JawaPos.com - Lumpur Lapindo meluber dari sisi barat tanggul penampungan di Porong, Sidoarjo, (10/7). Luapan lumpur itu membuat warga khawatir akses di sekitar kawasan tanggul terganggu.
Sastro, salah seorang warga, mengatakan, lumpur mulai meluber pukul 5.15 kemarin. Dia mengaku khawatir melihat kondisi kolam penampungan yang penuh.
“Kalau ketakutan pasti ada, terutama bagi pengguna jalan,” katanya.
Petugas Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) langsung melakukan penanganan setelah menerima laporan. Titik luberan ditutup dan tanggul ditinggikan sekitar 50 sentimeter menggunakan material lumpur di sekitar lokasi. Pekerjaan dilakukan untuk mengarahkan kembali aliran lumpur ke dalam kolam penampungan.
Pelaksana Lapangan PPLS Fahmi Zamroni mengatakan, aliran lumpur dari pusat semburan saat ini lebih banyak bergerak ke sisi barat. Kondisi tersebut membuat beberapa titik tanggul mengalami pelemahan akibat penurunan tanah yang masih terjadi di kawasan semburan.
“Ini bukan karena tanggulnya tidak kuat, tetapi memang ada penurunan tanah yang masih terjadi,” jelasnya.
Penurunan Tanah
Berdasarkan penelitian Teknik Geodesi ITN Malang, kawasan Lumpur Lapindo masih mengalami penurunan tanah sekitar 21,7 milimeter per tahun. Untuk itu, kata Fahmi, pihaknya akan terus memantau perubahan kondisi tanggul agar aliran lumpur tetap terkendali.
Volume semburan lumpur, jelas Fahmi, saat ini berkisar 27 ribu hingga 32 ribu meter kubik per hari. Angka itu turun dibandingkan dengan awal semburan pada 2006 yang mencapai sekitar 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari.
Untuk mengurangi volume di kolam penampungan, PPLS mengoperasikan empat kapal keruk yang mengalirkan lumpur ke Kali Porong. Dia mengakui, ada pengurangan pembuangan lumpur ke Kali Porong akibat efisiensi anggaran yang cukup memengaruhi pengendalian lumpur.
Meski begitu, dia berupaya agar pengaliran lumpur tetap dilakukan sesuai kemampuan yang ada. Selain itu, PPLS juga bakal memperbarui pengukuran kapasitas kolam karena kondisi tanggul terus berubah akibat penurunan tanah.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjaga pengendalian lumpur ini,” ujarnya.
Kolam penampungan lumpur di Porong memiliki tanggul sepanjang sekitar 11 kilometer.
Saat dibangun, tanggul dirancang memiliki kapasitas tampung sekitar 44 juta meter kubik dengan elevasi 11 meter. Namun, penurunan tanah membuat elevasi tanggul di sejumlah titik berubah sehingga penguatan harus dilakukan secara berkala. (ful/ttg)
Editor : Hendra