Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Battle of Surabaya: Film Animasi Karya Anak Bangsa, Ajak Penonton Renungi Jasa Pahlawan dan Ingatkan Tak Ada Kejayaan dalam Peperangan

Erie Dewangga • Sabtu, 9 November 2024 | 22:45 WIB

Battle of Surabaya, film animasi orisinal garapan MSV Pictures, mengemas peristiwa Pertempuran Surabaya secara apik
Battle of Surabaya, film animasi orisinal garapan MSV Pictures, mengemas peristiwa Pertempuran Surabaya secara apik
JawaPos.com - Tahukah anda bahwa pada tahun 2015 lalu, pernah tayang sebuah film animasi karya anak bangsa yang sanggup membuat para sineas di dalam dan luar negeri berdecak kagum, bahkan sampai mendapat 7 nominasi sekaligus memenangkan 19 penghargaan di berbagai festival film berbeda?

Adalah Battle of Surabaya, film animasi produksi MSV Pictures yang berada di bawah bendera lembaga pendidikan STMIK AMIKOM Yogyakarta, yang naskahnya ditulis serta diarahkan oleh Aryanto Yuniawan (direktor dan penulis naskah) yang ditemani oleh M. Suyanto (produser dan penulis naskah).

Film bergenre fiksi-historis bikinan Indonesia ini tayang pada bulan Agustus 2015 dan mendapat berbagai respon positif dari penggemar film kartun dan anime pada saat itu.

Penasaran dengan film animasi karya anak bangsa ini? Yuk, simak artikel berikut mengulas film Battle of Surabaya yang kisahkan betapa membaranya pertempuran mempertahankan kemerdekaan dari gangguan sekutu dan penjajah.

Kalah Jadi Abu Menang Jadi Arang, Tidak Ada Kejayaan dalam Peperangan

Mengutip situs IMDb, film animasi buatan dalam negeri ini berkisah tentang Musa, seorang tukang semir sepatu berusia tiga belas tahun, dan Yumna, seorang gadis logistik, yang menjalani takdir melalui petualangan mereka berperang di masa-masa kemerdekaan Indonesia.

Walaupun setiap harinya selalu bising dengan ledakan granat atau mortar dan desing tembakan peluru, tapi keduanya tetap harus bertahan hidup. Meski demikian, Musa tetap harus bertahan hidup, bahkan sampai harus menjalankan dua profesi, sebagai penyemir sepatu dan kurir rahasia para pejuang. Keras, memang. Namun, begitulah kehidupan yang harus dijalani oleh anak-anak di masa peperangan. Musa sendiri mengalami serangkaian peristiwa mulai dari melihat langsung bagaimana kejamnya peperangan yang terjadi sampai mendengar banyak cerita dari partisipan perang sampai dikejar-kejar dengan tentara Sekutu.

Film animasi fiksi-historis berdurasi 99 menit ini memotret sejarah Pertempuran Surabaya yang membara, dimulai dari beberapa saat setelah pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu dan Jepang yang mengakhiri perang melawan Sekutu; kemudian berlanjut sampai dipromasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Cari Kostum Anime dan Baju Adat? Cek Tempat Jual dan Sewa Koleksi Terlengkap di Tangsel Berikut untuk Anak dan Dewasa dengan Harga Terjangkau

Indonesia benar telah merdeka. Namun, langit Surabaya kembali memerah. Peristiwa Perobekan Bendera di Hotel Yamato dan kedatangan Sekutu yang ditumpangi Belanda, yang menuntut haknya atas negeri bekas jajahannya. Di sisi lain, juga terdapat gangguan dari kelompok paramiliter bentukan Jepang bernama Kipas Hitam yang misterius.

Aryanto Yuniawan dan M. Suyanto sebagai penulis naskah, cukup pintar dalam mengambil latar untuk menjadi landasan cerita film animasi ini, dengan mana mereka berusaha mengisi sedikit ruang yang ada sebelum Perang Surabaya berkecamuk, sehingga film ini tidak secara generik menceritakan tentang keadaan perang. Pun, Battle of Surabaya bikinan mereka tidak terlalu memaksakan pandangan nasionalisme secara dramatis, sehingga tak mengherankan kalau film animasi ini dapat dinikmati oleh pasar internasional.

Plot yang disajikan oleh Battle of Surabaya tidak melulu menyoroti perang yang terjadi, tapi juga menonjolkan sisi lain dari peperangan yang memilukan dan mengambil sudut pandang dari para korban dan partisipan perang yang membuat film ini menjadi humanis. Pun, slogan film animasi ini sendiri, "There is no glory in war," atau "Tidak ada kejayaan dalam peperangan," adalah ucapan dari Aminah, Ibunda Musa, yang sakit-sakitan kepada sang putra semata wayang. Dan, slogan yang memang menjadi pakem cerita yang ada di film ini dapat dapat dieksekusi dengan baik.

Pun Battle of Surabaya juga akan mengingatkan anda dengan anime garapan studio Ghibli berjudul Grave of the Firefliesdengan mana tokoh utama dari kedua film ini sama-sama menjadi korban kejamnya peperangan.

Bikin Bangga, Battle of Surabaya Sabet 19 Penghargaan di Festival Film Internasional

Walaupun film buatan MSV Pictures ini masih memiliki beberapa kekurangan yang kentara dari segi animasi, mulai dari  peralihan antar-sekuen animasi yang masih terlihat kasar, perpindahan antar-frame yang terasa melompat-lompat, pencampuran antara gambar 2 dimensi dengan teknologi 3DCG yang kurang rapi, cerita di awal yang belum cukup jelas, penggambaran adegan-adegan aksinya juga masih terasa kaku dan kurang luwes, tapi untungnya hal ini ditutupi dengan penggambaran akting karakter yang sangat ekspresif dan juga gambar latar yang sangat indah juga rapi.

Meski demikian, film animasi bikinan anak negeri ini sukses mendapat 7 nominasi serta menyabet 19 gelar penghargaan dari berbagai festival film di luar negeri, lho!

Di antaranya: Penghargaan Pilihan Penonton (IMTF, 2013), Animated Classic Cell (Gold Remi Award, WorldFest Houston, 2016), Sekuen Animasi Terbaik (Film Fest International, Milan, 2017), Animasi Terbaik (Film Fest International, Nice), Fitur Animasi Terbaik (Glendale International Film Festival, 2018), Pemenang Kategori Animasi (Award of Recognition, Hollywood International Moving Pictures Film Festival, 2018), dan lain-lain. Sungguh membanggakan, bukan?

Baca Juga: Syuting Horor Film Santet Segoro Pitu, Sandrinna Michelle dan Ari Irham Sempat Nervous dan Kesulitan

Editor : Candra Mega Sari
#animasi #battle of surabaya #film