JawaPos.com – Pasar kripto Indonesia belum sepenuhnya bergairah. Nilai transaksi aset kripto di pasar spot sepanjang Juli 2026 merosot menjadi Rp20,52 triliun. Namun, penurunan aktivitas perdagangan itu justru terjadi ketika jumlah pengguna aset kripto terus bertambah.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen aset kripto mencapai. Angka tersebut tumbuh 1,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital OJK Adi Budiarso mengatakan, pelemahan transaksi juga terjadi pada perdagangan derivatif aset keuangan digital.
Nilai transaksi derivatif tercatat Rp3,41 triliun pada Juli 2026. ”Ini disinyalir sesuai dengan dinamika dan fluktuasi nilai transaksi,” ujarnya kemarin (9/9).
Penurunan nilai transaksi menunjukkan aktivitas perdagangan kripto tengah menghadapi tekanan setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan cukup signifikan. Namun, kondisi tersebut belum membuat minat masyarakat terhadap aset digital ikut surut.
“Kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset digital termasuk aset kripto di Indonesia secara umum masih terjaga dan menunjukkan perkembangan yang positif,” jelas Adi.
PASAR SIDEWAYS BIKIN TRADER SELEKTIF
CEO FLOQ Yudhono Rawis menilai, pergerakan pasar yang cenderung sideways menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas perdagangan.
Ketika harga aset bergerak dalam rentang yang relatif terbatas dan belum memiliki katalis kuat, investor maupun trader cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Dampaknya, volume transaksi ikut tertekan.
“Kalau kita melihat dari perspektif industri, penurunan volume transaksi dalam satu bulan merupakan bagian dari dinamika pasar. Yang menarik justru jumlah pengguna masih bertumbuh,” jelasnya.
Menurut Yudhono, pertumbuhan jumlah akun menunjukkan ketertarikan masyarakat terhadap aset digital masih terjaga. Kondisi tersebut menjadi modal bagi industri untuk memperkuat ekosistem, bukan sekadar mengejar lonjakan volume transaksi saat harga aset bergerak tinggi.
Edukasi, keamanan, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengalaman pengguna dinilai menjadi fondasi penting agar pertumbuhan pengguna berlangsung secara berkelanjutan.
”Kita juga perlu membangun ekosistem yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab. Sehingga, masyarakat memiliki kepercayaan untuk berpartisipasi dalam jangka panjang,” paparnya.
DERIVATIF IKUT MELEMAH
Pelemahan juga terlihat pada perdagangan derivatif aset keuangan digital. Penurunan 18,52 persen menjadi Rp3,41 triliun menunjukkan pelaku pasar cenderung mengurangi aktivitas ketika kondisi pasar belum memberikan katalis yang cukup kuat.
“Pelemahan transaksi kripto pada Juli belum dapat diartikan sebagai berhentinya pertumbuhan ekosistem aset digital Indonesia. Justru, pertumbuhan basis pengguna menunjukkan bahwa ruang adopsi masih terbuka,” tuturnya.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah aktivitas sektor keuangan digital yang masih berjalan. (bil/dio)
TRANSAKSI KRIPTO BULANAN SEPANJANG 2026
Bulan | Spot (Rp triliun) | Derivatif (Rp triliun)
Januari | 29,28 | 8,01
Februari | 24,33 | 5,07
Maret | 22,34 | 5,80
April | 22,98 | 5,10
Mei | 23,01 | 4,04
Juni | 28,58 | 4,19
Juli | 20,52 | 3,41
Total | 171,12 | 32,53
Sumber : OJK, Jawa Pos Koran