JawaPos.com - Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sejumlah nama mulai diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Akademisi dan kader muda NU Muhammad Afifi menilai KH Marsudi Syuhud menjadi sosok yang paling relevan dengan kebutuhan NU saat ini, terutama dalam menjawab persoalan pemerataan ekonomi warga.
“Dengan kondisi NU saat ini, saya melihat bahwa hal pokok yang paling dibutuhkan adalah bagaimana NU dapat melakukan akses pemerataan di bidang ekonomi dan pemerataan kesejahteraan warga NU,” kata Afifi, Kamis (20/8/2026).
Menurut Afifi, KH Marsudi memiliki bekal yang kuat untuk menjawab kebutuhan tersebut. Latar belakang pendidikan ekonomi syariah, pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat, serta jaringan yang dimilikinya dinilai menjadi modal untuk mengembangkan ekonomi warga NU.
“Dalam hal ini, Kyai Marsudi memiliki gagasan yang tidak dimiliki oleh para calon ketua umum lainnya,” tuturnya.
Afifi menilai persoalan NU ke depan tidak cukup hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat lapisan bawah yang menjadi bagian besar dari warga NU.
Karena itu, menurut Afifi, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menyusun gagasan, tetapi juga memiliki pengalaman teoritik dan jaringan untuk menerjemahkannya menjadi program pemberdayaan.
“NU butuh tokoh yang betul-betul untuk menerjemahkan itu dan memiliki pengalaman pada sisi teoritik, lalu kemudian pengalaman pada sisi jaringan-jaringan, baik itu pengembangan pemberdayaan, dan seterusnya. Sosok itu ada di Kyai Marsudi, menurut saya,” ujarnya.
Keunggulan KH Marsudi, lanjut Afifi, tidak berhenti pada sektor ekonomi. Ia juga menilai rekam jejak Marsudi dalam pengembangan pendidikan menunjukkan kapasitas manajerial dan kemampuannya membangun jaringan.
Afifi menyebut, selama KH Marsudi menjadi Sekjen, terdapat 34 perguruan tinggi yang lahir. Sementara itu, jaringan perguruan tinggi NU kini disebut telah mencapai 258 perguruan tinggi.
Atas dasar itu, Afifi melihat KH Marsudi bukan sekadar calon yang menawarkan gagasan normatif. Ia menilai Marsudi memiliki pengalaman konkret yang dapat digunakan untuk melanjutkan program yang sudah berjalan sekaligus menggarap pekerjaan rumah NU yang belum terselesaikan.
Afifi menggunakan analogi kendaraan untuk menjelaskan pentingnya kesesuaian kapasitas calon dengan arah organisasi. Menurutnya, NU sebagai organisasi besar membutuhkan pemimpin yang memahami tujuan dan roadmap yang hendak ditempuh.
“NU itu adalah kendaraan. Supirnya itu yang memiliki lisensi apa, karena trayek yang akan ditempuh, roadmap-nya adalah berbeda. Apa roadmap yang akan ditempuh itu bagaimana membangkitkan ekonomi umat,” jelasnya.
“Persoalan yang perlu diselesaikan saat ini kan adalah bagaimana terkait dengan sisi ekonomi di lingkar nahdliyin ini bisa bertumbuh. Maka kita harus mencari supirnya, dan yang sangat cocok saat ini menurut saya adalah Kyai Marsudi,” imbuhnya.
Meski memberikan dukungan kuat, Afifi menilai kepemimpinan KH Marsudi nantinya tetap harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan. Program-program yang sudah berjalan dengan baik, seperti digitalisasi, penguatan mutu pendidikan, dan peningkatan layanan kesehatan, menurutnya perlu tetap dilanjutkan.
Afifi juga menekankan pentingnya hubungan yang kuat antara Ketua Umum dan Rais Aam PBNU.
Menurutnya, Ketua Umum sebagai unsur eksekutif harus memiliki komunikasi dan keselarasan yang kuat dengan Rais Aam agar program organisasi dapat berjalan secara efektif.
Editor : Hendra