Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kerja Kupas Bawang, Tapi Masuk Desil 9: Warga Protes Data Bansos

FZ
Warga berpenghasilan rendah mengeluhkan salah pemeringkatan desil DTSEN hingga kehilangan bansos, KJP, dan kepesertaan JKN PBI. (Antara)
Warga berpenghasilan rendah mengeluhkan salah pemeringkatan desil DTSEN hingga kehilangan bansos, KJP, dan kepesertaan JKN PBI. (Antara)

Advertisement

JawaPos.com – Di usianya yang sudah 68 tahun dan hidup sendiri di kontrakan, Ehoy bertahan hidup hanya dengan menjadi pengupas bawang di pasar.

Tapi, "luar biasanya," dalam pengelompokan desil oleh BPS, nama warga Kramat Jati, Jakarta Timur, itu justru masuk ke dalam Desil 6 yang artinya masuk dalam kelompok mampu yang tidak menerima bansos.

Nasib serupa dialami Marni, warga Kramat Jati lainnya. Meski juga hanya bekerja sebagai pengupas bawang dan suaminya buruh harian lepas di Pasar Induk Kramat Jati, status keluarganya justru dicatat masuk ke dalam Desil 9, kategori masyarakat mampu atau kaya.

Advertisement

"Iya pengupas bawang, yang gajinya Rp700 ribu kilo itu (blunder statement Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan-Sidang Bersama MPR, DPR, DPD, 14 Agustus lalu, Red).

Padahal, cuma Rp2.500 per kilo. Malah desilnya sembilan," keluhnya lantas tertawa getir.

Di berbagai daerah, korban keanehan penyusunan desil ini banyak terjadi. Kemarin (17/9), Ehoy, Marni, dan ratusan korban salah pemeringkatan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) itu ramai-ramai menggeruduk kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta.

Advertisement

Mereka menyampaikan protes keras atas kekeliruan tersebut. Sebab, dampak kekeliruan fatal itu sangat luas. Misalnya, yang seharusnya masuk kategori tidak mampu akhirnya tidak mendapatkan bansos, seperti yang dialami Ehoy dan Marni. Atau ada pula yang beasiswanya diputus.

Para pendemo diterima langsung oleh Mensos Saifullah Yusuf dan Wamensos Agus Jabo Priyono di Taman Sekolah Rakyat, Kantor Kemensos. Dalam audiensi itu, Sri Sugiyarti, warga Rusunawa Pesakih, bercerita bahwa dia belum pernah dapat bantuan apa pun.

Padahal, ekonomi keluarganya jauh dari kata mampu. Suaminya stroke, anaknya pun baru lulus sekolah dan belum bekerja.

"Saya yang awalnya dagang sekarang vakum karena ngurus suami. Boleh cek data ke rumah," katanya dengan suara bergetar.

Advertisement
Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Hasil Pemutakhiran DTSEN: Penerima Bansos Tambah 470 Ribu Keluarga, Mensos Saifullah Yusuf Sebut Selalu Ada Perubahan Nama

Hasil Pemutakhiran DTSEN: Penerima Bansos Tambah 470 Ribu Keluarga, Mensos Saifullah Yusuf Sebut Selalu Ada Perubahan Nama

Penyaluran bantuan sosial (bansos) triwulan kedua 2026 mulai bergulir. Pemerintah menambah lebih dari 470 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) baru yang akan menerima bantuan periode ini.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer