Jepang Gelontorkan USD 40 Miliar untuk Selamatkan Yen dari Pelemahan

Andrianto Wahyudiono • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:32 WIB
Jepang menggelontorkan USD 39,64 miliar untuk membeli yen pada April, menjadi intervensi pembelian yen terbesar sepanjang sejarah. (Dok. Japan Times)
Jepang menggelontorkan USD 39,64 miliar untuk membeli yen pada April, menjadi intervensi pembelian yen terbesar sepanjang sejarah. (Dok. Japan Times)

JawaPos.com - Jepang mengerahkan ”senjata” terbesarnya untuk membendung kejatuhan yen. Dalam sehari, pemerintah menggelontorkan sekitar USD 40 miliar dari cadangan devisa demi membeli mata uangnya sendiri. Nilainya menjadi intervensi pembelian yen terbesar sepanjang sejarah.

Data Kementerian Keuangan Jepang (MOF) yang dirilis (8/8) menunjukkan otoritas menghabiskan sekitar 6,28 triliun yen atau setara USD 39,64 miliar dalam operasi pembelian yen pada April lalu. Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 5,92 triliun yen yang tercatat pada 29 April 2024.

Meskipun demikian, langkah agresif itu belum mampu membalikkan tren pelemahan yen dalam jangka panjang. Mata uang Jepang kembali tertekan hingga menembus kisaran 158 yen per dolar AS, sehingga memicu spekulasi pasar mengenai kemungkinan intervensi lanjutan.

Reuters melaporkan, pelaku pasar masih bersiaga menunggu langkah berikutnya dari pemerintah Jepang. Terlebih, investor juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Selain itu, upaya mempertahankan nilai yen menjadi tantangan berat. Di satu sisi, masyarakat mengeluhkan tingginya inflasi yang menggerus daya beli.

Di sisi lain, Bank of Japan (BOJ) masih mempertahankan suku bunga rendah sehingga yen kurang menarik dibandingkan mata uang lain.

”Ini adalah situasi pelik yang mendorong Jepang menginginkan yen yang lebih kuat," kata profesor keuangan University of Michigan, Paolo Pasquariello, kepada ABC News.

Menurut sejumlah analis, Amerika Serikat juga berkepentingan melihat yen menguat. Dukungan terhadap yen dapat mengurangi kemungkinan Jepang menjual surat utang pemerintah AS yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Negeri Paman Sam.

Selain itu, yen yang lebih kuat membuat produk AS menjadi lebih terjangkau bagi konsumen Jepang. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu mengurangi defisit perdagangan Amerika Serikat dengan Jepang.

”Sisi lainnya, yen yang lebih kuat juga menguntungkan bagi Amerika Serikat,” ujar Pasquariello.

Data perdagangan menunjukkan ekspor AS ke Jepang tahun lalu mencapai USD 82,1 miliar, sedangkan impor dari Jepang mencapai USD 146 miliar.

Pakar Rutgers University Richard Michelfelder menilai pelemahan yen telah membuat harga produk Amerika menjadi dua kali lebih mahal bagi konsumen Jepang dibandingkan dua dekade lalu.

”Itu kondisi yang buruk karena Jepang kini semakin sedikit membeli produk Amerika. Padahal mereka merupakan salah satu ekonomi terbesar dan terkaya di dunia,” katanya. 

 

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Yen MOF jepang