Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Resensi Buku: Mengurai Makna Kehidupan dalam “Hujan” Karya Tere Liye

Rita Salsabilla • Sabtu, 9 November 2024 | 17:05 WIB
Dalam genre fiksi ilmiah yang penuh dengan emosi, Hujan karya Tere Liye berhasil menyuguhkan pesan mendalam tentang cinta dan kehilangan. (Dok. Telkomsel)
Dalam genre fiksi ilmiah yang penuh dengan emosi, Hujan karya Tere Liye berhasil menyuguhkan pesan mendalam tentang cinta dan kehilangan. (Dok. Telkomsel)

JawaPos.com - Dalam genre fiksi ilmiah yang penuh dengan emosi, Hujan karya Tere Liye berhasil menyuguhkan pesan mendalam tentang cinta, persahabatan, perjuangan hidup, dan keteguhan hati dalam menerima kehilangan. 

Berlatar tahun 2042 dengan suasana teknologi di masa depan, mengisahkan perjuangan hidup seorang gadis muda berusia 13 tahun bernama Lail yang harus menghadapi bencana besar dan keputusan-keputusan emosional yang mempengaruhi hidupnya.

Bermula dari bencana di hari pertama sekolah yang mengubah hidupnya, hujan lebat, gempa bumi, dan letusan gunung berapi merenggut nyawa kedua orang tua Lail. Beruntungnya Lail diselamatkan oleh pertolongan seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, Esok namanya. 

Nasib Lail yang yatim piatu berubah ketika Esok datang di kehidupannya. Ikatan mereka menjadi semakin kuat, menyerupai hubungan kakak dan adik. Mereka tinggal di sebuah pengungsian selama kurang lebih setahun, hingga akhirnya keadaan memisahkan mereka. 

Lail tinggal di panti asuhan bersama Maryam, gadis ceria berambut kribo yang selalu bersamanya. Sementara itu, Esok diadopsi oleh keluarga wali kota. Meski terpisah, Lail dan Esok masih terhubung satu sama lain. Saat Esok memutuskan untuk bergabung dalam proyek luar angkasa, mereka harus menghadapi dilema emosional dan moral yang berat. 

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya,” Maryam berkata seolah dengan serius (hal 201).

Puncak cerita terjadi ketika Esok harus memilih antara dua tiket untuk menyelamatkan dirinya dan orang yang dicintainya. Dalam situasi yang tidak pasti, Lail hampir menghapus ingatannya tentang Esok yang dibuat dengan teknologi futuristik.

Namun ia memilih untuk menerima masa lalu dan realitasnya. Keputusan ini membuat mereka bahagia, sehingga mereka memutuskan untuk tinggal di Bumi dan memulai hidup bersama.

"Bukan melupakan yang jadi masalahnya, tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." – Tere Liye, Hujan

Tere Liye menyisipkan kisah yang bukan hanya sekadar cerita, tetapi juga pelajaran hidup yang mendalam. Dalam Hujan, penulis mengajak pembaca menyelami dimensi cinta, persahabatan, dan keberanian dalam hidup melalui karakter utamanya, Lail. 

Melalui Lail, pembaca diajak memahami bahwa melupakan bukanlah jalan keluar dari rasa sakit. Sebaliknya, penerimaanlah yang menjadi kunci untuk melangkah maju. 

Hubungannya dengan Maryam pun menjadi pelajaran tentang persahabatan sejati yang selalu saling mendukung di tengah suka maupun duka. Bahkan ketika hubungannya dengan Esok mengalami kerenggangan, Lail tetap menjaga persahabatannya dengan tulus.

Novel ini mengajarkan makna cinta yang lebih luas antara anak, orang tua, sahabat, hingga cinta pada kehidupan itu sendiri. Dalam latar dunia masa depan yang penuh tantangan, Hujan menyisipkan pesan-pesan moral yang relevan di segala kalangan, seperti pentingnya gotong royong, ketangguhan, dan nilai kemanusiaan.

Tere Liye menyampaikan narasi yang mengalir ringan namun penuh emosi. Nama-nama tokoh yang unik dan jumlah karakter yang tidak berlebihan memudahkan pembaca untuk terhubung dengan cerita.

Namun, sangat disayangkan penggambaran karakter Lail terkadang kurang kuat dan kurang inisiatif. Lail terlihat lebih sebagai pengikut daripada inisiator dalam beberapa situasi, sehingga tergantung pada karakter lain seperti Maryam yang terlihat lebih mendominasi. 

Imajinasi futuristik yang dihadirkan juga tidak terasa berlebihan, memberikan kesan yang inspiratif dan menyegarkan. Melalui ceritanya, pembaca akan merasakan emosi pilu sekaligus harapan yang menjadi inti dari kehidupan.

"Hidup bahagia bukan tentang melupakan, melainkan tentang menerima." Kalimat ini menjadi inti pesan yang ingin disampaikan oleh novel Hujan. Sebagaimana hujan yang turun dan akhirnya reda, hidup juga mengajarkan kita untuk bertahan dan berdamai dengan kenyataan.

Melupakan dalam novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang ingin melupakan seseorang dengan cara yang salah, dan kemudian menyadari bahwa tindakannya itu salah. 

Ratusan orang pernah berada di ruangan tersebut untuk melupakan seseorang, padahal sebenarnya yang harus dilakukan adalah menerima. Jika ia tidak mampu menerimanya, maka ia tidak akan bisa melupakannya.

Hujan mengajarkan banyak hal tentang pentingnya tegar meski badai datang, tentang yakin bahwa masih ada orang baik yang akan menguatkan. Bagaimana arti kebahagiaan sejati yang lahir dari keikhlasan, dan persahabatan sejati adalah ketika kita saling mendukung, tak peduli suka maupun duka.

 

Spesifikasi buku:

Judul: Hujan

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 320 halaman

Cetakan: ke-27, April 2018

ISBN: 978-602-03-2478-4

Editor : Hendra
#tere liye #resensi buku #hujan