Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Banyak Masalah! Baru Sebulan Berjalan, 9 Siswa Sekolah Rakyat di Tangsel Mengundurkan Diri

Muhtamimah • Rabu, 17 September 2025 | 15:53 WIB
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie bersama Komisi VIII DPR RI meninjau kegiatan belajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33 Kota Tangsel, Serpong Utara, Rabu (17/9).
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie bersama Komisi VIII DPR RI meninjau kegiatan belajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33 Kota Tangsel, Serpong Utara, Rabu (17/9).

JawaPos.com - Baru sebulan diresmikan, Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sudah menghadapi tantangan serius. Sembilan dari 150 siswa sekolah berasrama tersebut memilih mengundurkan diri.

SRMA 33 yang berlokasi di Jelupang, Serpong Utara, merupakan sekolah gratis yang digagas pemerintah untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem (desil 1 dan 2). Sekolah ini dibuka resmi pada 15 Agustus 2025 lalu, dan menjadi bagian dari upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan berkualitas.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Golkar Singgih Januratmoko menyebut, pengunduran diri sembilan siswa bukan disebabkan kaburnya siswa, melainkan karena kesulitan adaptasi. Mereka belum siap dengan sistem asrama dan kedisiplinan.

"Bukan kabur lah, mengundurkan diri. Sembilan orang. Ada beberapa alasan, rata-rata masih 'homesick', belum terbiasa bangun pagi, shalat subuh, olahraga, dan jadwal ketat lainnya," jelas Singgih saat meninjau kegiatan belajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33 Kota Tangsel bersama anggota Komisi VIII DPR RI, kemarin (17/9).

Dia pun menyarankan agar masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) diperpanjang. Sebelumnya hanya dua minggu, nanti diperpanjang hingga dua atau tiga bulan.

"Jadi guru-gurunya memang harus dievaluasi terus supaya nanti apa yang kita harapkan nanti bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

Masalah lain yang menjadi sorotan adalah perilaku beberapa siswa yang sudah terpapar kebiasaan buruk seperti merokok. Singgih berharap ada intervensi dari Kemensos agar sekolah punya sistem bimbingan konseling (BK) yang lebih kuat.

Sementara itu, Kepala SRMA 33 Tangsel Gina Intana Dewi mengungkap, sebagian besar siswa membawa persoalan psikologis sejak dari rumah. Sebagian dari mereka yatim, yatim piatu, atau berasal dari keluarga broken home.

Gina menjelaskan, dari sembilan siswa yang keluar, semuanya sudah melalui proses asesmen ketat oleh guru BK dan tim psikolog. "Ada yang dijemput orang tuanya, ada juga yang pulang sendiri tanpa sepengetahuan kami. Kami selalu berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan PKH di daerah asal mereka," terang Gina.

Dari catatan pihak sekolah, siswa yang mengundurkan diri berasal dari berbagai daerah, yakni empat dari Kabupaten Tangerang, dua dari Pandeglang, satu dari Kota Tangerang Selatan, satu dari Kota Serang, dan satu dari Cilegon.

"Yang sembilan orang ini, rata-rata sebelum mereka mengundurkan diri itu memang sudah menunjukkan gejala tidak betah. Kami sudah asesmen catatan kasusnya, catatan penanganannya lengkap di BK. Namun, pada akhirnya mereka memang tidak mau melanjutkan," pungkasnya.

Baca Juga: Keterlibatan Perempuan di Politik Masih Rendah, Wawali Tangerang Maryono Hasan Ajak Generasi Muda Terjun Langsung

 
Editor : Hendra
#tangerang selatan #tangsel #Sekolah Rakyat