Resensi Buku: Perempuan di Titik Nol Suara Keadilan dari Balik Penjara Patriarki

JawaPos.com - Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, yang pertama kali terbit pada 1977, masih relevan hingga kini karena membahas penindasan terhadap perempuan dalam sistem patriarki yang mengekang.
Buku ini berasal dari kisah nyata seorang narapidana perempuan bernama Firdaus yang ditemui Saadawi saat meneliti kondisi psikologis perempuan di penjara Qanatir, Mesir. Melalui cerita Firdaus, pembaca diajak menyelami kehidupan seorang perempuan yang sejak kecil terjerat kemiskinan, kekerasan, hingga akhirnya menjadi pekerja seks untuk bertahan hidup.
Nawal el-Saadawi, seorang aktivis dan psikiater asal Mesir, menuliskan kisah ini dengan bahasa yang lugas dan berani. Ia tak ragu membongkar realitas pahit yang sering kali disembunyikan, terutama menyangkut diskriminasi, kekerasan, dan pembatasan hak perempuan.
Ketidakadilan Gender dan Hegemoni Kekuasaan Laki-Laki
Menjadi seorang perempuan tidaklah mudah bagi Firdaus, di lingkungan keluarganya yang konservatif dan patriarki, seorang perempuan selalu mendapat perlakuan yang tidak adil dan dinilai lebih rendah dari laki-laki. Ketidakadilan ini tergambar pada sikap Ibu firdaus yang lebih mementingkan ayah Firdaus dan membedakan anak laki-laki dan perempuan.
Dalam budaya patriarki, peran laki-laki yang sangat dominan hal ini menciptakan perempuan sebagai makhluk kelas dua. Akibat dari budaya patriarki ini, sejak kecil Firdaus sang tokoh utama kerap kali mengalami tindak kekerasan dan sewenang-wenang dari laki-laki.
Ayah Firdaus adalah sosok yang ditakuti dalam keluarganya. Tokoh Ayah ini menyimbolkan ketidakadilan dan ketimpangan dalam relasi gender.
"Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur." (hlm. 26)
Seorang laki-laki diperlakukan sebagai individu nomor satu di antara individu-individu lainnya. Relasi ini menunjukkan ketidaksetaraan di dalam sebuah keluarga, perempuan mengalami dampak budaya patriarki. Begitu juga dalam lingkungan sosial, tokoh Firdaus kerap mengalami ketidakadilan karena ia seorang perempuan.
Dalam ranah pendidikan, Firdaus perempuan tidak bisa mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Firduas sangat mengidolakan pamannya dan berkeinginan untuk menimba ilmu di El Azhar seperti pamannya, namun hanya karena ia seorang perempuan ia tidak diperbolehkan berpendidikan sebab pada saat itu sebuah Universitas hanya diperuntukkan untuk laki-laki.
"Apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?"
Lalu saya menjawab, "Saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti paman."
Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum pria saja. (hlm. 21)
Pengalaman Pelecehan dan Kekerasan
Pelecehan yang dialami oleh Firdaus telah terjadi ketika ia masih kecil, lingkungan keluarga yang seharusnya memberikan rasa aman dan perlindungan, justru menjadi tempat pertama di mana ia mengalami pelecehan.
"Saya melihat tangan paman saya bergerak-gerak dibalik buku yang sedang Ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya merasakan tangan itu menjelajahi paha saya." (hlm. 19).
Setelah kematian ayah dan ibunya, firdaus tinggal bersama pamannya yang merupakan anggota keluarga satu-satunya yang ia miliki. Ketika tinggal bersama pamannya, Firdaus mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak namun pelecehan masih tetap terjadi padanya. Firdaus tidak menyadari akan hal itu, dan menganggapnya sebuah perlakuan yang normal.
Pada usia remaja setelah kelulusan sekolah,Firdaus dijodohkan dengan seroang lelaki tua yang merupakan kerabat istri pamannya, Syekh Mahmoud. Namun, dalam pernikahannya, Firdaus mengalami berbagau kekerasan fisik dari suaminya.
"Pada suatu peristiwa ia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah paman." (hlm. 70)
Di dalam budaya patriarki, tindakan kekerasan seperti itu dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika suami memukul istrinya. Bahkan, pamannya sendiri mengakui bahwa ia juga sering memukul istrinya, dan menegaskan bahwa kewajiban seorang istri adalah patuh dan taat.
Peristiwa-peristiwa menyedihkan terus dialami Firdaus sampai akhirnya ia menjadi seorang wanita penghibur.
Perlawanan dan Pencarian Kebebasan
Pengalaman demi pengalaman yang dialami oleh Firdaus sejak kecil memberikan pelajaran kepada Firdaus bahwa identitasnya sebagai seorang perempuan hanyalah dijadikan sebagai objek yang dapat ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. perlakuan sewenang-wenang yang diterima Firdaus mengajarkan bahwa ia juga pantas menerima sebuah kebebasan, tanpa kontrol dan siksaan dari laki-laki.
Dalam mencapai kebebasannya, Firdaus sampai pada permenungan bahwa peran laki-laki dalam budaya patriarki mempunyai peran besar membentuknya menjadi seorang pelacur.
"Saya tahu bahwa profesi saya diciptakan oleh seorang laki-laki. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak." (hlm. 133)
Perempuan di Titik Nol telah memberikan dampak yang signifikan tidak hanya di Mesir tetapi juga di seluruh dunia. Keberanian Nawal el-Saadawi dalam mengungkap realitas pahit yang dialami oleh perempuan di bawah rezim patriarki telah menginspirasi banyak aktivis dan penulis untuk terus memperjuangkan kesetaraan gender.
Buku ini juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan memperjuangkan hak-hak mereka di berbagai negara.



