Kisah Heroik Kru MV Meratus Pematang Siantar Selamatkan 110 Penyintas KMP Mutiara Sentosa 2

Tatang Mahardika • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 19:39 WIB
Kisah heroik kru MV Meratus Pematang Siantar menyelamatkan 110 penyintas KMP Mutiara Sentosa 2 yang terombang-ambing di Laut Madura. (Dok. Jawa Pos)
Kisah heroik kru MV Meratus Pematang Siantar menyelamatkan 110 penyintas KMP Mutiara Sentosa 2 yang terombang-ambing di Laut Madura. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Sembari membentangkan jala-jala dan tangga kapal, para kru MV Meratus Pematang Siantar terus meneriakkan penyemangat kepada para korban KMP Mutiara Sentosa 2 yang telah berjam-jam terombang-ambing. Dua jenazah yang ikut dievakuasi disemayamkan di tempat teraman selama perjalanan menuju Surabaya.

Ibarat tuan rumah yang kedatangan tamu, para kru MV Meratus Pematang Siantar mengeluarkan seluruh stok logistik untuk ratusan korban yang baru saja mereka evakuasi. Makanan, minuman, obat-obatan, pakaian, hingga selimut diberikan kepada para penyintas.

Khusus bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban terbakarnya KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Madura pada Minggu (2/8) pagi, perlindungan serta pemantauan kondisi kesehatan diberikan secara ekstra.

"Semuanya yang kami punya untuk mereka, apa pun itu," kata Capt. Anwar AR, kapten MV Meratus Pematang Siantar, kepada Jawa Pos kemarin (5/8).

MV Meratus Pematang Siantar menjadi kapal yang mengevakuasi penyintas terbanyak. Total 110 survivor berhasil diselamatkan. Sementara itu, dua penumpang lain dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.

Terhadap kedua jenazah tersebut, Anwar mengatakan bahwa kru memberikan penghormatan dengan menyemayamkannya di tempat paling aman di kapal.

"Sembari tentunya kami memanjatkan doa secara khusyuk sepanjang pelayaran," ujarnya.

Kejar Waktu Demi Menyelamatkan Korban

Pesan darurat diterima MV Meratus Pematang Siantar saat kapal sedang berlayar menuju Surabaya dari Wini, Nusa Tenggara Timur. Informasi yang diterima menyebutkan ada ratusan orang terombang-ambing di laut setelah kapal yang mereka tumpangi terbakar.

Tanpa ragu, Anwar memutar haluan kapal demi mengejar waktu. Saat itu, para korban diperkirakan sudah sekitar tiga jam bertahan di tengah laut sehingga kondisinya terus melemah.

Anwar juga segera menyebarkan informasi darurat melalui radio VHF Channel 16 serta meminta izin kepada manajemen untuk menjalankan operasi penyelamatan terhadap kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya menuju Makassar tersebut.

"Kantor Surabaya langsung menginstruksikan untuk menuju lokasi kejadian kebakaran dan proses evakuasi," tuturnya.

Sesampainya di lokasi, Anwar mengaku hatinya terguncang. Di hadapannya tampak ratusan orang terapung di laut, termasuk anak-anak. Sebagian besar terlihat sudah sangat kelelahan.

Di tengah cuaca yang kurang bersahabat, seluruh kru bergerak cepat membentangkan jala-jala, menurunkan tangga kapal, serta melemparkan pelampung dari sisi kanan dan kiri kapal. Dari atas geladak, mereka terus meneriakkan semangat kepada para korban.

"Sebab, kami melihat para korban sudah mulai kelelahan," katanya.

Abdul Karim, salah seorang penyintas, mengenang betapa leganya saat berhasil naik ke MV Meratus Pematang Siantar melalui tangga monyet dan tali penarik yang disiapkan kru.

"Perlakuan hangat serta bantuan pakaian dan makanan dari awak kapal tak ubahnya mukjizat bagi kami," ujarnya kepada Jawa Pos saat ditemui di Aula Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Walk the Talk

MV Meratus Pematang Siantar yang membawa para penyintas akhirnya tiba di Dermaga Jamrud, Pelabuhan Tanjung Perak, Senin (3/8) pukul 00.05 WIB. Keberanian dan ketulusan para awak kapal meninggalkan kesan mendalam bagi para korban selamat maupun keluarga mereka.

General Manager Crewing Meratus Group Arif B. Sayoga membenarkan bahwa manajemen langsung memberikan lampu hijau setelah menerima laporan dari kapten kapal.

Menurut Arif, nilai kemanusiaan selalu ditanamkan sebagai bagian dari prinsip integritas yang menjadi salah satu core value Meratus.

"Dalam kasus kecelakaan ini, para kru melakukan apa yang disebut walk the talk, konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Di setiap sesi pelatihan dan briefing, hal itu selalu ditekankan," katanya.

Dia menjelaskan bahwa dalam insiden tersebut MV Meratus Pematang Siantar menjalankan kewajiban untuk merespons panggilan darurat.

"Salah satunya dengan melakukan upaya terbaik dalam penyelamatan, namun tetap menjalankan prinsip keselamatan kapal," tambahnya.

Abdul Karim mengaku tak akan pernah melupakan tindakan kemanusiaan yang dilakukan seluruh awak kapal ketika dirinya dan ratusan penumpang lain sudah pasrah di tengah lautan.

"Kami sangat berterima kasih kepada nakhoda yang begitu berani merapat dan menyelamatkan kami setelah hampir tiga jam terombang-ambing di lautan," tuturnya. (Azami Ramadhan)

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Mutiara Sentosa 2 MV Meratus Pematang Siantar