JawaPos.com — Sebal tidak sih, ketika anda sedang ingin jalan-jalan keliling kota, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras? Atau ketika anda sudah siap berangkat memenuhi janji temu dengan teman, terus tidak ada angin-tidak ada hujan, tahu-tahu mereka memberi kabar kalau janji hari itu batal? Pasti sebal, kan? Ingin marah, tapi anda tahu kalo marah tidak ada gunanya. Akhirnya anda cuma bisa mencak-mencak tidak karuan sebagai pelampiasan.
Sedih? Iya.
Kesal? Tentu saja.
Marah? Sudah pasti.
Kecewa? Jangan ditanya.
Sebal, kesal, sedih, marah, kecewa, dan perasaan-perasaan lain yang menghinggapi anda pada saat-saat seperti itu adalah hal yang wajar dirasakan oleh manusia sebagai makhluk perasa. Rasakanlah perasaan-perasaan itu dan ambil hikmah dari setiap peristiwa di hidup anda.
Tapi, tentu saja, membiarkan diri berlarut-larut dalam perasaan negatif seperti di atas bukanlah hal yang bijak, sebab akan memengaruhi cara pandang serta pengambilan keputusan anda ke depan-nya.
Lalu, harus bagaimana?
Merangkum dari jawaban-jawaban yang diberikan responden Quora, berikut langkah-langkah bijak yang bisa anda tiru untuk bisa menerima kenyataan dalam hidup yang tidak sesuai dengan harapan.
- Atur Tingkat Ekspektasi
Ekspektasi merupakan sesuatu yang asalnya dari dalam pribadi masing-masing, yang memicu diri untuk mulai mengharapkan sesuatu agar terjadi. Karena asalnya dari diri sendiri, maka ekspektasi menjadi hal yang paling mudah untuk diatur sebagai langkah pertama agar anda bisa menerima adanya gap antara kenyataan dan harapan.
Berekspektasilah sewajarnya, agar kekecewaan itu berkurang dan penerimaan terhadap kenyataan itu bertambah.
- Evaluasi Diri
Apabila anda sedang mengalami suatu peristiwa yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, cobalah untuk menarik nafas panjang terlebih dahulu sambil mengamati situasi dan kondisi di sekitar lalu rumuskan segala variabel yang mungkin memengaruhi setiap pengambilan keputusan hingga berujung pada kenyataan saat ini.
Cobalah juga untuk merumuskan, apakah kekecewaan yang anda alami dikarenakan faktor dari dalam diri sendiri ataukah karena faktor lain di luar diri.
Evaluasi menjadi langkah yang penting, sebab dengan menapak-tilasi setiap langkah dan keputusan yang diambil sampai detik ini, maka anda akan semakin mudah untuk menemukan hikmah sekaligus memahami diri sendiri.
- Validasi Emosi dan Alihkan Perhatian
Selanjutnya, bila saat ini anda sedang mengalami peristiwa yang berlainan dengan harapan dan merasa kesal, sedih, marah, dan kecewa, maka validasilah emosi-emosi yang anda rasakan tersebut.
Lampiaskan! Berteriaklah! Keluarkan semua emosi tersebut sampai anda benar-benar lega.
Setelah itu, cobalah untuk mengalihkan perhatian anda dari kekecewaan tersebut pada hal-hal lain seperti berolahraga, jalan-jalan, wisata kuliner, membaca buku, menonton film, atau bermain gim.
Maka dari itu, milikilah tempat untuk melampiaskan semua emosi yang anda rasakan, entah itu teman curhat ataupun berupa sarana rekreasi seperti yang telah disebut di atas.
- Berdamai dan Menerima Keadaan
Setelah mem-validasi emosi dan mengalihkan sejenak perhatian anda, maka selanjutnya adalah mencoba untuk berdamai dan menerima kenyataan yang terjadi.
Langkah ini memang sulit, sebab ada saja seribu alasan yang membuat diri sukar untuk berdamai dan menerima keadaan yang telanjur terjadi.
Salah satu cara untuk bisa berdamai dan menerima keadaan adalah dengan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada sebabnya; tidak akan ada asap tanpa ada api.
Berdamai dengan kenyataan dan menerima keadaan yang tidak anda harapkan memang butuh waktu yang lama. Namun, cobalah untuk menikmati prosesnya, sebab kelak anda akan tersenyum ketika mengingat-ingat lagi kejadian hari ini.
Baca Juga: Punya Kepribadian Terbalik, Ini Cara Menghadapi Orang yang Ekstrovert untuk Kamu yang Introvert
- Sabar dan Ikhlas
Sabar dan ikhlas menjadi langkah bijak selanjutnya agar anda bisa menerima kenyataan yang berbeda dengan harapan. Kedua sikap ini tak bisa dipisahkan, sebab dari sabarlah sikap ikhlas tersebut bisa muncul.
Kedua sikap ini, mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk diamalkan. Hal ini disebabkan begitu beratnya sabar dan ikhlas yang mengajak manusia untuk selalu menerima dan berdamai dengan segala peristiwa yang menimpa diri mereka.
Keduanya tidak bisa dilakukan tanpa didahului dengan evaluasi diri dan validasi emosi, sebab sabar dan ikhlas erat kaitan-nya dengan berdamai dan penerimaan diri.
Editor : Hendra