JawaPos.com – Nada suara Chiki Fawzi, seniman sekaligus aktivis kemanusiaan, terdengar tegas dari seberang telepon. Sesekali suaranya bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena baru saja kembali merasakan gempa susulan.
Getaran kemarin cukup kuat. Sejumlah bangunan kembali rusak. Tiang-tiang di pinggir jalan dan plafon rumah berjatuhan.
“Barusan juga gempa lagi. Beberapa detik saja, tapi cukup membuat bangunan rontok. Tiang-tiang di pinggir jalan, plafon pada jatuh,” ujar Chiki.
Saat itu, Chiki berada di Dusun Ronting, wilayah dekat Waso, Manggarai Timur. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik penyaluran bantuan. Bersama tim Dompet Dhuafa, Chiki membawa berbagai kebutuhan mendesak. Mulai beras, minyak goreng, telur, sosis, hingga makanan kaleng siap santap.
Bantuan kesehatan juga dikirim. Termasuk ambulans yang didatangkan dari Ciputat serta kendaraan operasional bencana milik Disaster Management Center (DMC). Namun, bantuan yang datang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga.
“Belum cukup. Selalu butuh lebih banyak lagi,” katanya.
Chiki tidak banyak berbicara mengenai bantuan pemerintah. Baginya, yang terpenting saat ini adalah memastikan kebutuhan warga terpenuhi.
Tim kesehatan juga menemukan sejumlah keluhan. Di antaranya hipertensi dan sakit pinggang. Keluhan itu dialami warga yang harus berulang kali berlari mencari tempat aman setiap kali gempa terjadi.
Mayoritas warga yang masih tinggal di desa merupakan orang tua dan anak-anak.
“Karena generasi muda yang produktif sebagian besar merantau bekerja di Kupang,” kata Chiki.
Meski titik bencana tersebar, Chiki memilih bertahan di sekitar Ronting. Fokusnya membangun posko darurat dan mendampingi warga.
Tim Dompet Dhuafa juga telah menyebar ke sejumlah titik agar bantuan menjangkau lebih banyak warga terdampak. Gempa yang terus terjadi menjadi tantangan bagi para relawan. Namun, mereka tetap bergerak di tengah ketidakpastian.
Warga Masih Trauma
Hampir sepekan setelah gempa besar mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian warga masih bertahan di pengungsian. Mereka takut kembali ke rumah. Koordinator Penyelamatan dan Kedaruratan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Taufiq Hidayat mengatakan, warga masih trauma karena gempa susulan terus terjadi.
Saat ini, Taufiq bersama tim mengawal pembukaan dapur darurat di Mbay, Kabupaten Nagekeo. Dapur serupa juga dibangun di Riung, Kabupaten Ngada.
Total delapan dapur darurat telah dibangun. Setiap dapur rata-rata memproduksi 1.000 porsi makanan per hari untuk warga terdampak. Menurut Taufiq, kebutuhan makanan siap santap dan bahan pokok masih tinggi. Karena itu, dapur darurat dibangun di sekitar tenda-tenda pengungsian.
Kondisi rumah warga di sejumlah lokasi berbeda-beda. Ada yang rusak berat, sedang, ringan, hingga tidak mengalami kerusakan. Namun, warga memilih tetap berada di pengungsian karena merasa lebih aman.
“Masyarakat takut kembali ke rumah,” katanya.
Apalagi gempa susulan masih terjadi. Dalam sehari, tercatat tiga hingga empat kali gempa susulan. Beberapa di antaranya berkekuatan cukup besar, bahkan mencapai magnitudo 6.
Trauma warga semakin kuat setelah beredar kabar mengenai potensi tsunami. Banyak warga kemudian memilih mengungsi ke wilayah perbukitan.
Persoalan lain adalah terbatasnya pasokan sembako. Warung dan pasar belum kembali beroperasi. Pengiriman logistik juga terkendala jarak.
Bandara terdekat, seperti di Ende, belum beroperasi normal. Taufiq bahkan menempuh perjalanan sekitar sembilan jam dari Labuan Bajo melalui jalur darat untuk mencapai lokasi bencana.
Sementara itu, Ketua Baznas Sodik Mudjahid mengatakan kebutuhan mendesak warga meliputi makanan, layanan kesehatan, serta pendampingan bagi ibu dan anak.
Sodik mengatakan, Baznas telah menyalurkan bantuan sekitar Rp 6 miliar untuk penanganan gempa NTT. Sebagai pembanding, dalam penanganan bencana di Sumatera sebelumnya, total bantuan yang disalurkan mencapai Rp 60 miliar.
Indonesia Belum Butuh Bantuan Asing
Ucapan belasungkawa dan tawaran bantuan terus mengalir dari negara-negara sahabat. Namun, pemerintah Indonesia memastikan masih mampu menangani dampak bencana tersebut dengan kapasitas dan sumber daya nasional.
“Untuk saat ini, Pemerintah RI memfokuskan seluruh penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak dengan mengoptimalkan kapasitas serta sumber daya nasional yang kita miliki,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang di Jakarta, Kamis.
Sejumlah negara sebelumnya telah menyampaikan tawaran bantuan. Presiden Iran Masoud Pazeshkian, misalnya, menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Prabowo Subianto sekaligus menegaskan kesiapan Iran mengirimkan bantuan kemanusiaan dan medis.
“Dalam waktu yang sulit ini, sembari menyampaikan kesiapan kami mengirimkan bantuan kemanusiaan maupun medis, saya berdoa agar Allah SWT memberikan rahmat dan ampunan kepada korban meninggal, pemulihan yang cepat kepada mereka yang cedera, serta kesabaran dan kekuatan kepada korban selamat,” ujar Pazeshkian melalui pesan kepada Prabowo.
Tawaran bantuan juga datang dari pemerintah Tiongkok.
“Tiongkok bersedia memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ungkap Juru Bicara Kemlu Tiongkok Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing.
Ucapan belasungkawa turut disampaikan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong. Dia mengatakan turut bersedih atas bencana yang menimpa masyarakat di Flores, NTT.
“Kami turut berempati kepada rakyat Indonesia di masa sulit ini, dan kepada pihak berwenang serta petugas darurat yang bekerja tanpa lelah dalam upaya bantuan dan pemulihan,” ujarnya. (ygi/wan/mia/oni)
Editor : Hendra