Kredit Melonjak 24,4 Persen, Laba BNI Sentuh Rp10,8 Triliun

Muhtamimah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:58 WIB
Ilustrasi nasabah di BNI. BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Kredit tumbuh 24,4 persen dengan kualitas aset tetap terjaga. (Dok. Jawa Pos)
Ilustrasi nasabah di BNI. BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Kredit tumbuh 24,4 persen dengan kualitas aset tetap terjaga. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketatnya likuiditas perbankan dan ketidakpastian ekonomi global. Hingga semester I 2026, bank pelat merah tersebut membukukan laba bersih Rp10,8 triliun yang ditopang ekspansi kredit, pertumbuhan dana murah, serta peningkatan pendapatan berbasis bunga dan komisi.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, penyaluran kredit hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp968,5 triliun atau tumbuh 24,4 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Pertumbuhan tersebut berasal dari portofolio pembiayaan yang semakin beragam, mulai segmen korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.

"Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio," ujar Paolo kemarin (5/8).

Di sisi pendanaan, current account saving account (CASA) atau dana murah tumbuh 11,2 persen secara tahunan. Rasio CASA mampu dipertahankan di level 65,4 persen sehingga mendorong penurunan cost of fund menjadi 2,56 persen, lebih rendah dibandingkan 2,78 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja tersebut berdampak positif terhadap pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun. Pada saat yang sama, pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) juga tumbuh 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Menurut Paolo, kombinasi pertumbuhan dua sumber pendapatan tersebut mendorong pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama.

"Pertumbuhan yang solid dan seimbang dari kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan mencapai Rp18,5 triliun. Sementara laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun," katanya.

Dia menambahkan, peningkatan profitabilitas tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga didukung penguatan transaksi perbankan, layanan cash management, kanal digital, serta berbagai layanan berbasis komisi.

"Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," imbuhnya.

Di sisi kualitas aset, BNI terus memperkuat penerapan manajemen risiko secara hati-hati. Hingga Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,1 persen dari sebelumnya 11 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terjaga di level 1,9 persen.

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Bank Negara Indonesia bni kredit