Farizon Bidik Pasar EV Komersial, Potensi Kendaraan Niaga Masih Besar

M. Salsabil Adn • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:36 WIB
Farizon membidik pasar kendaraan listrik komersial di Indonesia. Diler pertama di Jawa Timur ditargetkan beroperasi akhir tahun ini. (Dok. Antara)
Farizon membidik pasar kendaraan listrik komersial di Indonesia. Diler pertama di Jawa Timur ditargetkan beroperasi akhir tahun ini. (Dok. Antara)

JawaPos.com - Demam kendaraan listrik (EV) mulai merambah segmen kendaraan niaga. Setelah pasar mobil listrik penumpang tumbuh pesat, pelaku industri kini membidik ceruk kendaraan komersial yang dinilai masih terbuka lebar.

Potensinya besar, terutama untuk kebutuhan logistik, distribusi, hingga operasional perusahaan.

Operational Manager Arista Jatim Yansen Tan mengatakan, perkembangan kendaraan listrik di Indonesia semakin pesat. Selama semester pertama tahun ini, sekitar 26,8 persen penjualan mobil nasional sudah berasal dari lini elektrifikasi.

”Kami melihat populasi EV di Indonesia terus meningkat. Namun, masih banyak segmen yang belum tergarap, salah satunya kendaraan komersial,” ujarnya di Surabaya kemarin (7/8).

Menurut Yansen, penetrasi EV selama ini masih didominasi kendaraan penumpang. Karena itu, Arista menghadirkan Farizon, merek kendaraan niaga listrik asal Tiongkok yang dikenal sebagai salah satu produsen EV komersial.

Melalui statusnya sebagai agen tunggal pemegang merek (ATPM), Arista ingin menawarkan solusi transportasi ramah lingkungan bagi pelaku usaha maupun instansi pemerintah. 

”Kami membawanya ke Indonesia untuk menghadirkan standar baru efisiensi di sektor kendaraan niaga,” katanya.

Dia mengakui karakter pasar kendaraan komersial berbeda dengan mobil penumpang. Konsumen lebih mengutamakan ketangguhan, biaya operasional, dan keandalan dibandingkan fitur-fitur hiburan.

Yansen menambahkan, harga kendaraan listrik yang masih lebih tinggi dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) memang menjadi tantangan. Namun, selisih tersebut dapat dikompensasi melalui efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang.

”Respons pasar mulai terlihat positif. Sejumlah perusahaan di Surabaya telah menguji coba SuperVan sebagai kendaraan operasional untuk antar-jemput karyawan,” tuturnya.

Meski belum menetapkan target penjualan khusus di Jawa Timur, Arista menilai potensi pasar sangat besar. Sebagai gambaran, penjualan mobil pikap konvensional di Jawa Timur mencapai sekitar 800 unit per bulan.

Untuk memperkuat penetrasi pasar, Arista menargetkan diler pertama Farizon di Jawa Timur mulai beroperasi pada akhir tahun ini dengan fokus awal di kota-kota besar. (bil/dio)

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Farizon Kendaraan Niaga EV Komersial