JawaPos.com — Nama Menteri Agama Nasaruddin Umar kembali menjadi sorotan. Sehari menjelang pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), kabar mengenai pengunduran dirinya dari Kabinet Merah Putih berembus kencang.
Nasaruddin dikabarkan telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (26/8/2026). Langkah tersebut disebut berkaitan dengan rencananya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Namun, kabar tersebut belum sepenuhnya terang. Di tengah pemberitaan mengenai surat pengunduran diri, pihak dekat Nasaruddin justru menyebut isu tersebut sebagai hoaks. Karena itu, posisi Nasaruddin sebagai Menteri Agama masih menunggu kepastian dan pernyataan resmi dari Istana maupun Kementerian Agama.
Jika benar mundur, keputusan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan panjang Nasaruddin Umar. Guru besar bidang tafsir itu bukan sosok baru di lingkungan pemerintahan maupun NU.
Berawal dari Bone
Prof. KH Nasaruddin Umar, MA, lahir di Ujung Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1959. Ia tumbuh dari keluarga sederhana dan sejak kecil telah akrab dengan dunia pendidikan serta kehidupan pesantren.
Dalam kisah yang pernah dipublikasikan Kementerian Agama, Nasaruddin mengenang masa kecilnya sebagai anak desa yang sempat bercita-cita menjadi mantri. Ayahnya, Andi Muhammad Umar, merupakan seorang guru yang menanamkan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya.
Pendidikan kemudian menjadi jalan hidup Nasaruddin. Ia menempuh pendidikan di Pesantren As'adiyah Sengkang, sebelum melanjutkan studi di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Ujung Pandang.
Pendidikan tingginya berlanjut di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga meraih gelar doktor. Nasaruddin kemudian dikenal sebagai akademisi dan guru besar bidang tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jejak akademiknya juga membawanya ke sejumlah negara. Ia pernah memperoleh kesempatan belajar di McGill University, Kanada, menjadi visiting student di Leiden University, Belanda, serta menimba pengalaman akademik di Sorbonne, Prancis.
Dari Akademisi ke Pemerintahan
Karier Nasaruddin di pemerintahan tidak dimulai ketika ia ditunjuk sebagai Menteri Agama oleh Prabowo Subianto.
Sebelumnya, ia pernah dipercaya menjadi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama pada 2006-2012. Ia kemudian menjabat Wakil Menteri Agama pada 2011-2014.
Pengalaman tersebut membuat Nasaruddin sudah cukup lama bersentuhan dengan birokrasi Kementerian Agama sebelum akhirnya kembali ke kementerian itu sebagai menteri.
Di luar pemerintahan, kiprahnya juga cukup panjang. Nasaruddin dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan pernah menduduki sejumlah posisi di lingkungan NU maupun lembaga keagamaan lainnya.
Nama Nasaruddin akhirnya masuk dalam jajaran Kabinet Merah Putih. Presiden Prabowo Subianto menunjuknya sebagai Menteri Agama untuk menggantikan Yaqut Cholil Qoumas pada Oktober 2024. Penunjukan itu tidak terlalu mengejutkan karena Nasaruddin sebelumnya sudah dipanggil Prabowo ke kediamannya di Kertanegara.
Nama yang Muncul di Bursa Ketum PBNU
Di tengah perjalanan sebagai Menteri Agama, nama Nasaruddin kembali menguat di internal NU.
Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya menyebut Nasaruddin sebagai salah satu figur yang berpotensi maju dalam bursa Ketua Umum PBNU. Rekam jejak Nasaruddin di NU menjadi salah satu alasan namanya diperhitungkan. Ia pernah menduduki posisi Katib Aam PBNU.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, dorongan kepada Nasaruddin untuk maju juga semakin terbuka. Kepada NU Online, Nasaruddin mengakui adanya dorongan dari sejumlah senior dan sahabat agar dirinya bersedia maju.
Meski demikian, saat itu Nasaruddin mengatakan dirinya belum pernah mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU.
