JawaPos.com - Pemerintah menyiapkan proyek besar di sektor ketenagalistrikan dengan target tambahan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt (GW). Ambisi tersebut membutuhkan investasi sekitar USD 70-73 miliar atau puluhan miliar dolar AS.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan kapasitas listrik merupakan bagian dari program konkret pemerintah dalam menjalankan transisi energi. Namun, kebutuhan modal menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan sistem kelistrikan nasional.
Pasalnya, penambahan kapasitas pembangkit juga harus diikuti pembangunan infrastruktur pendukung agar pasokan listrik dapat tersalurkan.
”Di RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik), kami menambah 100 gigawatt. Kami dorong 70 persen (dari total kapasitas pembangkit baru, Red) energi baru terbarukan,” ujar Bahlil di Jakarta kemarin (23/9).
Dengan kebutuhan investasi mencapai USD 70 miliar-73 miliar, pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha dan investor. Pengembangan proyek juga diarahkan tetap memperhatikan penggunaan komponen dalam negeri.
Rencana pembangunan pun tidak berhenti pada pembangkit. Sistem kelistrikan nasional juga membutuhkan jaringan transmisi baru untuk menghubungkan kapasitas listrik yang dikembangkan.
Ketua Dewan Pengawas Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Darmawan Prasodjo menyebut pembangunan kelistrikan melalui RUPTL akan mencakup jaringan transmisi sepanjang 48 ribu kilometer sirkuit.
”Jawabannya hanya satu, siap Bapak laksanakan,” ujar pria yang juga menjabat Direktur Utama PT PLN itu.
Pembangunan pembangkit dan jaringan transmisi merupakan pekerjaan rumah besar yang jarang disadari masyarakat awam. Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan investor.
Pemerintah menilai kolaborasi antar pemangku kepentingan diperlukan agar rencana pengembangan kapasitas listrik dapat berjalan. (bry/bil)
Editor : HendraSumber : Jawa Pos Koran