JawaPos.com - Pertunjukan dua penyihir ini menghanyutkan penonton lewat interaksinya. Pesannya pun kuat: bagaimana cara menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan dan siapa yang harus melakukannya.
Seorang penyihir tua dan muridnya masuk ke panggung. Mukanya tua, sedangkan muridnya kecil tapi banyak polah. Sejurus kemudian, sang penyihir bertanya. ’’Apakah kamu mendengarku?’’ tanyanya. Penonton spontan menjawab iya. Diiringi dengan tawa penonton lain.
Langsung saja penyihir tua ini kembali bertanya. ’’Indonesian, what did you speak?’’ tanyanya. Lalu, dijawab serentak bahasa Indonesia oleh penonton.
’’Apa kabarnya? Saya belajar bahasa Indonesia seribu tahun yang lalu. Tapi, masih sedikit-sedikit,’’ jelasnya. Tentu saja penonton bergemuruh langsung bertepuk tangan dan sebagian tertawa.
Pertunjukan oleh kelompok teater asal Jerman Tiny Colossus Productions bertajuk Foolish Doom yang berlangsung di Komunitas Salihara Arts Centre pada Sabtu (9/11) dan Minggu (10/11) lalu itu menceritakan dua penyihir superkuat bernama Burnhart dan Pippa.
Keduanya berencana menyelamatkan dunia dari kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. ’’Apakah kita perlu memusnahkan manusia untuk menyelamatkan dunia,” ujar Burnhart. Lagi-lagi penonton tertawa.
Tidak lama, keduanya kebingungan karena mik mati. Entah ini adegan yang disengaja atau memang kesalahan teknis. Namun, kelucuan kembali timbul. ’’Kenapa mikrofonnya mati, eh kekuatan sihir suara kenapa tidak keluar,’’ tanya Burnhart kepada Pippa.
Pippa yang banyak polah itu lantas memasukkan tangannya ke belakang baju Burnhart. Tapi, suara tak kunjung muncul. Langsung saja Burnhart berceloteh. ’’Seseorang di belakang panggung, mungkin bisa menolong?’’ ujarnya. Penonton kembali tertawa.
Sejurus kemudian, tampak kru terpaksa masuk ke panggung. Tiba-tiba Pippa pun menyebut ada bayangan. Kru panggung yang mencoba menghidupkan mikrofon menjadi bahan guyonan.
Tak lama, mikrofon hidup. ’’Kekuatan sihir suaraku telah kembali,’’ celoteh Burnhart. Lantas, keduanya mulai memainkan alat musik. Burnhart memainkan alat musik dari berbagai peralatan dapur dan Pippa menggunakan piano yang dibalut kulit pepohonan.
Yang menarik, dari pertunjukan musik ini keduanya mengajak penonton untuk terlibat. Menjentikkan jari, bertepuk tangan, dan menepuk paha. Semuanya terlibat dalam bermusik. Sungguh sensasi yang berbeda.
Dalam dialognya, mereka juga menyelipkan pesan-pesan menjaga lingkungan. Karena saat lingkungan rusak, ancaman bahaya mengintai. Dialog lainnya juga menarik. Sang penyihir bertanya kepada penonton apa pekerjaannya. Ada penonton yang menjawab berprofesi sebagai pengacara, komedian, dan guru.
Seusai pertunjukan, pemeran Burnhart, Peter Sweet, menuturkan bahwa sebagai seniman dirinya tidak pernah mengetahui apa dampak dari pertunjukan tersebut. Seperti saat menulis lagu cinta, tidak akan mengetahui bagaimana perasaan seseorang yang mendengarnya. ’’Semua saya serahkan kepada penonton apakah akan menjaga lingkungan atau tidak,’’ ujarnya.
Yang pasti, pertunjukan itu membuat penonton berpikir ulang terkait apa yang dilakukan dalam menjaga lingkungan. Sekaligus memiliki pengalaman baru tentang lingkungan. ’’Tentu saja diiringi dengan tawa sedikit-sedikit,’’ urainya.
Saat ditanya apa tujuannya berinteraksi dengan penonton, dia mengatakan bahwa interaksi itu diharapkan memberikan nilai tertentu. ’’Tapi, mari kita tanya penontonnya,’’ ujarnya kepada para penonton yang mengantre bersalaman.
Saat itu, salah seorang penonton menyebut setelah melihat pertunjukan tersebut membuatnya berpikir kembali. ’’Apa yang bisa saya lakukan dalam menjaga lingkungan.Walau kecil sekalipun dalam keseharian,’’ celetuk penonton itu. (idr/c6/dra)
Editor : Hendra