JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bersalah hanya karena mengambil waktu untuk istirahat? Atau bahkan sulit berhenti bekerja meski tubuh sudah lelah? Jika kamu merasakannya, bisa jadi kamu terjebak dalam toxic productivity, sebuah kondisi di mana obsesi untuk terus produktif mengalahkan kesehatan dan hubungan sosial.
Berbeda dengan istilah workaholic, toxic productivity melibatkan rasa bersalah yang muncul saat tidak bekerja. Bahkan pada waktu santai pun, perasaan ini terasa membebani karena otak terus dipenuhi pikiran tentang hal yang harus diselesaikan.
Tak hanya merusak ketenangan diri, kondisi ini juga berdampak buruk pada kemampuan kerja, menyebabkan stres, kecemasan, hingga kelelahan yang berlebih. Berikut adalah tanda-tanda toxic productivity beserta cara menghindarinya.
Tanda-tanda Toxic Productivity
Toxic productivity sering dikaitkan dengan budaya hustle culture, yang mengagungkan kerja keras tanpa batas. Mengutip HR Morning, seseorang tidak bisa selalu aktif atau bekerja setiap menit setiap hari. Tidak peduli seberapa besar kekuatan fisik dan mental yang dimiliki, seseorang bisa 'tumbang' juga.
Berikut beberapa tanda-tanda yang menunjukkan seseorang mengalami toxic productivity:
- Terlihat makan siang sambil bekerja atau sering melewatkannya.
- Duduk di depan komputer sepanjang hari tanpa jeda.
- Menolak untuk mengambil cuti, meski sudah merasa lelah.
- Selalu tampak kelelahan dan mudah marah.
- Merasa hasil kerjanya selalu kurang memuaskan, meski sudah bekerja keras.
- Produktivitas menurun meski waktu kerja terus bertambah.
Cara Menghindari Toxic Productivity
Terdapat beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghindari toxic productivity, di antaranya:
1. Ubah Pola Pikir
Bangun sense of ownership atau ubah pola pikir dari sekadar mengejar target menjadi rasa memiliki terhadap pekerjaan. Dengan pendekatan ini, kamu akan lebih terlibat dalam proses, menikmati pekerjaan, dan tetap memberikan ruang untuk diri sendiri tanpa merasa tertekan.
2. Hindari Multitasking
Multitasking seringkali menjadi penyebab utama stres dan menurunkan kualitas hasil kerja. Fokuslah pada satu tugas dalam satu waktu. Jika terpaksa multitasking, atur waktu dengan baik, kenali batas kemampuan diri, dan prioritaskan pekerjaan secara bijak.
3. Berikan Waktu untuk Istirahat
Berikan jeda sejenak sangatlah penting untuk mengembalikan fokus dan energi. Luangkan waktu 10 menit setiap jam untuk melakukan stretching, berbincang dengan rekan kerja, atau melakukan hal yang kamu sukai.
4. Prioritaskan Self-Care
Prioritaskan diri kamu dengan menerapkan batasan waktu kerja, lakukan olahraga rutin, dan latih pola pikir untuk lebih menghargai momen saat ini. Self-care adalah investasi untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar terjaga dengan baik.
5. Terapkan Prinsip Mindfulness
Mindfulness merupakan cara untuk menyadari dan merasakan apa yang sedang terjadi saat ini, sehingga membantu kamu lebih tenang dan fokus. Dengan prinsip mindfulness, kamu dapat belajar menerima kondisi tubuh dan lingkungan sekitar, termasuk kebutuhan dasar seperti makan, tidur, atau pergi ke kamar mandi.
Editor : Candra Mega Sari