JawaPos.com - Keberagaman dan keunikan hayati merupakan salah satu ciri-ciri unik yang dimiliki oleh Indonesia. Negeri ini menjadi habitat asli dari sekitar 2.850 hewan dan 35.000 tumbuhan yang tersebar dari Sabang sampai Papua.
Hanya saja, akibat bencana alam dan ulah manusia, sejumlah hewan dan tumbuhan kini menjadi langka, bahkan dinyatakan punah. Nasib buruk menimpa dunia satwa Indonesia. Banyak yang dinyatakan punah akibat kehilangan habitat dan pemburuan liar.
Misalnya, Harimau Jawa dan Harimau Bali yang dulu sempat dimiliki Indonesia. Subspesies harimau ini dinyatakan punah sejak tahun 1980-an dan 1937 akibat perburuan liar dan perluasan lahan pertanian.
Sekarang, hanya tersisa satu subspesies harimau asli Indonesia, yaitu Harimau Sumatera. Saat ini, jumlahnya juga semakin sedikit. Harimau Sumatera dinyatakan sebagai salah satu hewan langka dan perlu dilindungi Indonesia.
Takdir pahit itu kini mesti pula dirasakan oleh sejumlah fauna lain di Nusantara yang terpaksa menyandang status langka. Berikut daftarnya sebagaimana dirangkum oleh reporter Jawa Pos Tangsel dari laman Kementerian Lingkungan Hidup, Taman Nasional Ujung Kulon, serta organisasi pemerhati lingkungan hidup WWF:
Badak Jawa
Badak Jawa merupakan salah satu satwa langka Indonesia, dan merupakan salah satu satwa yang menjadi prioritas utama konservasi Pemerintah Indonesia. Di tahun 2021, sebanyak 75 ekor Badak Jawa berada di Taman Nasional Ujung Kulon.
Dikarenakan jumlahnya yang sedikit, Taman Nasional Ujung Kulon selalumelakukan pencatatan dan kontrol populasi Badak Jawa menggunakan metode kamera jebak. Melalui metode ini, Tim Monitoring dapat mengetahui jumlah Badak Jawa yang terdapat di sana.
Keberhasilan metode kamera jebak menunjukkan hasil belum lama ini. Pada 07 Mei 2024 terekam induk Badak Jawa dan anakan Badak Jawa yang diperkirakan masih berusia 3 sampai 5 bulan. Dengan terekamnya satu anakan Badak Jawa, tentunya merupakan sebuah kabar gembira bagi Taman Nasional Ujung Kulon.
Tetapi walaupun terdapat peningkatan pada jumlah populasi Badak Jawa, upaya perlindungan wajib untuk terus dilakukan karena ancaman seperti aktivitas perburuan, penyakit, dan bencana alam masih dapat terjadi.
Owa Jawa
Owa Jawa menjadi satwa Indonesia yang juga dinyatakan terancam punah. Owa Jawa merupakan primata (kera) yang paling langka di dunia. Populasi Owa Jawa sayangnya semakin menurun, pada tahun 2013 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia mencatat bahwa populasi Owa Jawa tidak lebih dari 4.000 ekor, sedangkan pada tahun 2023 jumlah populasinya hanya diperkirakan tersisa 1.000 – 2.000 ekor saja.
Menurunnya jumlah Owa Jawa di Indonesia diakibatkan oleh tempat tinggal mereka yang semakin sedikit akibat pembangunan dan peningkatan populasi. Karena hal ini, upaya perlindungan dan konservasi Owa Jawa perlu dilakukan agar Owa Jawa tidak dinyatakan punah.
Taman Nasional Ujung Kulon melakukan upaya konservasi dan perlindungan Owa Jawa dengan melakukan pemulihan ekosistem habitat atau proses suksesi alami. Melalui kegiatan ini, Tim Taman Nasional Ujung Kulon akan melihat kondisi sebenarnya dari lokasi yang dapat mengancam jumlah populasi Owa Jawa.
Gajah Sumatera
Gajah Sumatera merupakan salah satu subspesies gajah Asia yang berada di Indonesia dan berstatus langka. Kelangkaan Gajah Sumatera ini diakibatkan oleh semakin mengurangnya habitat dan adanya pemburuan terhadap Gajah Sumatera.
Berdasarkan data yang dimiliki oleh World Wide Fund (WWF) jumlah populasi Gajah Sumatera hanya sekitar 2.400-2.800 ekor saja. Sedangkan berdasarkan data pada Taman Nasional Way Kambas, pada tahun 2020 jumlah populasi Gajah Sumatera yang terdapat di Taman Nasional Way Kambas hanya 64 ekor, dan kemudian menurun menjadi 61 ekor saja pada tahun 2023.
Penurunan pada populasi Gajah Sumatera pada Taman Nasional Way Kambas bukan merupakan kabar yang menyenangkan, ditambah dengan kesulitan peningkatan populasi akibat proses kehamilan Gajah Asia yang berlangsung selama 18-22 bulan.
Namun, Taman Nasional Way Kambas terus melakukan upaya untuk melindungi Gajah Sumatera dan mengontrol peningkatan pada populasi Gajah Sumatera. Hal ini dapat dilihat dengan lahirnya seekor Gajah Sumatera pada 26 Februari 2024 silam di Taman Nasional Way Kambas.
Upaya Pelestarian Satwa Nusantara
Jika upaya peningkatan populasi satwa tidak memberikan hasil yang positif, maka status satwa yang tadinya langka dapat berubah menjadi punah. Tidak berhasilnya upaya peningkatan populasi satwa dapat diakibatkan oleh beberapa hal, di antaranya bencana alam, perburuan liar, pembakaran hutan atau lahan, penebangan hutan, penjualan satwa secara ilegal, dan sebagainya.
Indonesia perlu menumbuhkan kesadaran dan meluncurkan aksi untuk melindungi satwa-satwa unik yang dimiliki oleh Indonesia, sebelum satwa tersebut dinyatakan sebagai satwa yang terancam punah atau bahkan punah.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan penduduk Indonesia di antaranya sosialisasi dan edukasi mengenai kelangkaan dan faktor penyebab kelangkaan satwa Indonesia, mendukung upaya pelestarian lingkungan, mengajak warga untuk mematuhi peraturan dan larangan yang ada, melaporkan tindakan ilegal seperti jual-beli satwa langka dan perburuan liar.
Editor : Hendra