"Saya terus terang per hari ini belum pernah menyatakan deklarasi atau apa pun, tapi banyak senior, teman-teman, para suhu, baik para sahabat, sampai menyatakan begini: ketika Anda diminta NU lantas menolak, itu pertanda egois, itu zalim. Anda dibesarkan oleh NU, giliran NU meminta Anda, Anda mencari zona nyaman," kata Nasaruddin disitir dari situs Nahdlatul Ulama Online.
Situasi berubah ketika nama Nasaruddin semakin kuat dalam bursa kandidat. Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Jika benar pengunduran dirinya berkaitan dengan pencalonan tersebut, langkah Nasaruddin dapat dibaca sebagai upaya menghindari persoalan rangkap jabatan sekaligus membuka jalan untuk mengikuti kontestasi di organisasi yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
"Bagi saya berkesan. Jadi ketika kita diminta oleh para senior, oleh orang, maka kita sebagai kader harus bersedia. Tapi dengan catatan bahwa siapa pun nanti yang akan diterima muktamirin, maka kita harus menerima," ujarnya.
Sempat Diterpa Polemik Jet Pribadi
Nama Nasaruddin juga sempat terseret polemik fasilitas jet pribadi pada awal 2026.
Ia menggunakan jet pribadi milik Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) untuk perjalanan ke Sulawesi Selatan. Fasilitas tersebut kemudian dilaporkan Nasaruddin kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai dugaan gratifikasi.
Pada 23 Februari 2026, Nasaruddin mendatangi KPK untuk melaporkan penerimaan fasilitas tersebut.
KPK kemudian menyatakan pelaporan dilakukan dalam waktu kurang dari 30 hari kerja. Dengan demikian, ketentuan pidana dalam Pasal 12B UU Tipikor tidak berlaku terhadap penerimaan tersebut. KPK selanjutnya memberikan waktu kepada Nasaruddin untuk melengkapi laporan sebelum menentukan tindak lanjut atas fasilitas yang diterimanya.
Polemik lain juga sempat muncul setelah pernyataannya mengenai zakat menimbulkan kontroversi. Nasaruddin kemudian meminta maaf dan menegaskan bahwa zakat tetap merupakan kewajiban individual dan bagian dari rukun Islam.
Berbagai polemik tersebut membuat sosok Nasaruddin semakin sering berada di tengah sorotan publik. Namun, sejauh informasi yang terverifikasi, tidak ada dasar untuk menyebut Nasaruddin sebagai tersangka kasus korupsi. Bahkan klaim mengenai dirinya terjerat kasus korupsi telah dinyatakan sebagai informasi palsu oleh pemeriksa fakta pemerintah daerah Sulawesi Tengah.
Kini Berada di Persimpangan
Nasaruddin Umar kini berada pada salah satu titik paling menentukan dalam perjalanan kariernya.
Di satu sisi, ia merupakan Menteri Agama dalam pemerintahan Prabowo Subianto. Di sisi lain, namanya semakin kuat sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 NU.
Kabar pengunduran diri yang muncul pada Rabu (26/8/2026) membuat persimpangan tersebut semakin nyata.
Jika kabar tersebut terkonfirmasi, Nasaruddin akan meninggalkan kursi menteri yang telah dijabatnya sejak 2024 untuk kembali berkonsentrasi pada arena organisasi keagamaan yang membesarkan namanya.
Namun, sebelum keputusan resmi diumumkan, publik masih harus menunggu kepastian dari Istana dan Kementerian Agama mengenai status Nasaruddin.
Satu hal yang jelas, perjalanan Nasaruddin Umar dari seorang anak desa di Bone, akademisi, birokrat Kementerian Agama, Imam Besar Masjid Istiqlal, hingga Menteri Agama kini memasuki babak baru.
Dan babak berikutnya bisa jadi bukan lagi tentang kursi menteri, melainkan perebutan posisi tertinggi di tubuh PBNU.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Nasaruddin Umar ataupun Kementerian Agama.
Editor : HendraSumber : Kemenag, NU Online