Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Ragam Tradisi Unik Sambut Ramadhan di Indonesia, Mulai dari Meugang di Aceh sampai Mattunu Solong di Sulawesi

Erie Dewangga • Selasa, 25 Februari 2025 | 15:30 WIB
Ilustrasi bulan Ramdhan. (Freepik)
Ilustrasi bulan Ramdhan. (Freepik)

JawaPos.com — Bulan Suci Ramadhan tinggal menghitung hari. Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, tak terkecuali oleh orang-orang di Indonesia. Tentunya, datangnya bulan ini selalu disambut dengan begitu meriah oleh berbagai masyarakat di penjuru Nusantara.

Tapi, tahukah anda kalau tradisi menyambut datangnya Ramadhan sangatlah bervariasi, bahkan di Indonesia? Ragam suku dan budaya tidak menjadi penghalang bagi umat Muslim di Negeri Zamrud Khatulistiwa ini untuk merayakan datangnya bulan suci ini dengan keunikannya masing-masing.

Yuk, simak artikel berikut untuk tahu lebih banyak tentang bagaimana keunikan tradisi umat Muslim Indonesia saat menyambut datangnya bulan puasa!

1. Meugang (Aceh)

Tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan di Aceh adalah Meugang atau Haghi Mamagang juga tak kalah menarik. Sebuah tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan yang sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Kala itu, Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah besar dan membagikan dagingnya kepada seluruh rakyat Aceh sebagai ungkapan rasa syukur dan tanda terima kasih kepada rakyatnya. Alhasil, tradisi ini pun mulai mengakar di antara masyarakat dan dilaksanakan dalam menyambut hari-hari besar umat Islam hingga saat ini.

Meugang menjadi salah satu tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh tak hanya sebelum memasuki bulan puasa, tapi juga Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Tradisi ini dilakukan dengan memasak daging dalam jumlah besar, lalu menyantapnya bersama keluarga, kerabat, dan anak-anak yatim-piatu. Tak jarang daging yang sudah dimasak dibagikan masjid untuk dimakan oleh tetangga dan warga lain, sehingga semua orang dapat merasakan kebahagiaan melalui sedekah dan kebersamaan.

2. Malamang dan Balimau (Sumatera Barat)

Tradisi Malamang merupakan salah satu tradisi turun-temurun masyarakat Sumatera Barat yang dilakukan oleh ibu-ibu dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sesuai dengan namanya, tradisi ini memiliki arti membuat lamang, yakni sajian yang terbuat dari beras ketan putih dan santan yang dikukus di dalam batang bambu muda.

Tradisi ini berawal ketika Syekh Burhanuddin, pembawa ajaran Islam di tanah Minangkabau, bersilaturahmi ke rumah penduduk dan menyarankan untuk menyajikan lamang ketika membagikan makanan kepada satu sama lain agar menghindari makanan haram.

Di daerah Pariaman dan Agam, tradisi ini masih sangat melekat di masyarakat dan bahkan menjadi tradisi yang tidak hanya dilakukan saat menjelang bulan puasa, tapi juga dalam berbagai perayaan besar maupun acara keluarga. Tujuan dari tradisi unik ini adalah untuk berkumpul bersama sanak-saudara serta mempererat tali kekeluargaan.

Selain itu, di Sumatera Barat juga ada tradisi Balimau, yakni melakukan pemandian dengan jeruk nipis yang dimaksudkan untuk membersihkan diri secara lahir batin sebelum memasuki bulan suci. Tradisi ini dilakukan satu atau dua hari sebelum memasuki bulan Ramadhan dan dilaksanakan di kawasan yang dialiri oleh sungai ataupun memiliki tempat pemandian.

Baca Juga: MRT Jakarta Kian Dinikmati, Indeks Kepuasan Pelanggan Sentuh 89,16 di 2024 dan Targetkan 115 Ribu Penumpang Harian pada 2025

3. Nyorog (Jakarta)

Masyarakat adat Jakarta atau Betawi masih melestarikan banyak tradisi hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Nyorog, yakni memberikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, baik itu orang tua atau mertua yang tinggal serumah atau tokoh masyarakat setempat.

Dahulu, bingkisan yang dibagikan ketika Nyorog diletakkan di dalam wadah yang terbuat dari anyaman daun pandan. Namun, seiring perkembangan zaman, kini masyarakat betawi menggunakan rantang besi atau kotak makan untuk membagikan bingkisan Nyorog. Makanan khas Betawi yang sering dibagikan saat tradisi Nyorog di antaranya adalah sayur gabus pucung, ikan bandeng, dan olahan daging kerbau.

