JawaPos.com - Di tengah deretan ruko di kawasan BSD Serpong, Tangerang Selatan, berdiri sebuah museum unik yang menyimpan lebih dari sekadar koleksi buku yaitu Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Didirikan oleh Azmi Abubakar, seorang pria asal Aceh, museum ini menjadi rumah bagi lebih dari 40.000 literatur, termasuk buku, majalah, komik, dan dokumen yang merekam jejak sejarah komunitas Tionghoa di Indonesia.
Azmi mulai mengumpulkan koleksi sejak 1999, terdorong oleh keprihatinan atas minimnya pemahaman masyarakat terhadap kontribusi etnis Tionghoa. Kerusuhan Mei 1998 menjadi titik balik yang mendorongnya untuk mendokumentasikan sejarah yang terlupakan.
Museum ini menyimpan beragam artefak, mulai dari akta kelahiran era Hindia Belanda hingga papan nama sekolah Tiong Hoa Hwee Kwan dari tahun 1900. Setiap item menjadi saksi bisu perjalanan panjang asimilasi dan kontribusi budaya Tionghoa di Indonesia.
Menariknya, Azmi membiayai museum ini secara mandiri tanpa bantuan dari komunitas Tionghoa, sebagai bentuk dedikasinya terhadap pelestarian sejarah. Ia menolak bantuan finansial, meyakini bahwa inisiatif ini adalah tanggung jawab bersama sebagai bangsa.
Museum ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga pusat penelitian bagi akademisi dan peneliti budaya. Koleksinya yang kaya menjadi sumber primer yang langka untuk studi tentang sejarah dan budaya Tionghoa di Indonesia.
Salah satu koleksi yang menonjol adalah surat kabar berbahasa Tionghoa terbitan tahun 1906, yang memberikan gambaran tentang kehidupan komunitas Tionghoa pada masa itu. Dokumen-dokumen seperti ini jarang ditemukan di arsip nasional, menjadikan museum ini sebagai harta karun sejarah.
Azmi berharap museum ini dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan pemahaman dan toleransi antar etnis di Indonesia. Dengan mengenal sejarah, diharapkan masyarakat dapat menghapus stigma dan prasangka yang masih ada.
Museum ini juga menjadi tempat edukasi bagi generasi muda, mengenalkan mereka pada keberagaman budaya yang membentuk identitas bangsa. Program-program edukatif dan pameran tematik rutin diadakan untuk menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.
Lokasinya yang strategis di kawasan BSD memudahkan akses bagi pengunjung dari Jakarta dan sekitarnya. Meski tampil sederhana, museum ini menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa.
Azmi terus berkomitmen untuk mengembangkan museum ini, dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak orang dan memperluas koleksi yang ada. Ia percaya bahwa pelestarian sejarah adalah investasi untuk masa depan yang lebih inklusif.
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa menjadi bukti nyata bahwa inisiatif individu dapat memberikan dampak besar dalam pelestarian budaya. Dengan semangat dan dedikasi, Azmi telah menciptakan ruang yang menghidupkan kembali sejarah yang nyaris terlupakan.
Bagi siapa pun yang ingin memahami lebih dalam tentang kontribusi komunitas Tionghoa dalam sejarah Indonesia, museum ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Di setiap sudutnya, tersimpan cerita yang menanti untuk diceritakan kembali. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah