Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Soal Putusan MK Mengenai Sekolah Gratis, Sekda Bambang Noertjahjo: Tangsel Sudah Implementasikan Sekolah Gratis Sejak 2022

Indri Ramadani • Jumat, 6 Juni 2025 | 11:43 WIB
Sekretaris Daerah Kota Tangsel, Bambang Noertjahjo. (Dok. tangerangselatankota.go.id)
Sekretaris Daerah Kota Tangsel, Bambang Noertjahjo. (Dok. tangerangselatankota.go.id)

JawaPos.com - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan sekolah gratis hingga jenjang SMP, termasuk di sekolah swasta, memicu berbagai respons. Di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kebijakan ini ternyata sudah lebih dulu dijalankan meskipun dengan pendekatan berbeda. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Daerah Kota Tangsel, Bambang Noertjahjo.

Bambang menjelaskan bahwa program pendidikan gratis telah mereka mulai sejak 2022. Pemerintah Kota Tangsel memberikan beasiswa kepada siswa yang tak tertampung di SMP negeri. Bantuan ini ditujukan bagi warga Tangsel yang butuh dukungan pendidikan namun harus melanjutkan di sekolah swasta.

Menurut Bambang, SD dan SMP negeri di Tangsel sudah sejak lama tidak dipungut biaya. Sementara itu, beasiswa bagi siswa SMP swasta diberikan secara selektif. Salah satu syaratnya adalah siswa pernah mendaftar ke sekolah negeri namun tidak diterima.

Perluasan Bertahap, Menyesuaikan Anggaran

Bambang menyebutkan bahwa bantuan pendidikan gratis memang belum mencakup seluruh siswa sekolah swasta. Namun demikian, jumlah penerima beasiswa ditambah setiap tahun. Ia mengatakan, "Sebetulnya kita sudah melakukan, hanya volumenya saja yang belum keseluruh swasta."

Terkait tindak lanjut putusan MK, Bambang menegaskan perlunya penyesuaian. Ia menilai implementasi kebijakan ini harus sejalan dengan kemampuan anggaran daerah.

"Karena ini bukan hanya bicara masalah kebijakan dunia pendidikan, tapi juga berhubungan dengan penganggaran dan sebagainya," ujar Bambang.

Di kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Deden Deni, menjelaskan lebih rinci soal beasiswa tersebut. Menurutnya, beasiswa telah digulirkan sejak tahun anggaran 2022. Program ini menyasar 5.000 siswa SMP swasta setiap tahunnya.

Beasiswa Sebagai Stimulus

Beasiswa diberikan dalam bentuk pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Harapannya, anak-anak tetap semangat menimba ilmu meski tak diterima di sekolah negeri.

"Ini stimulus untuk berprestasi, karena anak fokus belajar, tidak memikirkan biaya sekolah," ucap Deden.

Dengan adanya bantuan tersebut, beban orang tua pun lebih ringan. Tidak hanya mengurangi biaya SPP, tapi juga membantu operasional dan transportasi anak. Anak-anak yang sebelumnya mungkin putus asa, kini tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa kendala biaya.

Baca Juga: Raih Berkah Idul Adha! Ini 5 Amalan Sunah yang Bisa Kamu Lakukan

Sekolah Negeri vs Swasta: Apa Bedanya?

Masyarakat sering membandingkan sekolah negeri dan swasta dari berbagai sisi. Salah satu yang paling mencolok tentu soal biaya. Sekolah negeri umumnya lebih terjangkau karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Sebaliknya, sekolah swasta mematok biaya yang lebih tinggi. Bahkan ada uang pangkal, uang bangunan, dan biaya tahunan lain yang harus dibayar. Kualitas sekolah swasta sering kali sebanding dengan besarnya biaya yang dibebankan.

Fasilitas, Kurikulum, dan Lingkungan Belajar

Perbedaan biaya ini turut memengaruhi fasilitas sekolah. Sekolah negeri umumnya memiliki fasilitas yang seragam, bergantung pada bantuan pemerintah. Sementara sekolah swasta, terutama yang berbiaya tinggi, bisa menawarkan fasilitas lebih lengkap seperti ruang multimedia atau lapangan tenis.

Dari sisi kurikulum, sekolah negeri wajib mengikuti standar nasional dari Kemendikbud. Berbeda dengan sekolah swasta yang lebih fleksibel dan bisa menggunakan kurikulum internasional seperti Cambridge. Hal ini tentu memengaruhi metode dan suasana pembelajaran di kelas.

Dinamika Guru dan Siswa

Jumlah siswa per kelas di sekolah negeri cenderung lebih banyak, bisa mencapai 40 orang. Ini membuat proses belajar lebih satu arah dan interaksi terbatas. Di sekolah swasta, kelas lebih kecil dan bisa ditangani lebih dari satu guru.

Kondisi tersebut memungkinkan pembelajaran berlangsung lebih interaktif. Guru bisa lebih mengenal karakter masing-masing siswa. Suasana belajar pun menjadi lebih kondusif dan personal.

Pergaulan: Beragam vs Homogen

Sekolah negeri dikenal dengan keberagaman siswanya. Siswa dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan agama berkumpul dan belajar bersama. Ini menciptakan lingkungan yang inklusif dan dinamis.

Sebaliknya, beberapa sekolah swasta punya karakteristik lebih homogen. Misalnya, ada sekolah berbasis agama yang siswanya cenderung berasal dari keyakinan yang sama. Hal ini membentuk suasana yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#mk #tangerang selatan #tangsel #sekolah gratis #Bambang Noertjahjo