JawaPos.com – Kemarau panjang mulai mengusik rantai pasok batu bara. Surutnya sejumlah sungai di Kalimantan membuat angkutan tongkang batu bara harus menyesuaikan muatan hingga jadwal keberangkatan.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) terus memantau dampak fenomena cuaca ekstrem tersebut terhadap operasional pertambangan di berbagai daerah.
Selain persoalan logistik, kemarau panjang juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air operasional dan meningkatkan risiko kebakaran di area tambang.
“Faktor cuaca ekstrem seperti kemarau panjang dapat menjadi tantangan bagi operasional pertambangan, khususnya aspek logistik, ketersediaan air operasional, serta pengendalian potensi kebakaran di area tambang,” ujar Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penurunan debit air sungai di sejumlah kawasan Kalimantan.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pengangkutan batu bara melalui jalur sungai.
“Jika kedalaman air berada di bawah batas normal, tongkang tidak bisa beroperasi secara optimal,” ucapnya.
Untuk menjaga kelancaran rantai pasokan, pelaku usaha tambang telah menyiapkan sejumlah skenario efisiensi logistik.
Langkah tersebut diperlukan agar gangguan akibat kondisi sungai tidak berujung pada tersendatnya distribusi batu bara.
Di sisi lain, perusahaan juga memperketat pemantauan potensi kebakaran di sekitar area tambang. Sistem pemantauan satelit dan patroli darat ditingkatkan untuk mendeteksi titik panas atau hotspot sedini mungkin.
Gangguan akibat surutnya sungai juga diungkapkan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung.
Menurut dia, kondisi tersebut telah mengganggu angkutan logistik batu bara di Kalimantan Timur karena tongkang pengangkut tidak dapat melintas secara normal.
“Itu saya cek kemarin di Kalimantan Timur, justru karena sungai mengering, tongkangnya gak bisa jalan,” ujarnya. (bry/dio)
Editor : HendraSumber : Jawa Pos Koran