. Princess Mononoke

Film ini dirilis pada tahun 1997 dan menceritakan tentang konflik antara manusia dan alam di era dewa dan iblis. Film ini telah meraih sukses besar secara komersial dan berhasil meraih 14 penghargaan di dunia film. Secara keseluruhan, Princess Mononoke banyak mengeksplorasi tema eksploitasi alam oleh manusia melalui kisah Ashitaka yang berusaha mendamaikan dewa hutan dan Lady Eboshi.

Meskipun begitu, film Studio Ghibli satu ini banyak menampilkan adegan-adegan keekrasan yang eksplisit. Sehingga, film ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak. Adegan kekerasan dalam film ini bukan semata untuk sensasi, melainkan untuk memberikan gambaran destruktif dari konflik cerita.

Editor : Candra Mega Sari
#studio ghibli #animasi #anak anak #film