Waspada Risiko Cedera Kepala Pemain Sepak Bola Profesional, Bisa Sebabkan Alzheimer hingga Parkinson

JawaPos.com – Pemain sepak bola profesional sering terpapar benturan kepala berulang selama pertandingan, yang berpotensi memicu masalah kesehatan jangka panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Pemain sepak bola adalah individu yang berpartisipasi dalam olahraga sepak bola, baik di tingkat amatir maupun profesional. Tugasnya mencakup menguasai teknik bermain, strategi tim, dan menjaga kondisi fisik agar dapat tampil optimal di setiap pertandingan.
Cedera kepala merupakan kondisi ketika bagian kepala mengalami benturan atau trauma, yang dapat mempengaruhi fungsi otak. Dampaknya bisa ringan hingga berat, mulai dari luka ringan, gegar otak, hingga kerusakan otak yang lebih serius.
Penyakit neurodegeneratif berarti kelompok gangguan yang ditandai dengan kerusakan progresif sel-sel saraf di otak dan sistem saraf. Kondisi ini dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk gerakan, memori, dan kemampuan berpikir, sehingga berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya.
Baca Juga: Ketahui Empat Teknik Dasar Sepak Bola Berikut Ini, Mulai Jenis dan Cara Melakukannya Tekniknya
Mengetahui risiko cedera kepala pada pemain sepak bola profesional sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang. Cedera ini dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit neurodegeneratif, sehingga kesadaran dan pencegahan dapat melindungi kesehatan otak para atlet.
Berikut risiko cedera kepala pada pemain sepak bola profesional dan dampaknya terhadap penyakit neurodegeneratif dilansir dari laman Medicalxpress oleh JawaPos.com, Kamis (24/10):
1. Peningkatan Cedera Kepala di Sepak Bola
Berdasarkan penelitian Lancet Neurology, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah benturan kepala pada pemain sepak bola profesional selama empat Piala Dunia. Hal ini terlihat dari analisis video pertandingan Piala Dunia 1974, 1990, 2006, dan 2022.
Semakin agresifnya permainan berkontribusi pada risiko cedera kepala yang lebih tinggi di lapangan. Contoh pada Piala Dunia 1974 dan 1990, tercatat 4.478 benturan ke kepala, sementara di Piala Dunia 2006 dan 2022 mencapai 5.355 benturan.
2. Risiko Penyakit Neurodegeneratif Meningkat
Cedera kepala pada pemain sepak bola meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer, Parkinson, dan ALS. Paparan berulang terhadap benturan kepala menjadi faktor penting dalam munculnya kondisi ini.
Studi epidemiologi menunjukkan hubungan antara cedera kepala berulang dan peningkatan penyakit tersebut. Misal seorang mantan pemain sepak bola profesional yang aktif pada 1970-an menunjukkan gejala penyakit Alzheimer beberapa dekade setelah pensiun.
3. Evolusi Gaya Permainan Mempengaruhi Cedera
Gaya permainan sepak bola mengalami perubahan dalam lima puluh tahun terakhir, yang melibatkan agresivitas dan daya saing lebih tinggi. Hal ini menyebabkan peningkatan frekuensi benturan di kepala, baik antar pemain maupun akibat sundulan bola yang intens.
Perubahan ini membuat pemain lebih rentan terhadap cedera kepala serius. Seperti benturan antar pemain yang melibatkan siku ke kepala memerlukan perhatian medis pada 33% insiden selama Piala Dunia 2006 dan 2022.
4. Pentingnya Intervensi Medis di Lapangan
Cedera kepala membutuhkan penanganan medis yang cepat untuk mencegah komplikasi serius. Dalam beberapa kasus, pemain harus dikeluarkan dari pertandingan demi keselamatan.
Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya kehadiran tenaga medis di setiap pertandingan untuk merespons situasi darurat. Contoh selama Piala Dunia 2022, lima pemain harus keluar dari lapangan akibat cedera kepala yang memerlukan perhatian medis intensif.
5. Paparan Benturan Berulang Selama Karier
Pemain sepak bola profesional berisiko mengalami gegar otak akibat benturan berulang ke kepala sepanjang karier. Dalam dua puluh tahun karier, seorang pemain dapat menanduk bola hingga 2.000 kali, meningkatkan peluang cedera.
Paparan ini memperbesar risiko terhadap masalah neurologis di masa depan. Misal seorang pemain yang aktif selama sepuluh tahun memiliki kemungkinan 50% mengalami gegar otak akibat satu kali sundulan bola.
6. Pentingnya Pemantauan Pemain Veteran
Rencana untuk memantau pemain sepak bola veteran bertujuan mendeteksi tanda-tanda penyakit neurodegeneratif sejak dini. Penelitian ini menyoroti perlunya skrining secara berkala agar deteksi dini dan intervensi lebih cepat dilakukan.
Langkah ini membantu mengurangi dampak penyakit di kemudian hari. Seperti kelompok penelitian berfokus pada pemain sepak bola yang telah pensiun untuk menemukan penanda penyakit neurologis.
7. Langkah Pencegahan Resiko Cedera Kepala
Beberapa upaya dapat diterapkan untuk mengurangi risiko cedera kepala pada pemain sepak bola, termasuk program edukasi, perubahan aturan permainan, dan penggunaan peralatan pelindung. Langkah-langkah ini bertujuan mengurangi dampak benturan dan melindungi pemain dari risiko cedera jangka panjang.
Contoh penggunaan helm pelindung pada sesi latihan dapat membantu mengurangi resiko gegar otak akibat sundulan berulang.
Risiko cedera kepala pada pemain sepak bola profesional perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak yang terlibat dalam olahraga ini. Dengan meningkatkan kesadaran dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat, kemungkinan dampak jangka panjang berupa penyakit neurodegeneratif dapat diminimalkan.