Tradisi Nyorog bukan sekadar kegiatan mengirim makanan. Tradisi menyambut bulan Ramadhan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan menjalin silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama.

4. Cucurak dan Munggahan (Jawa Barat)

Tradisi Cucurak dalam bahasa Sunda diartikan sebagai bersenang-senang dan berkumpul bersama keluarga besar menyambut bulan suci Ramadhan dan menjadi ajakan untuk senantiasa bersyukur atas segala rezeki yang diberikan Tuhan. Lalu, ada Munggahan, yang dimaknai sebagai sampainya mereka di bulan Ramadhan dan dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah serta untuk upaya membersihkan diri dari hal-hal buruk sebelum memasuki bulan yang suci.

Kedua tradisi yang sudah ada sejak masuknya ajaran Islam di tanah Sunda tersebut dilaksanakan dengan botram atau makan bersama, saling meminta maaf, bersilahturahmi ke rumah keluarga serta kerabat, dan melakukan bebersih di tempat ibadah dan makam keluarga.

Menu yang tersaji ketika botram dalam kedua tradisi ini antara lain nasi liwet, tempe, ikan asin, sambal, dan lalapan.

5. Nyadran (Jawa Tengah)

Nyadran merupakan tradisi yang penting bagi masyarakat Jawa Tengah. Pasalnya, tradisi ini dijadikan momentum untuk menghormati leluhur dan mengutarakan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Tradisi yang dilakukan dengan serangkaian kegiatan, mulai dari membersihkan makam keluarga, membawa sadranan atau makanan hasil bumi, lalu makan bersama (kenduri) ini diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa. Nyadran kerap kali dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Tengah yang berada di daerah Magelang, Temanggung, dan Kendal.

Yang unik dari tradisi ini adalah acara makan bersama (kenduri) yang dilakukan bersama-sama dengan hidangan hasil tani dan ternak warga, serta disajikan di atas daun pisang. Tradisi Nyadran dipercaya oleh masyarakat sebagai ritual pembersihan diri menjelang bulan suci, serta bentuk bakti kepada anggota keluarga yang telah meninggal dengan memulaikan doa dan membersihkan makam.

6. Megengan (Jawa Timur)

Megengan memiliki arti “menahan”, yang dimaknai oleh warga Jawa Timur sebagai tradisi untuk menahan hawa nafsu sebagai persiapan menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini sendiri umumnya ditandai dengan selamatan yang diadakan di masjid maupun mushola dan dihadiri oleh warga sekitar. Dalam Megengan, seorang ustadz akan memimpin doa untuk memohon keselamatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa.

Ketika Megengan, warga yang hadir pada selamatan akan membawa nasi yang sering disebut sego berkat, yang berisi sayur, lauk pauk, dan kue khas Jawa Timur. Setelah pembacaan doa, setiap orang yang hadir dapat mengambil sego berkat milik siapa saja dan menyantapnya. Tradisi ini pun dipercaya membawa nilai-nilai kebaikan seperti membawa rezeki, menanamkan sifat ikhlas, dan memupuk kebersamaan antar sesama umat Islam.

7. Megibung (Bali)

Umat Islam di Kabupaten Karangasem, Bali, juga memiliki tradisi menyambut bulan Ramadhan yang disebut Megibung. Tradisi ini melibatkan kegiatan memasak dan makan bersama sambil duduk melingkar. Megibung memiliki tata letak makanan yang unik, yaitu nasi diletakkan dalam wadah yang disebut gibungan, sedangkan lauk-pauknya disajikan di atas karangan bunga. Tradisi ini dipercaya bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan.

8. Mattunu Solong (Sulawesi Barat)

Masyarakat Polewali Mandar, Sulawesi Barat, melaksanakan tradisi Mattunu Solong untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Tradisi menyambut datangnya bulan puasa ini dirayakan dengan menyalakan lampu yang terbuat dari biji kemiri, yang ditumpuk dengan kapuk, lalu dililitkan pada sebatang bambu. Lampu-lampu tersebut lalu ditempelkan pada pagar, halaman, tangga, pintu masuk, dan dapur.

Menurut kepercayaan, tradisi Mattunu Solong bertujuan untuk memperoleh berkah dari Sang Pencipta dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Selain itu, tradisi ini juga dilaksanakan sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#bulan puasa #bulan ramadhan #tradisi #bulan suci #ramadhan #muslim #indonesia