Profil Arie Basuki: Wartawan Merdeka.com yang Hilang Saat Liputan Gunung Anak Krakatau

Hendra • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 22:22 WIB
Arie Basuki, pewarta foto Merdeka.com peraih World Press Photo, hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau. Ini profil dan rekam jejaknya. (Dok. Arie Basuki)
Arie Basuki, pewarta foto Merdeka.com peraih World Press Photo, hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau. Ini profil dan rekam jejaknya. (Dok. Arie Basuki)

JawaPos.com – Nama Arie Basuki kembali menjadi perhatian setelah pewarta foto senior Merdeka.com itu dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Banten.

Arbas, sapaan akrabnya, merupakan salah satu dari lima pewarta foto yang hingga Rabu (9/9/2026) masih dalam pencarian setelah rombongan mereka hilang kontak dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Mereka berangkat menggunakan kapal cepat dari wilayah Carita, Kabupaten Pandeglang, untuk meliput aktivitas gunung api tersebut.

Di dunia jurnalistik foto, Arie Basuki bukan nama baru. Puluhan tahun bekerja di lapangan membuatnya dikenal sebagai salah satu pewarta foto senior di Indonesia. Ia telah mendokumentasikan berbagai peristiwa besar, mulai dari bencana alam, konflik, hingga persoalan sosial dan lingkungan.

Perjalanan panjang tersebut juga membawanya meraih sejumlah penghargaan nasional dan internasional. Salah satunya adalah World Press Photo 2024, penghargaan bergengsi yang diraihnya melalui karya tentang pencemaran Sungai Cileungsi.

Memulai Karier sebagai Pewarta Foto sejak 1998

Arie Basuki lahir di Bogor pada 11 Maret 1974. Ia merupakan alumnus Ilmu Antropologi Universitas Udayana, Bali.

Ketertarikannya terhadap fotografi jurnalistik membawanya memulai karier sebagai fotografer pada 1998. Sebelum bergabung dengan Merdeka.com, Arie pernah berkarya di sejumlah media, antara lain Nusa Tenggara Newspaper, Bali Echo, dan Tempo.

Arie kemudian bergabung dengan Merdeka.com sejak 2012. Di media tersebut, ia dikenal sebagai salah satu fotografer senior yang banyak menghabiskan waktunya di lapangan.

Rekan-rekannya mengenalnya dengan sejumlah panggilan, seperti Arbas, Bang Barong, maupun Honey. Dalam profil yang pernah dimuat Merdeka.com, Arie digambarkan sebagai sosok yang tidak banyak bicara dan lebih banyak bekerja melalui kameranya.

"Kopi hitam dong," menjadi jawaban khas Arie ketika ditanya minuman favoritnya. Kopi hitam, rokok kretek lintingan, dan kamera disebut sebagai tiga hal yang lekat dengan kesehariannya.

Berpengalaman Meliput Bencana dan Konflik

Karier Arie tidak hanya diisi dengan liputan peristiwa sehari-hari. Ia berulang kali berada di lokasi dengan risiko tinggi untuk merekam berbagai peristiwa penting.

Ia pernah meliput operasi militer Gerakan Aceh Merdeka di Aceh pada 2003, tsunami Aceh pada 2004, tsunami Pangandaran pada 2006, gempa Yogyakarta pada 2006, konflik Poso, kerusuhan di Priok, Jakarta Utara, hingga perang saudara di Libya pada 2011.

Dalam sebuah profil Merdeka.com, Arie menyebut tsunami Aceh 2004 dan perang saudara di Libya 2011 sebagai dua pengalaman yang paling berkesan selama perjalanan jurnalistiknya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan karakter fotografi Arie yang tidak sekadar mengejar gambar dramatis. World Press Photo mencatat pendekatannya sebagai pendekatan sosial-antropologis, dengan penekanan pada simpati dan empati untuk menangkap momen secara lebih mendalam.

Menang World Press Photo 2024

Salah satu pencapaian terbesar Arie datang pada 2024 ketika karyanya berjudul "Pollution in the Cileungsi River" mendapatkan honorable mention dalam World Press Photo 2024 untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania.

Foto tersebut dibuat di Curug Parigi, Kota Bekasi, Jawa Barat. Arie merekam seorang warga yang masuk ke Sungai Cileungsi untuk mengambil jaring ikan yang tersangkut.

Di dalam foto, warga tersebut terlihat berada di tengah air yang dipenuhi busa putih. Visual itu menjadi gambaran mengenai persoalan pencemaran sungai dan dampak aktivitas industri terhadap lingkungan serta masyarakat.

