JawaPos.com — Sudah pernahkah anda menonton film animasi I Want to Eat Your Pancreas, film dengan ending yang membuat hati siapa saja seperti diremas yang merupakan adaptasi dari novel serta manga karangan Yoru Sumino?
Jika sudah, maka sekiranya anda bisa mempertimbangkan untuk mulai membaca manga I Had That Same Dream Again atau Mata, Onaji Yume wo Miteita ini.
Serial manga pendek (3 jilid) ini adalah adaptasi manga dari novel dengan judul yang sama karya Yoru Sumino, penulis I Want to Eat Your Pancreas, sehingga ada semacam kekhasan tersendiri di dalamnya, yaitu cerita yang selalu berkisar pada seorang anak muda bermasalah yang bertemu dengan seseorang yang mengubah hidupnya. Meskipun demikian, ada beberapa perbedaan yang sangat spesifik dari karya Yoru Sumino yang satu ini yang menjadikan I Had That Same Dream Again memiliki cerita yang lebih kuat dan mengena di hati pembacanya.
Penasaran sebagus apa, sih, manga I Had That Same Dream Again? Yuk, simak ulasan berikut ini!
Ayo, Ikut Si Nona Cilik Berpetualang Mencari Definisi Bahagia!
Mengutip situs MyAnimeList, manga drama-filosofis adaptasi dari novel berjudul sama karangan Yoru Sumino ini akan membawa anda mengikuti kisah seorang siswi SD bernama Nanoka Koyanagi yang menganggap dirinya aneh sebab dia adalah anak yang menjadi dewasa sebelum waktunya. Dan, ia sering menggunakan ‘keanehan’ tersebut sebagai alasan untuk menghindari melakukan hal-hal yang tidak disukainya, seperti mengikuti kelas pendidikan jasmani atau bergaul dengan teman-teman sekelasnya karena dia tahu bahwa dirinya lebih unggul dari teman-temannya secara akademis, yang menurutnya membuatnya berbeda dari mereka sama sekali.
Alih-alih bermain dengan teman sebayanya, Nanoka justru lebih sering bermain dengan orang-orang dewasa seperti Abazure-san, seorang wanita manis dan periang yang membantunya menyelamatkan seekor kucing dan sering menemaninya bermain Othello; Obaa-chan, seorang nenek berhati lembut dan penuh kasih sayang yang tinggal seorang diri di bukit; dan Minami-san, seorang penulis SMA pemalu yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri.
Gurunya, Hitomi, memahami bahwa apa yang dilakukan Nanoka dapat membahayakan masa depan si gadis itu sendiri, dan karena orang tuanya tidak banyak berada di dekatnya karena pekerjaan mereka, maka ia pun mencoba dengan lembut mengajarinya bahwa menjadi “istimewa” tidak berarti lebih baik atau lebih buruk daripada orang lain dan memberi tugas untuk mencari arti kebahagiaan menurut Nanoka.
Strategi sang Guru seolah tidak manjur untuk Nanoka, sebab ketika si nona cilik mendapat tugas tersebut ia malah semakin sering menghabiskan waktunya bersama ketiga individu unik tadi. Dan dalam usaha si gadis untuk mendefinisikan kebahagiaan, ia juga beralih pada teman-temannya yang tidak biasa ini untuk mendapatkan interpretasi mereka. Saat Nanoka semakin dekat dengan kehidupan ketiga orang tersebut, kisah dan pengalaman mereka membentuk sebuah jalan baginya menuju pencarian dan penemuan jati diri.
Nanako menerima nasihat dari Minami-san, Abazure-san, dan Obaa-chan tentang keadaan yang terasa sangat spesifik tidak hanya untuk situasinya, tetapi juga untuk masing-masing dari mereka, mulai dari berdamai dengan orang tuanya, belajar untuk terbuka kepada teman-temannya, dan akhirnya menemukan kebenaran dari definisi kebahagiaan yang telah lama dicari itu.
Nanoka Koyanagi, Nona Cilik yang Gemar Membuat Analogi Soal Kehidupan
Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa Nanoka adalah tokoh yang memiliki lebih banyak kedalaman dan kepribadian yang membuatnya unik.
Ia adalah anak yang dewasa sebelum waktunya. Nona cilik yang blak-blakan, suka membaca dan berusaha menjadi sepintar mungkin, sedikit egois, menghakimi teman-teman sekelasnya sebelum mengenal mereka, cenderung memaksakan keyakinannya kepada orang lain tanpa menghormati batasan dan keinginan mereka, dan sementara ia berusaha untuk berbelas kasih kepada orang lain, ia membuat banyak kesalahan kekanak-kanakan yang harus ia pelajari.
Sebab kegemarannya membaca buku, Nanoka sering mengatakan banyak hal filosofis yang tidak dikatakan anak-anak di kehidupan nyata dengan mana si nona cilik selalu mengatakan, "Kehidupan itu seperti A karena B atau C," dan hal-hal semacam itu, dengan banyak introspeksi yang tidak masuk akal bagi anak seusianya. Ditambah lagi, perilakunya di awal cerita bisa membuatnya sangat sulit disukai oleh teman-teman sebayanya.
Nanoka sebagai tokoh utama sangat mudah dipahami sehingga membuat pembaca dapat bersimpati padanya. Ia cukup pintar untuk seorang gadis seusianya, tetapi ia tidak begitu pandai dalam hal bergaul dengan orang lain. Ia bahkan tidak mau melakukan apapun dengan orang lain setelah berkonflik dengan teman-teman sekelasnya. Namun tentu saja, itu tidak baik, sehingga orang-orang di sekitarnya, seperti Hitomi-sensei, membantunya untuk menyadari hal ini.
Jadi, Apa Itu Kebahagiaan Menurut Anda?
Pertanyaan klise yang ditanyakan oleh serial manga drama-filosofis ini, dan mereka memberikan jawaban yang berbeda dan hampir tak terbatas karena kebahagiaan tidak dapat didefinisikan hanya sebagai satu hal atau lainnya.
Pandangan setiap orang tentang kebahagiaan berubah sesuai dengan situasi mereka, tetapi bagian terpenting dari kebahagiaan adalah membaginya dengan orang lain. Kebahagiaan adalah tentang dapat membaginya dengan orang lain sebab sebagaimana buku yang paling menyedihkan adalah buku yang tidak pernah dibaca.
Apa itu kebahagiaan? Menurut Abazure-san, kebahagiaan adalah memikirkan seseorang dengan tulus, di mana saat kita memikirkan seseorang dengan tulus hati akan terasa penuh. Menurut Minami-san, kebahagiaan adalah perasaan bisa diterima, dengan mana karyanya dapat diterima oleh banyak orang. Bagi Obaa-chan, kebahagiaan adalah saat kita yang sekarang dapat berkata bahwa, "Aku bahagia."
Pada akhirnya, serial manga pendek adaptasi dari novel karangan Yoru Sumino ini mungkin merupakan salah satu media yang mampu membuat anda merenungi kembali perihal makna kebahagiaan, arti kehidupan, dan mengingat betapa berharganya momen-momen yang tersisa bersama orang-orang yang anda cintai.
Editor : Hendra