Basarnas Hentikan Pencarian Korban KMP Mutiara Sentosa 2, Sopir Truk Dilaporkan Masih Hilang

Rizky Ahmad Fauzi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 12:21 WIB
Basarnas menghentikan pencarian korban KMP Mutiara Sentosa 2. Lima korban tewas akibat benturan, satu sopir masih dilaporkan hilang. (Puguh/Jawa Pos)
Basarnas menghentikan pencarian korban KMP Mutiara Sentosa 2. Lima korban tewas akibat benturan, satu sopir masih dilaporkan hilang. (Puguh/Jawa Pos)

JawaPos.com – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan operasi pencarian korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2, Selasa (4/8). Keputusan tersebut diambil setelah seluruh korban yang tercatat berhasil dievakuasi.

Berdasarkan hasil sinkronisasi data Basarnas, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta operator kapal, jumlah penumpang dan awak kapal (ABK) tercatat 238 orang. Rinciannya, 233 orang selamat dan lima meninggal dunia. Angka tersebut berbeda dengan manifes awal yang mencatat 272 penumpang dan ABK.

Meski demikian, masih ada pihak yang mengaku kehilangan rekan kerja yang diyakini berada di dalam kapal, tetapi tidak tercantum dalam manifes.

Salah satunya disampaikan Tarjo, pengurus gudang perusahaan ekspedisi di Surabaya. Dia mengatakan rekannya, Abdul Rahman, 51, hingga kini belum ditemukan.

"Saya memantau sejak hari pertama evakuasi sampai datang ke Posko Basarnas, tetapi nama rekan saya tetap tidak ada di daftar manifes," ujarnya, Selasa (4/8).

Tarjo memastikan Abdul Rahman berada di dalam kapal. Keluarga dan perusahaan, kata dia, memiliki bukti berupa tiket resmi, laporan pekerjaan, serta rekaman video yang memperlihatkan truk yang dikemudikan Abdul Rahman masuk ke dek kapal sebelum keberangkatan.

Karena itu, keluarga dan perusahaan meminta pencarian tetap dilanjutkan. Mereka juga telah menyerahkan seluruh bukti kepada posko terpadu.

Menanggapi laporan tersebut, Basarnas meminta keluarga yang masih kehilangan kerabat melapor ke posko untuk proses rekonsiliasi data.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan, seluruh penumpang dan ABK yang terdata telah berhasil dievakuasi.

"Apabila di kemudian hari ditemukan aduan yang valid mengenai korban yang belum terevakuasi, operasi SAR akan kembali dibuka," tegasnya.

Lima jenazah korban kini berada di Surabaya untuk proses identifikasi oleh Tim DVI Polda Jawa Timur. Sementara itu, armada SAR Surabaya tetap melakukan patroli rutin di sekitar lokasi kebakaran.

Korban Terus Membaik

Rumah Sakit PHC Surabaya masih merawat 10 penyintas kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2. Seluruh pasien telah dipindahkan dari instalasi gawat darurat (IGD) ke ruang rawat inap.

Hospital Director RS PHC Surabaya dr. Rony Kurniawan, M.Kes., FISQua mengatakan, total ada 11 korban yang sempat dirawat di IGD. Satu pasien diperbolehkan menjalani rawat jalan.

"Sebagian besar pasien mengeluhkan mual, muntah, vertigo, serta nyeri otot akibat berenang sekitar dua jam di laut dan benturan saat melompat dari kapal," ujarnya.

Menurut Rony, kondisi balita berusia dua tahun yang diselamatkan ayahnya saat melompat ke laut juga terus membaik. Anak tersebut sudah bisa makan dan minum serta tidak mengalami trauma fisik serius.

Tim medis masih melakukan observasi sebelum memutuskan pasien dapat dipulangkan dalam satu hingga dua hari ke depan.

Selain menangani cedera fisik, RS PHC juga memberikan pendampingan psikologis kepada para penyintas yang masih mengalami guncangan emosional.

"Psikolog kami libatkan untuk melakukan pendampingan dan pemantauan berkala," ujarnya.

RS PHC juga menyiagakan tambahan tempat tidur dan tenaga medis apabila sewaktu-waktu terdapat korban rujukan tambahan.

Korban Tewas Bukan karena Terbakar

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memastikan lima korban meninggal bukan akibat terbakar, melainkan karena benturan keras setelah melompat dari kapal yang sedang miring.

Dia menjelaskan, posisi anjungan kapal berada lebih dari tujuh meter di atas permukaan laut. Saat kapal miring akibat kebakaran, ketinggian lompatan penumpang diperkirakan melebihi 10 meter.

Menurut Syafii, para penumpang sempat terapung di laut sekitar dua jam sebelum kapal penolong tiba.

Proses evakuasi juga tidak mudah karena sebagian kapal penolong tidak memiliki akses yang sejajar dengan permukaan air. Akibatnya, banyak penyintas harus memanjat tangga tali dalam kondisi fisik yang sudah lemah.

Dia mengapresiasi kepatuhan penumpang dan ABK yang mengenakan jaket pelampung sesuai prosedur darurat sehingga memperbesar peluang untuk diselamatkan.

Syafii juga mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan bersama operator kapal, KMP Mutiara Sentosa 2 memiliki enam sekoci. Namun, hanya satu yang dinilai layak dan itu pun tidak dapat difungsikan saat keadaan darurat. (zam/leh/raf/oni)

Editor : Hendra
Sumber : Jawa Pos Koran
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Basarnas KMP Mutiara Sentosa 2