JawaPos.com - Beberapa tahun belakangan olahraga lari kian diminati. Tak heran, event lari makin menjamur. Penyelenggara event biasanya telah mencantumkan regulasi dan aturan yang perlu dipatuhi. Namun, ada etika tidak tertulis yang perlu dipahami setiap pelari guna menciptakan suasana yang menyenangkan bagi semua peserta. Apa saja? Berikut etika dalam perlombaan lari sebagaimana dipaparkan oleh Didit Santoso, race director D&Dsport.
Baris Depan untuk Pelari Cepat
Beberapa event lari menggunakan start pen atau area start. Pelari yang paling depan sampai paling belakang diposisikan sesuai dengan kecepatan lari mereka atau estimasi waktu finis. Barisan terdepan diisi oleh pelari-pelari elite, baik dari internasional maupun nasional. Selanjutnya, tamu-tamu kehormatan atau VIP. Lalu, diikuti pelari-pelari undangan dan peserta yang memiliki tingkat kecepatan di atas pelari rekreasional atau orang umum. Penempatan posisi itu menghindari risiko tabrakan saat start. Apabila pelari santai berada di depan, dikhawatirkan akan tertabrak oleh pelari cepat.
Boleh Berfoto asal Tidak Mengganggu Pelari Lain
Peserta lari diperbolehkan berfoto atau mengambil selfie di sepanjang rute lomba selama tidak mengganggu peserta lain. Hargai sesama peserta. Sebab, masing-masing pelari memiliki target waktu untuk mencapai finis.
Jangan Menghalangi Jalan
Pelari yang berlari pada pace besar atau lambat disarankan untuk berlari di samping jalur lomba agar pelari yang lebih cepat bisa mendahului dengan mudah. Jangan lari bergerombol hingga menutupi jalur lintasan karena dapat menghalangi peserta lain yang akan melintas. Beri kesempatan pelari yang lebih kencang mendahului. Jika memang ingin lari barengan, baris tidak lebih dari dua orang.
Tidak Berhenti Mendadak
Pelari disarankan untuk mencari area kosong atau ke pinggir rute lomba jika hendak berhenti, istirahat, ataupun berjalan. Berhenti mendadak dapat menyebabkan benturan dengan peserta lari. Caranya bisa dengan memberikan tanda seperti angkat tangan untuk pindah jalur sehingga pelari di belakangnya bisa melewati peserta tersebut melalui jalur sebelah kanan atau kiri.
Jangan ”Ngebandit” Maupun Potong Jalur
Bandit runner atau ”pelari bandit” adalah sebutan untuk pelari yang ikut berlari dalam perlombaan tanpa mendaftar secara resmi. Pelari bandit biasanya berlari tanpa nomor dada, membeli nomor dada dari pelari lain, membuat nomor dada palsu, atau berlari menggantikan orang lain. Hal itu tentu tidak beretika dan merugikan perlombaan karena tidak membayar biaya pendaftaran.
Begitu pula peserta yang memotong jalur. Pelari yang demikian tidak menghargai panitia yang sudah menyiapkan jalur lomba yang aman dan nyaman. Jika terjadi sesuatu seperti kecelakaan pada peserta tersebut di luar rute lomba yang sudah disediakan, bukan tanggung jawab panitia. Esensi lomba lari tidak sekadar sampai garis finis, tetapi juga mengukur tingkat kebugaran tubuh. Dengan melakukan kecurangan seperti itu, sama saja peserta tidak jujur terhadap dirinya sendiri.
Jaga Kebersihan Lingkungan
Aturan untuk tidak membuang sampah sembarangan di sepanjang race sebetulnya sudah tertulis. Buanglah sampah pada tempat yang telah disiapkan panitia. Biasanya, tempat sampah berdekatan dengan water station dan area utama event.
Hargai Privasi dengan Tidak Merekam
Saat ini merekam sesuatu sangatlah mudah. Ada baiknya apabila terjadi sesuatu di rute lomba seperti adanya pelari yang membutuhkan pertolongan medis, tidak perlu direkam dan disebarkan ke media sosial. Hal ini bertujuan untuk menghargai privasi pelari yang sedang ditangani tim medis dan untuk menghindari tersebarnya informasi yang tidak benar.
Itulah beberapa etika yang perlu diperhatikan ketika mengikuti event lari demi kenyamanan bersama. Selamat berlari dengan tertib dan happy. (*)
Editor : Hendra