Arab Saudi Tertekan Diserang Houthi, Pasukan Yaman Rebut Gunung Strategis

Ferlynda Putri Sofyandari • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:36 WIB
Arab Saudi menghadapi serangan Houthi, sementara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh merebut Gunung Qarfan di Provinsi Taiz.  (Dok. China Daily)
Arab Saudi menghadapi serangan Houthi, sementara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh merebut Gunung Qarfan di Provinsi Taiz. (Dok. China Daily)

JawaPos.com - Arab Saudi menghadapi tekanan serius akibat serangan Houthi. Namun, Amerika Serikat (AS) memilih tidak mengerahkan pasukan untuk membantu Riyadh secara langsung. Di tengah minimnya dukungan militer Washington, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi justru mulai merebut sejumlah titik strategis dari Houthi.

Dilansir Middle East Eye (MEE), Senin (21/9), Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman disebut meminta dukungan AS untuk menghadapi Houthi. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak keterlibatan militer langsung.

Washington hanya menawarkan berbagi informasi intelijen dan membantu Riyadh dalam operasi penargetan. Menurut analisis jurnalis MEE Joe Gill, Trump berusaha menghindari pembukaan front baru karena pasukan AS sudah terlibat dalam konflik dengan Iran.

Serangan Houthi terus menyasar wilayah Saudi. Pada Sabtu (19/9), koalisi pimpinan Saudi di Yaman menyatakan berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh. Serangan tersebut dilaporkan memicu kepulan asap hitam di kawasan penyimpanan bahan bakar Bandara Internasional King Khalid.

Jeddah, Taif, dan Yanbu juga menjadi sasaran. Infrastruktur energi Saudi turut terancam.

Menghadapi situasi tersebut, Riyadh mengandalkan sistem pertahanan udara, pasukan koalisi, serta kerja sama dengan negara-negara kawasan. Bulan lalu, Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani perjanjian pertahanan bersama di Mekah. Kesepakatan itu menyatakan serangan bersenjata terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Riyadh juga memperkuat jalur diplomasi. Mohammed bin Salman bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo. Raja Salman juga membahas stabilitas kawasan, keamanan, dan kebebasan navigasi maritim dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Pasukan Yaman Rebut Gunung Strategis

Sementara itu, pertempuran di Yaman memasuki perkembangan baru.

Dilansir Al Jazeera, Selasa (23/9), pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi mengklaim menguasai sepenuhnya Gunung Qarfan di Provinsi Taiz, Yaman barat. Kawasan tersebut direbut setelah pasukan pemerintah terlibat pertempuran sengit dengan Houthi.

Kepala Staf Poros Militer Taiz Mayor Jenderal Abdulaziz al-Majidi mengatakan lima pejuang Houthi tewas dan 20 lainnya terluka dalam pertempuran tersebut.

"Kami berhasil mengembalikan kendali atas gunung tersebut," kata al-Majidi.

Hingga berita ini ditulis, Houthi belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Penguasaan Gunung Qarfan dinilai strategis karena memberikan posisi untuk mengawasi lembah-lembah di sekitarnya, termasuk kawasan antara Distrik ash-Shamaytaun dan al-Waziiya.

Pertempuran tersebut juga berkaitan dengan perebutan kawasan pegunungan yang menghadap Selat Bab al-Mandeb dan Pulau Mayyun di Laut Merah.

Houthi sebelumnya merebut sejumlah wilayah pesisir, termasuk Pelabuhan Mocha.

Peneliti Middle East Council on Global Affairs Faozi Al-Goidi mengatakan penguasaan wilayah pegunungan dapat memperkuat posisi Houthi di kawasan pesisir.

"Pegunungan merupakan tembok alami yang melindungi bagian belakang Houthi di pesisir. Menguasai pegunungan tersebut akan memutus akses pantai dari wilayah selatan yang dikuasai pemerintah dan memberikan tekanan langsung terhadap Lahj dan, dalam jangka panjang, Aden," kata Al-Goidi.

Krisis Kemanusiaan Memburuk

Di tengah pertempuran, krisis kemanusiaan di Yaman ikut memburuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 674 orang tewas dan hampir 3.000 lainnya terluka sejak pertempuran kembali berkobar pada 6 Agustus.

Lebih dari 158.000 orang juga dilaporkan mengungsi sepanjang bulan ini.

Asisten Profesor Universitas Wilayah Saba Ibrahim Al-Huri mengatakan warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak.

"Orang-orang menjadi putus asa. Mereka kehilangan rumah, ladang, sumber pendapatan, dan banyak yang mengungsi ke kamp-kamp penuh sesak," katanya. (lyn/oni)

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Houthi Yaman arab saudi donald trump timur tengah