JawaPos.com – Penurunan investasi di industri baja menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Pelaku usaha mendesak pemerintah segera memperkuat kepastian regulasi dan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif agar ekspansi industri kembali bergulir.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi sektor besi dan baja pada kuartal II 2026 mencapai Rp13,2 triliun, turun 22,4 persen dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar Rp17 triliun.
Direktur Eksekutif The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan penurunan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah tekanan yang masih membayangi industri baja, baik dari faktor global maupun domestik.
Menurut Harry, kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) dunia, terutama dari Tiongkok, masih menjadi ancaman utama. Sementara di dalam negeri, investor masih menunggu kepastian regulasi dan iklim usaha yang lebih kondusif.
"Investor juga membutuhkan kepastian regulasi dan iklim usaha yang kondusif sebelum merealisasikan investasi baru," ujarnya di Jakarta, Senin (27/7).
Harry menjelaskan, prospek permintaan domestik dan tingkat utilisasi pabrik menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi. Saat ini, utilisasi industri baja nasional baru mencapai sekitar 52 persen.
"Selama kapasitas eksisting belum dapat dimanfaatkan secara optimal, investasi baru cenderung dilakukan secara lebih selektif," katanya.
Impor Murah dan Biaya Energi Jadi Tantangan
Selain utilisasi yang masih rendah, derasnya arus baja impor berharga murah juga terus menekan industri nasional. Produk asal Tiongkok membuat margin produsen domestik semakin tergerus sehingga kemampuan perusahaan untuk melakukan reinvestasi maupun ekspansi ikut melemah.
Di sisi lain, industri masih dibebani tingginya biaya energi, terutama gas bumi dan listrik, yang menjadi komponen terbesar dalam struktur biaya produksi. Fluktuasi harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian ekonomi global turut memperberat tekanan terhadap kinerja industri.
Untuk memulihkan minat investasi, IISIA meminta pemerintah menghadirkan kebijakan yang konsisten dan terintegrasi.
"Prioritas utama adalah menciptakan kepastian usaha sehingga pelaku industri memiliki keyakinan untuk melakukan investasi jangka panjang," tutur Harry.
Asosiasi juga mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap impor serta mengoptimalkan instrumen pengamanan perdagangan agar persaingan di pasar domestik berlangsung lebih sehat. Selain itu, pemerintah diminta menjamin pasokan gas bumi industri dengan harga yang kompetitif sehingga biaya produksi dapat ditekan.
Harry menilai peluang investasi pada semester II 2026 masih terbuka apabila permintaan domestik membaik, proyek-proyek infrastruktur kembali berjalan sesuai rencana, serta perlindungan terhadap pasar dalam negeri diperkuat.
"Sebaliknya, apabila tekanan impor dan rendahnya utilisasi masih berlanjut, investor kemungkinan masih akan bersikap wait and see sebelum merealisasikan investasi baru," pungkasnya.
Data Investasi Hilirisasi Besi dan Baja
| Periode | Nilai Investasi |
|---|---|
| Kuartal I 2025 | Rp12,02 triliun |
| Kuartal II 2025 | Rp9,47 triliun |
| Kuartal III 2025 | Rp9,53 triliun |
| Kuartal IV 2025 | Rp8,23 triliun |
| Kuartal I 2026 | Rp17 triliun |
| Kuartal II 2026 | Rp13,2 triliun |
Sumber: Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM
Editor : HendraSumber : Jawa Pos Koran