IHSG Masih Tertekan, Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi AI

Muhtamimah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 11:01 WIB
Ilustrasi - Wall Street menguat ditopang saham teknologi berbasis AI, tetapi IHSG masih dibayangi tekanan global akibat harga minyak dan US Treasury. (Dok. JP)
Ilustrasi - Wall Street menguat ditopang saham teknologi berbasis AI, tetapi IHSG masih dibayangi tekanan global akibat harga minyak dan US Treasury. (Dok. JP)

JawaPos.com - Pergerakan pasar saham global masih diwarnai volatilitas tinggi. Wall Street berhasil menguat pada perdagangan akhir pekan, ditopang saham-saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan, kenaikan indeks S&P 500 dan Nasdaq masih dibarengi volatilitas tinggi. Investor terus mencermati ketidakpastian dampak AI sekaligus memilah sektor industri yang berpotensi diuntungkan maupun dirugikan oleh teknologi tersebut.

“Selain itu, faktor harga minyak yang tinggi dan kenaikan imbal hasil Treasury AS baru-baru ini membuat investor tetap waspada,” kata Hans, kemarin (27/9).

Kekhawatiran terhadap inflasi juga kembali menjadi perhatian pasar. Sikap sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih mencermati risiko inflasi turut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS cenderung ketat.

Ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed kemudian mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury. “Para trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 66 persen pada Oktober dan 93 persen pada Desember,” tutur Hans.

Kondisi tersebut membuat pasar saham global bergerak lebih volatil. Investor perlu memperhitungkan dampak suku bunga tinggi terhadap valuasi saham, sekaligus mencermati perkembangan sektor teknologi yang mendapatkan sentimen positif dari pesatnya investasi dan penggunaan AI.

Bursa Eropa Ikut Menguat

Di Eropa, bursa saham berhasil mengakhiri tren penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Penguatan terjadi setelah harga minyak mengalami penurunan.

Meski demikian, investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan imbal hasil obligasi global. Dua faktor tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar.

Dari dalam negeri, IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan. Minimnya sentimen positif domestik membuat pergerakan indeks berpotensi lebih banyak dipengaruhi perkembangan pasar global.

“Pelemahan pasar dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) serta masih tingginya harga minyak mentah. Peluang rebound IHSG masih terbuka dengan potensi penguatan terbatas dengan support di level 6.200 sampai level 6.029. Sedangkan, resistance di level 6.287 sampai level 6.521,” imbuh Hans.

BEI Terapkan Harga Minimum Saham Rp1

Di tengah kondisi pasar yang masih volatil, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan seluruh Anggota Bursa (AB) telah siap menerapkan kebijakan harga minimum saham menjadi Rp1 per saham.

Kebijakan tersebut mulai efektif pada perdagangan Senin (28/9). Aturan itu menghapus batas harga minimum saham sebelumnya yang berada di level Rp50 per saham.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan seluruh anggota bursa telah melakukan persiapan untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut.

“Seluruh anggota bursa sudah siap untuk mengimplementasikan penghapusan harga minimum Rp50 nanti di perdagangan tanggal 28 September, hari Senin. 28 September hari Senin ini akan efektif diberlakukan,” kata Jeffrey.

Jeffrey mengatakan BEI akan terus mengevaluasi pelaksanaan kebijakan setelah diterapkan. Hasil evaluasi nantinya akan disampaikan kepada publik.

“Evaluasi akan kami lakukan terus. Tetapi, kami berharap ini akan meningkatkan likuiditas dan menghadirkan price discovery yang lebih baik atas saham-saham yang selama ini memang sudah lama ada di harga Rp50 dan tidak ada likuiditas,” ujarnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Sepekan Terakhir

Tanggal Harga Penutupan

21 September 6.384,73

22 September 6.277,04

23 September 6.374,9

24 September 6.298,61

25 September 6.241,89

 

Sumber: IDX

 

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Bursa Saham Wall Street Saham Teknologi bei ihsg