Karya tersebut berawal dari riset Arie mengenai persoalan layanan air bersih di Bekasi. Ia kemudian menemukan momentum ketika melihat seorang warga yang sedang mencari jaringnya di sungai.

Puluhan frame diambil dari kejadian tersebut. Arie kemudian memilih 10 foto terbaik untuk dikirimkan dalam kompetisi World Press Photo.

"Penghargaan terbaik karena tingkat kesulitan yang tinggi untuk bisa menembus World Press Photo, seleksi dari puluhan ribu foto dari ribuan fotografer terbaik seluruh dunia," kata Arie ketika berbicara mengenai penghargaan tersebut.

World Press Photo sendiri mencatat Arie sebagai fotojurnalis yang berbasis di Jakarta dan bekerja untuk Merdeka.com. Organisasi tersebut juga mencatat sejumlah penghargaan lain yang pernah diraihnya.

Bukan Penghargaan Internasional Pertamanya

World Press Photo bukan satu-satunya penghargaan yang menghiasi perjalanan Arie Basuki.

Dalam catatan World Press Photo, Arie sebelumnya meraih Anugerah Adiwarta 2007, Mochtar Lubis Award 2008, Nikon Indonesia Photo Journalism 2016, PFI Indonesian Photo Journalist Award 2019, Asian Press Photo Singapore 2022, serta Environment Photographer of the Year 2022.

Pada 2022, Arie bahkan menjadi pemenang kategori Vision of the Future dalam Environment Photographer of the Year melalui karya berjudul "Vertical Farming".

Karya tersebut memperlihatkan aktivitas pekerja yang merawat tanaman sayuran di fasilitas pertanian vertikal di Depok, Jawa Barat. Foto itu mengangkat gambaran mengenai teknologi pertanian dan kemungkinan masa depan produksi pangan.

Arie juga tercatat meraih posisi pertama Asian Press Photo 2022 dan posisi ketiga APEC Photo Contest 2022.

Tetap Turun ke Lapangan

Meski telah puluhan tahun bekerja sebagai fotografer, Arie tetap dikenal sebagai pewarta yang aktif turun langsung ke lapangan.

Pada 2026, namanya kembali mencatat prestasi nasional setelah foto "Perlawanan Emak di Demo DPR" meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025 untuk kategori foto. Penghargaan tersebut diumumkan pada Februari 2026.

Merdeka.com menyebut Arie sebagai salah satu fotografer paling senior di perusahaan tersebut. Ia telah bergabung sejak masa awal Merdeka.com dan selama perjalanan kariernya menjadi langganan penghargaan fotografi di dalam maupun luar negeri.

Pengalaman panjang itulah yang membuat Arie tidak asing dengan situasi sulit. Ia telah berhadapan dengan medan bencana, konflik bersenjata, persoalan sosial, hingga isu lingkungan.

Namun, kali ini kabar tentang dirinya datang dari situasi yang berbeda.

Hilang Saat Menjalankan Tugas di Anak Krakatau

Pada Senin (7/9/2026), Arie bersama empat pewarta foto lainnya berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan aktivitas gunung api.

Kelima pewarta foto tersebut adalah Arie Basuki dari Merdeka.com, M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan pewarta lepas.

Mereka berada dalam satu kapal bersama tiga kru, yakni Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu. Total terdapat delapan orang dalam rombongan yang hingga kini masih dalam pencarian.

Rombongan diketahui bertolak dari Dermaga Marina Lippo Carita, Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB. Kontak terakhir dengan rombongan diketahui terjadi ketika mereka berada di sekitar kawasan Anak Krakatau.

Hingga Rabu (9/9/2026), Basarnas bersama unsur gabungan masih melakukan pencarian. Sejumlah armada dikerahkan untuk menyisir perairan Selat Sunda dan rute menuju Anak Krakatau.

Merdeka.com juga terus berkoordinasi dengan Basarnas dan pihak terkait untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai proses pencarian Arie dan rombongan.

Pemimpin Redaksi Merdeka.com Wisnoe Moerti menegaskan keselamatan jurnalis menjadi prioritas utama dan meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai kondisi para jurnalis maupun proses pencarian.

Kini, dunia jurnalistik Indonesia menanti kabar tentang Arie Basuki dan tujuh orang lainnya.

Selama hampir tiga dekade, kamera Arie telah merekam begitu banyak kisah dari berbagai penjuru. Dari tsunami Aceh, konflik, bencana, persoalan lingkungan, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kali ini, perhatian tertuju kepada dirinya.

Semoga Arbas dan seluruh rombongan segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Editor : Hendra
Jurnalis Hilang Arie Basuki Merdeka.com World Press Photo gunung anak krakatau